|78|

275 44 5
                                        

Terkadang rasa takut masih bersemayam di tubuhnya saat mata itu terpejam. Tubuhnya memberikan sinyal lelah untuk beristirahat, tetapi pikirannya tidak sejalan dengan keinginan. Dimana genggaman itu tidak terasa hangat, suara lembut itu terganti keheningan. Tidak ada kata nyaman dan tenang dalam lelapnya.

Ketika pagi menjelang matanya terbuka, menampilkan Lisa yang tersenyum membangunkan dengan suara lembut. Menjadi ketenangan yang tidak terkalahkan setelah lelap yang ia takutkan. Bahwa Lisa ada di hadapannya selalu ada.

"Sarapan dulu ya.. sebelum nanti kita terapi, harus diisi dulu biar banyak tenaga. Sebentar Bunda cuci tangan dulu" ucap Lisa meninggalkannya.

Makanan setiap harinya bertambah beberapa macam dari biasanya. Alvin yang melihatnya saja sudah kenyang duluan. Tetapi entah kenapa saat sang Bunda dengan telaten menyuapinya semua makanan yang banyak ini habis.

Kedua tangan yang berada di bawah meja itu ia gerakkan pelan. Tangan sebelah kiri sudah mulai terangkat sedikit keatas. Tetapi tangan kanannya menolak di gerakan, menimbulkan denyut sakit yang menjalar cepat sampai kepunggung area dada sebelah kanan. Alvin meringis tertahan dengan deru nafas yang kasar terdengar.

Setelah sakitnya mereda beberapa saat, nafasnya sedikit demi sedikit stabil ia memberanikan untuk menggerakan tangan kirinya. Bergerak pelan keatas dengan masih bergetar, sedikit menahan nafas menahan takut akan rasa sakit kembali seperti tadi.

Alvin tersenyum bangga. Saat tangan kirinya itu kini telah berada tepat di meja makan dekat sendok. Ia menggesernya pelan sampai pada gagang sendok yang terasa dingin dikulit tangannya.

Alvin menarik nafasnya, ia tersenyum semangat dengan kemajuan akan tubuhnya yang kini lebih baik dari pertama kali bangun seperti robot. Ia memberikan sedikit tenaga untuk bisa mengenggam gagang sendok itu, dan tentu saja genggamannya masih lemah tetapi ia bisa.

"Alvin" panggil Lisa.

Sendok itu terjatuh dari jari-jari lemahnya terbentur ke mangkuk kaca yang berada di dekatnya.

"Akh.. ssstt"

Alvin meringis memejamkan mata dengan punggung disandarkan kebelakang. Tangan kirinya menjauh dari meja kembali bergetar ia sembunyikan di bawah. Suara panggilan Lisa terlalu tiba-tiba dan sejak kapan sang Bunda ada didekatnya.

"Sakit? Mana yang sakit? Maaf-maaf Bunda ngagetin ya"

Lisa khawatir mendekat mengusap punggung Alvin yang bergetar, menahan sakit karena keterkejutan sehingga melakukan gerakan yang tiba-tiba pada otot-otot yang masih dalam masa terapi.

"Maaf ya.." Lisa masih menatap khawatir Alvin yang memejamkan mata, sedang mengatur nafas.

"Mau coba lagi genggam sendoknya? Ayo boleh ko, bunda bantu" tawar Lisa. Tetapi tidak ada jawaban dari Alvin yang masih terus meringis memejamkan mata.

"Kenapa? Apa masih sakit? Bunda panggil dokter kalau gitu, Alvin tunggu sebentar ya" Khawatir Lisa berdiri berjalan keluar akan meninggalkan Alvin, berhenti ketika mendengar panggilan suara yang mulai berani terdengar jelas di telinganya.

"Bunda"

Alvin memanggilnya cukup kencang, tentu saja Lisa menoleh tersenyum manis mendengar kemajuan ini. Alvin yang di tatap kembali menggerakkan tangan kirinya, menunjuk makanan yang telah tersaji. Wajahnya menunduk menatap makanan tetapi kembali menatap kearah Lisa.

"Bener, Alvin baik-baik aja?" Hanya di balas anggukan. "Kalau gitu kita mulai makannya aja ya, bentar lagi terapi" Lisa kembali berjalan duduk di kurai dekat ranjang rawat Alvin.

"Mau genggam sendoknya lagi?" Alvin mengangguk menatap Lisa. Dengan perlahan sang Bunda menarik tangan sebelah kananya yang masih kaku.

"Bunda"

ALvInTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang