Bagi orang lain, malam adalah waktu beristirahat. Namun bagi Langga, malam justru menjadi kesempatan berharga. Kesempatan untuk menebus kesalahan, meski hanya dengan berdiri di balik kaca ruang rawat anak bungsunya, Alvin.
Langga mengenakan jaket kulit hitam tebal, jauh dari jas dan dasi yang biasa ia kenakan di siang hari. Senyumnya tertuju pada sebuah note book besar yang ia bawa, berisi tulisan dan gambar yang ia siapkan untuk Alvin.
Ia membuka pintu kamar Raka, sang sulung, hanya sedikit mengintip. Raka sudah tertidur, dan Langga tahu anak itu mudah terbangun bila ada suara. Ia menutup kembali pintu dengan hati-hati.
Di kamar sebelah, Dava terlelap. Langga memberanikan diri masuk, mendekat, lalu berbisik lirih.
"Doakan ayah, Nak… semoga Alvin mau memaafkan ayah. Meski hanya melihatnya dari kaca, ayah sudah bersyukur."
Dava bergumam tidak jelas, membuat Langga tertawa kecil. Ia mencium kening Dava, lalu keluar dengan hati yang lebih ringan.
Di tangga, ia berpapasan dengan saudara kembarnya, Lingga. Melihat Langga membawa note book besar, Lingga menatap penuh tanya.
"Kau masih saja begini, Langga. Seperti tahanan rumah, selalu diawasi Ayah dan Malik." Ucap Lingga, memegang sebuah gelas berisikan air putih.
"Aku tahu… tapi aku tidak bisa berhenti. Alvin butuh tahu ayahnya ada, meski hanya dari balik kaca." Ucap Langga.
"Raut wajahmu masih penuh penyesalan, tapi malam ini… aku lihat ada warna berbeda." Lingga penuh selidik.
"Aku ingin Alvin melihat senyum ini. Walau hanya sebentar, walau hanya dari jauh." Langga penuh harap.
Malik, sang asisten sekaligus supir, mengantar Langga. Lorong rumah sakit terasa panjang, sunyi, dan dingin. Jam menunjukan pukul satu dini hari.
Langga berdiri di depan pintu ruang Alvin. Senyumnya perlahan pudar ketika melihat kondisi di dalam. Alvin kembali drop, tubuhnya demam. Dokter dan perawat sibuk memeriksa, Lisa duduk di sisi ranjang, wajahnya penuh cemas.
Langga menggenggam erat note book putih yang ia bawa. Matanya berkaca-kaca, ingin sekali masuk, namun perjanjian dengan Lisa menjadi penghalang. Ia hanya bisa menatap khawatir dari balik kaca.
"Bagaimana kondisi Alvin, Dok?" Langga segera bertanya dengan suara bergetar.
"Demamnya karena imun tubuhnya belum stabil. Terapi intens setiap hari membuat tubuhnya lelah. Tidak ada hubungannya dengan tukak lambung atau operasi tulang rusuknya. Ini hanya proses pemulihan." Ucap Dokter.
"Jadi… hanya karena tubuhnya belum kuat?" Langga menunduk, suaranya lirih.
"Benar. Yang ia butuhkan sekarang adalah waktu, ketenangan, dan dukungan." ucap Dokter.
Langga terdiam. Note book yang tadinya ia bawa dengan penuh harapan kini terasa berat. Ia duduk sebentar, lalu berdiri lagi, menempelkan dahinya ke kaca.
Di ruang rawat itu, Alvin terbaring lemah. Wajahnya pucat, mata sayu, keringat dingin membasahi pelipis. Plester penurun demam menempel di dahinya, seakan menjadi saksi betapa rapuh tubuh kecil itu melawan rasa sakit. Lisa, sang bunda, mendekap erat Alvin, seolah ingin memeluk semua rasa sakit anaknya agar berpindah ke dirinya.
Beberapa kali Alvin bergumam tidak jelas, membuat Lisa khawatir. Dokter telah memberikan obat, di suntikan pada infusan di tangan Alvin.
"Engghh.. hiks.. hiks.. Bunda."
"Bunda disini, Nak." Ucap Lisa.
Alvin menangis dalam tidurnya yang tidak tenang. Kepalanya berbalik kekanan dan kekiri mencari kenyamanan. Lisa berada di sampingnya mendekap tubuh yang resah itu. Tangannya mengusap helaian lepek rambut Alvin. Menyisirnya setiap helaian rambut kebelakang, terakadang memijatnya pelan. Apapun Lisa lakukan agar membuat sang Bungsu malam ini nyaman tertidur.
KAMU SEDANG MEMBACA
ALvIn
Genç Kurgu*KARYA INI DI BUAT UNTUK DI NIKMATI* *BUKAN UNTUK DI PLAGIASI* 2019 - Hari ini #1 hope 12.09.2021 #1 hope 09.02.2022 #1 ingin 01.11.2021 #1 Alvin 07.01.2022 #1 Hyunjin 10.02.2022 #1 Masalah 24.02.2022 # 3 alone 08.12.2024 # 4 sick 18.11.2024 # 1 al...
