|80|

295 46 8
                                        

Alvin baru saja terbangun dari tidurnya, napasnya masih teratur namun lemah, tersalurkan melalui nasal cannula yang kembali terpasang di hidungnya. Sisa kelelahan dari sesi terapi sebelumnya masih terasa jelas otot-otot tubuhnya seakan berat, dan dada kanannya sesekali berdenyut halus, mengingatkan pada luka operasi di tulang rusuk yang belum sepenuhnya pulih. Ruang rawat itu sunyi, hanya suara mesin monitor yang berulang pelan menemani.

Matanya perlahan terbuka, menatap sekeliling kamar yang sudah akrab baginya. Namun kali ini ada sesuatu yang berbeda tak terlihat sosok sang bunda yang biasanya setia duduk di kursi samping ranjang, menemaninya dengan tatapan penuh kasih.

Yang tampak hanyalah Raka, sang abang sulung, berdiri tegak di dekat jendela. Raka menoleh, lalu tersenyum tipis, mencoba menyembunyikan rasa khawatir yang terlukis di wajahnya.

Alvin merasakan kehangatan kehadiran sang kakak, tetapi juga kekosongan yang ditinggalkan oleh absennya sang ibu. Hatinya bergetar, antara lega karena tidak sendiri, dan rindu akan pelukan lembut yang biasanya menenangkan setiap rasa sakit.

Dalam keheningan itu, Alvin hanya bisa menarik napas perlahan melalui cannula, menatap Raka seakan mencari jawaban, sementara bayangan bunda tetap hadir di benaknya meski tak ada di ruangan.

"Nyari Bunda? Pulang dulu Bundanya"

Jelas Raka, selalu tahu apa yang ia butuhkan. Alvin terdiam cukup lama. Tatapan beralih pada air minum dekat nakas, tenggorokannya kering ia butuh minum.

"Abang Raka" panggil Alvin.

"Mimum?" Tawar Raka, tepat sesuai kebutuhannya.

"Emm"

Alvin duduk lemah di ranjang ruang rawatnya, nasal cannula masih terpasang menyalurkan oksigen lembut ke paru-parunya. Raka, sang abang sulung, berada di sampingnya, menyiapkan segelas air untuk membantu Alvin melembapkan tenggorokannya yang kering.

Dengan hati-hati, Raka menyokong tubuh Alvin agar sedikit tegak, lalu menyodorkan gelas itu ke bibirnya. Namun tepat saat air mulai masuk ke tenggorokan, pintu ruang rawat terbuka mendadak.

"Siang Alvin!"

Dava, adik kedua, masuk dengan langkah cepat dan suara lantang memanggil nama Alvin. Suara yang tiba-tiba itu mengejutkan Alvin, membuat ritme napasnya terganggu.

"Uhhuk! uhhuk! uhhuk!"

Air yang baru saja diminum tersedak, memicu batuk keras yang mengguncang dada kanannya. Rasa nyeri dari bekas operasi di tulang rusuk kanan seakan menusuk lebih tajam, membuat Alvin meringis dan tubuhnya bergetar. Raka segera bereaksi, menepuk punggung Alvin dengan lembut sambil menahan gelas agar tidak tumpah.

"Pelan, Vin... tarik napas pelan," ucapnya dengan nada cemas namun terkontrol.

Dava yang baru saja masuk langsung terdiam, wajahnya berubah panik melihat Alvin batuk tersengal. Ia melangkah mendekat, namun Raka memberi isyarat dengan tangan agar Dava menahan diri dan tidak menambah kegaduhan.

Batuk Alvin perlahan mereda, meski matanya berair dan napasnya masih tersengal melalui cannula. Suasana ruang rawat berubah tegang, seakan waktu berhenti sejenak. Raka menatap Alvin dengan penuh perhatian, sementara Dava berdiri kaku, merasa bersalah karena masuk dengan suara keras.

"Dava! Bisakan pelan aja" tegur Raka.

Kedua tangan Raka dengan gesit menarik lembaran tisu. Mengusap area yang basah terkena air. Alvin memejamkan mata erat. Setiap tarikan nafasnya terasa perih akibat air yang masuk tiba-tiba. Ia membuka mulutnya bernafas melalui hidung, mencoba untuk tenang dengan degup jantung yang meningkat.

ALvInTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang