*KARYA INI DI BUAT UNTUK DI NIKMATI*
*BUKAN UNTUK DI PLAGIASI*
2019 - Hari ini
#1 hope 12.09.2021
#1 hope 09.02.2022
#1 ingin 01.11.2021
#1 Alvin 07.01.2022
#1 Hyunjin 10.02.2022
#1 Masalah 24.02.2022
# 3 alone 08.12.2024
# 4 sick 18.11.2024
# 1 al...
Dokter masuk bersama seorang perawat yang mendorong kursi roda. Suasana kamar tenang, hanya terdengar suara mesin infus dan langkah kaki di lorong rumah sakit. Alvin tersenyum kecil saat dokter menyapanya, sementara Lisa berdiri di samping ranjang, siap mendampingi sang bungsu.
"Selamat pagi Alvin! Bagaimana kabarnya hari ini?" Tanya Dokter.
"Pagi dokter, Alvin hari ini baik panasnya sudah turun. Meskipun masih sedikit hangat" jawab Lisa, tersenyum ramah. Tangan menyentuh kening dan leher Alvin memastikan.
"Hari ini kita melakukan terapi berjalan, ya." Ucap Dokter.
"Iya" gumamnya.
Lorong rumah sakit terasa panjang, dengan dinding putih dan aroma antiseptik yang khas. Perawat mendorong kursi roda perlahan, Lisa berjalan di sisi Alvin, sesekali menepuk bahunya. Dokter berjalan di depan, membuka pintu ruang terapi yang sudah menjadi tempat rutin Alvin berlatih.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ruang terapi terang, tidak terlalu banyak orang karena masih pagi. Sedikit membuatnya nyaman. Terapis sudah menunggu, menyambut Alvin dengan senyum hangat.
“Selamat datang kembali, Alvin. Hari ini istimewa. Kamu akan belajar berjalan sendiri tanpa bantuan siapa pun.” Terapis menyambut Alvin.
“Sendiri?” Alvin menelan ludah, gugup.
"Tidak usah takut. Kita bisa melakukan secara perlahan" Terapis menenangkan.
Dokter memegang clipboard, mencatat denyut jantung Alvin yang sedikit meningkat.Terapis berdiri di samping, siap memberi arahan. Lisa duduk di kursi dekat dinding, matanya berkaca-kaca, menahan haru melihat sang bungsu bersiap melangkah sendiri untuk pertama kalinya.
“Alvin, kita mulai dengan langkah kecil. Fokus pada keseimbangan. Tarik napas perlahan, jangan terburu-buru.”
Alvin mengangkat kaki kanan, melangkah ke depan. Tubuhnya bergetar, namun ia berhasil menapak dengan mantap. Tangannya bergerak lebih stabil, tidak lagi bergetar seperti sebelumnya.
“Baik, berdiri perlahan. Tarik napas, rasakan lantai menopang. Angkat kaki kanan, lalu kiri. Jangan terburu-buru.” Terapis memberi arahan.
Alvin mengangguk, wajahnya tegang. Ia mengangkat kaki kanan, melangkah ke depan. Tubuhnya bergetar, namun ia berhasil menapak dengan mantap.
“Bagus sekali. Sekarang lanjutkan dengan kaki kiri. Rasakan ritme tubuhmu.”
Alvin melangkah lagi, kali ini lebih percaya diri. Tangannya bergerak sedikit lebih gesit, seolah tubuhnya mulai menemukan keseimbangan alami. Ia berjalan dua langkah menjauh dari kursi roda. Disampingnya terapis tidak memberikan beberapa arahan.
Lisa menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Alvin menoleh sebentar, menatap ibunya, lalu tersenyum kecil.