Jika ada seseorang yang mengatakan bahwa hari pernikahan adalah hari paling membahagiakan dalam hidup seseorang, maka Jennie ingin mengajukan revisi.
Hari pernikahan adalah hari paling melelahkan dalam hidup seseorang.
Setidaknya itu kesimpulan yang ia peroleh setelah hampir dua belas jam ditarik ke sana kemari dari satu sesi ke sesi berikutnya seperti anak baru yang sedang diperkenalkan kepada semua orang.
Foto bersama keluarga.
Foto bersama keluarga besar.
Foto bersama kolega bisnis.
Foto bersama kerabat yang bahkan tidak ia kenal.
Lalu makan malam.
Lalu sambutan.
Lalu percakapan-percakapan yang harus diulang berkali-kali.
Terima kasih sudah datang.
Terima kasih atas doanya.
Terima kasih.
Terima kasih.
Terima kasih.
Pada titik tertentu, Jennie mulai curiga dirinya telah mengucapkan kalimat yang sama lebih banyak daripada jumlah napas yang ia ambil hari itu.
Maka ketika mobil akhirnya memasuki halaman rumah yang telah disiapkan kedua keluarga untuk mereka tempati setelah menikah, satu-satunya hal yang ia rasakan hanyalah kelegaan.
Rumah itu besar.
Sangat besar.
Namun tidak cukup besar untuk membuat Jennie terkesan.
Begitu pula Jisoo.
Keduanya berasal dari lingkungan yang membuat rumah sebesar itu terasa biasa saja.
Sesampainya di kamar utama, Jennie duduk di tepi ranjang sambil melepaskan anting yang sejak siang terasa semakin berat. Sementara Jisoo membuka kancing jasnya satu per satu dengan gerakan yang tampak jauh lebih lamban dibanding biasanya.
Keheningan yang hadir di antara mereka terasa canggung selama beberapa detik.
Lalu berubah menjadi nyaman.
Mungkin karena keduanya sama-sama terlalu kehabisan tenaga untuk mempertahankan kecanggungan.
"Aku rasa kakiku sudah tidak berfungsi lagi."
Jennie mengeluh sambil menghela napas panjang.
Jisoo yang sedang melipat jasnya melirik sekilas.
"Itu kabar baik."
Jennie menoleh.
"Bagian baiknya di mana?"
"Kalau kakimu sudah tidak berfungsi, berarti kamu tidak bisa membuat masalah malam ini."
Jennie terdiam.
Lalu menunjuk perempuan itu.
"Nah. Ini."
"Apa?"
"Aku baru menikah beberapa jam dan sudah difitnah."
Sudut bibir Jisoo terangkat tipis. Sementara Jennie menyeringai sinis melihat respon istrinya itu. "Dasar menyebalkan."
Setelah itu percakapan mereka benar-benar berakhir.
Lalu sekitar tiga puluh menit kemudian, lampu utama telah dimatikan. Hanya tersisa cahaya redup dari lampu samping ranjang.
KAMU SEDANG MEMBACA
♡𝐉𝐞𝐧𝐒𝐨𝐨 𝐬𝐡𝐨𝐫𝐭 𝐬𝐭𝐨𝐫𝐲 𝐜𝐨𝐥𝐥𝐞𝐜𝐭𝐢𝐨𝐧♡
Fiksi Penggemar[Jensoo's collection of short story lines] Indonesian language. Title List :
