Tiada usaha tanpa hasil yang sia-sia. Tubuh yang penuh dengan alat penunjang hidup perlahan mulai dilepas. Alvin masih lemah tetapi tubuhnya sudah mampu bertahan tanpa alat bantu. Terapi yang dilakukan membuahkan hasil bagi tubuh Alvin yang mulai beradaptasi lebih baik. Lisa menjadi motivasi terbesar baginya. Seperti tidak ada kata lelah bagi sang Bunda.
Pagi ini, Dokter serta fisioterapis sudah mendampinginya untuk melakukan terapi. Alvin perlahan menggeser tubuhnya, tangan kiri menopang di sisi ranjang. Tangan kanan bergetar, rasa nyeri menjalar ke dada. Napasnya terputus-putus, wajahnya meringis. Alvin berhasil duduk tegak meski tubuhnya masih goyah. Monitor menunjukkan denyut jantung naik, tanda tubuhnya bekerja keras.
“Alvin, kita mulai dengan perlahan. Turunkan kaki ke lantai, rasakan pijakan. Jangan terburu-buru.” Ucap Fisioterapi.
Alvin mencoba menurunkan kakinya ke lantai, wajahnya meringis. Fisioterapi berada didekatnya menopang bahu kanan serta menahan lengan kiri. Otot paha menegang, tubuh bergetar. Saat ia berusaha berdiri, rasa sakit menusuk dada kanan, membuatnya mengerang pelan. Lisa refleks menahan lengannya, matanya berkaca-kaca melihat perjuangan itu.
“Bagus. Tarik napas dalam, biarkan oksigen membantu meredakan nyeri. Fokus pada pergerakan, bukan pada rasa sakit.” ucap Fisioterapis.
“Bunda di sini, jangan takut jatuh.” ucap Lisa duduk di sofa memberi sebuah semangat senyuman hangat.
Alvin berdiri tegak di bantu fisioterapis, tubuh itu bergetar beberapa kali.
“Sekarang alihkan berat badan ke kaki kanan. Rasakan otot paha dan perut bekerja. Jangan menahan napas.” ucap Fisioterapis
Alvin mencoba, wajahnya menegang. Nyeri berdenyut di dada, napasnya sedikit terputus.
“Bagus sekali. Sekarang pindahkan perlahan ke kaki kiri. Biarkan tubuhmu menemukan keseimbangan. Ingat, ini bukan tentang cepat, tapi tentang stabil.” Fisioterapis
Alvin bergeser, tubuhnya bergetar lebih kuat. Monitor menunjukkan denyut jantung meningkat.
“Denyut jantung naik, tapi masih aman. Tarik napas dalam, lepaskan perlahan. Rasakan tubuhmu berdiri di atas kedua kaki.” Fisioterapis menenangkan.
Alvin akhirnya berdiri, meski hanya beberapa detik. Tubuhnya gemetar, napasnya berat, namun ada secercah kemenangan di wajahnya.
“Sedikit lagi, Nak. Jangan menyerah.” Ucap Lisa memberi semangat.
“Fokus pada napas. Jangan biarkan rasa sakit menguasai." Ucap Fisioterapis menenangkan Alvin, mencobanya untuk menahan tubuh itu lebih lama berdiri.
"Bagus sekali. Kau sudah berdiri dengan keseimbangan. Hari ini kita berhenti di sini. Tubuhmu butuh istirahat.” Fisioterapis menepuk bahu Alvin, membantunya untuk kembali keranjang rawatnya.
Dokter mendekat, memeriksa pernapasan Alvin dengan stetoskop. Ia kemudian memasang nasal cannula. Oksigen mengalir lembut, membuat napas Alvin lebih teratur.
“Dengan oksigen ini, pernapasan akan lebih ringan. Jangan khawatir, kondisi vitalnya stabil.” Ucap Dokter.
Ruang rawat Alvin kini menjadi saksi tahap baru pemulihannya. Setelah berhasil duduk dan berdiri dengan bantuan, dokter dan fisioterapis menyiapkan program rehabilitasi untuk belajar berjalan. Monitor tetap terhubung, menampilkan denyut jantung yang stabil meski kadang meningkat saat rasa nyeri muncul.
Lisa berdiri di sisi ranjang, matanya penuh harapan. Ia tahu setiap langkah Alvin adalah perjuangan melawan rasa sakit yang masih menghantui. Tangannya terulur mengusap pundak yang masih sedikit bergetar menahan sakit setiap tarikan nafasnya. Dengan lembut mengusap keringat yang sudah membanjiri kening Alvin.
KAMU SEDANG MEMBACA
ALvIn
Fiksi Remaja*KARYA INI DI BUAT UNTUK DI NIKMATI* *BUKAN UNTUK DI PLAGIASI* 2019 - Hari ini #1 hope 12.09.2021 #1 hope 09.02.2022 #1 ingin 01.11.2021 #1 Alvin 07.01.2022 #1 Hyunjin 10.02.2022 #1 Masalah 24.02.2022 # 3 alone 08.12.2024 # 4 sick 18.11.2024 # 1 al...
