Bau antiseptik masih terasa. Namun, lebih hangat dan tenang dibandingkan ICU. Lisa duduk di kursi besi di samping ranjang. Tangannya menggenggam baskom berisi air hangat. Dengan hati-hati, ia membasuh tubuh Alvin, mengusap wajah pucat itu, membersihkan tangan dan kaki yang kaku. Setiap gerakan terasa seperti doa yang dipanjatkan dalam diam.
Pasien pasca koma sering mengalami muscle wasting atau pengecilan massa otot akibat imobilisasi. Alvin adalah contoh nyata dari itu. Dokter menjelaskan bahwa tubuhnya butuh waktu lama untuk kembali pulih, dan perawatan intensif adalah kunci.
Otot-otot mengecil akibat lama berbaring, pipinya cekung, dan kulitnya pucat. Dokter mencatat atrofi otot karena imobilisasi panjang, nutrisi terbatas selama koma, serta metabolisme tubuh yang terus bekerja meski pasien tidak sadar.
Nutrisi yang masuk lewat infus memang menjaga fungsi vital, tapi tidak cukup untuk mempertahankan massa otot. Seakan waktu tiga bulan telah mengikis kekuatan hidupnya.
Suara mesin monitor yang berdetak pelan. Menunjukkan saturasi oksigen stabil dengan napasnya pendek, dadanya terasa berat. Meskipun memakai bantuan oksigen dari nascal canul rasa sesak masih terasa.
Bekas oprasi di area dada sebelah kanan akibat dua tulang rusuk yang pernah patah, kini diperkuat dengan titanium plates dan screws, membuat setiap tarikan napas dalam terasa kaku. Luka operasi sudah mengering, tetapi jaringan parut di dalam masih menekan otot pernapasan.
"Bunda"
Hanya suara panggilan yang pelan, membuat hatinya sedikit tenang di antara badai keresahan. Lisa tersenyum kecut, air matanya jatuh. Kata itu adalah satu-satunya jembatan yang tersisa antara dunia Alvin dan dirinya.
Tidak sedetikpun Lisa menjauh dari hadapan Alvin, kini ia memulai dari awal dimana kehadirannya yang selalu Alvin lihat. Ia menjadi sosok Bunda yang nyata akan kehadirannya, menemani perkembangan sang bungsu.
Lisa dengan keteguhan hati sabar mengurus semua keperluan Alvin. Sebisa mungkin bila kedua tangannya masih mampu melakukan, ia tidak melibatkan perawat hanya untuk membasuh tubuh Alvin setiap pagi. Menggantikan bajunya dengan lembut tanpa membuat tubuh Alvin merasa sakit akan guncangan. Meskipun terkadang ringisan kecil terdengar.
"Akhh.. sstt"
"Ada yang sakit, Nak? Maaf bunda kurang pelan ya.."
Lisa selalu melayangkan pertanyaan agar membuat Alvin lebih nyaman, meskipun jarang menjawab pertanyaannya. Pintu kamar terbuka, perawat masuk membawa nampan berisi bubur lembut.
“Bu Lisa, ini sarapan pagi untuk Alvin. Mari kita coba sedikit demi sedikit,” ucapnya ramah. Lisa menerima mangkuk itu, lalu duduk di sisi ranjang, menyendok bubur perlahan.
"Sedikit saja, ya. Bunda akan suapi” bisiknya sambil menyuapkan bubur ke bibir Alvin.
Alvin membuka mulut dengan ragu, menelan perlahan. Lisa menatapnya penuh haru, seakan setiap suapan adalah kemenangan kecil.
Sebisa mungkin makanan yang di siapkan harus masuk ke tubuh Alvin meskipun memakan waktu cukup lama. Ia menghindari terjadinya makanan yang tersedak, bila itu terjadi tidak hanya perih yang Alvin rasakan tetapi area dada sebelah kanan bekas oprasi tulang rusuknya juga akan terguncang.
"Kenapa? Makanannya enakkan? Menunya masih sama ko enggak ganti-ganti" Tanya Lisa karena melihat respon Alvin yang mengerutkan sedikit keningnya, saat suapan pertama masuk kedalam mulutnya.
"Makannya pelan-pelan aja, asal Alvin habisin sarapannya. Enggakpapa lama yang penting habis."
Ucap Lisa tersenyum menatap wajah Alvin, sedangkan yang di tatap fokus pada televisi yang menyala di ruang rawat. Alvin jarang merespon untuk sekedarkan mengeluarkan suara, hanya panggilan saja itupun dapat di itung jari.
KAMU SEDANG MEMBACA
ALvIn
Teen Fiction*KARYA INI DI BUAT UNTUK DI NIKMATI* *BUKAN UNTUK DI PLAGIASI* 2019 - Hari ini #1 hope 12.09.2021 #1 hope 09.02.2022 #1 ingin 01.11.2021 #1 Alvin 07.01.2022 #1 Hyunjin 10.02.2022 #1 Masalah 24.02.2022 # 3 alone 08.12.2024 # 4 sick 18.11.2024 # 1 al...
