Hari itu tak ada hujan, tapi langit tampak redup. Matahari seolah hanya menerobos sebagian, menciptakan cahaya yang setengah. Jennie duduk di sofa ruang keluarga, memandangi jari-jarinya yang saling menggenggam erat. Di meja kecil di hadapannya, sebuah test pack dan amplop hasil pemeriksaan dari klinik bersandar diam.
Jisoo datang tergesa, baru pulang dari rapat direksi. Melihat wajah Jennie yang pucat, ia langsung mendekat.
"Kau sakit?"
Jennie menggeleng. Lalu, dengan gerakan pelan, menyodorkan hasil pemeriksaan itu.
"Aku hamil, Ji..."
Waktu seolah berhenti sejenak.
Jisoo tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap lembar hasil laboratorium itu seakan memastikan ia tidak salah membaca. Setelah itu, ia duduk di samping Jennie dan memeluknya.
"Terima kasih... kau tak tahu betapa ini berarti bagiku."
Jennie membalas pelukannya, meski ada kegelisahan yang menempel di dadanya.
~
Malam Harinya
Mereka duduk bertiga di ruang makan. Jisoo yang berbicara, Jennie diam di sampingnya. Irene memotong sayur dalam piringnya dengan tenang, nyaris tanpa ekspresi.
"Aku ingin memberi tahu kabar ini secara langsung. Jennie hamil," ujar Jisoo.
Keheningan menggantung. Hanya suara detik jam di dinding yang terdengar.
Irene meletakkan garpunya perlahan. Tidak ada air mata. Tidak ada wajah terkejut. Hanya sepasang mata yang menatap Jennie dalam-dalam—bukan dengan kebencian, tetapi dengan suatu rasa asing yang sulit dijelaskan.
"Sudah berapa minggu?"
"Enam..." jawab Jennie.
"Selamat, kalau begitu."
Kalimat itu terdengar datar. Tapi justru karena datar itulah, tensinya menusuk.
Setelahnya, Irene berdiri. Ia tidak menyentuh makanannya. Ia berjalan menuju kamar tanpa sepatah pun tambahan kata.
~
Beberapa jam kemudian, Jisoo mengetuk pintu kamar utama.
"Irene, aku ingin bicara."
Pintu terbuka. Irene berdiri dengan rambut terurai, wajah lelah, dan mata yang tak ingin menangis tapi tidak bisa sepenuhnya kuat.
"Kau marah?"
"Tidak."
"Lalu kenapa kau menghindar?"
"Aku tidak tahu bagaimana caranya bersukacita atas sesuatu yang dulu kudoakan tapi tak pernah datang padaku."
Sunyi.
"Ini bukan salahmu. Juga bukan salahnya. Tapi jangan paksa aku untuk segera ikut bahagia, Ji. Tidak sekarang." Irene menambahkan.
"Aku tidak ingin kau merasa tergantikan," kata Jisoo, pelan.
"Aku tidak tergantikan. Aku tetap istrimu. Tapi hari ini, posisiku terasa... ditinggalkan."
Ia menarik napas panjang.
"Bolehkah aku marah pada takdir? Bukan padamu. Bukan padanya. Hanya pada sesuatu yang membuatku harus tersenyum atas luka yang belum kering."
Jisoo tak bisa menjawab, ia hanya menundukkan wajahnya.
~
KAMU SEDANG MEMBACA
♡𝐉𝐞𝐧𝐒𝐨𝐨 𝐬𝐡𝐨𝐫𝐭 𝐬𝐭𝐨𝐫𝐲 𝐜𝐨𝐥𝐥𝐞𝐜𝐭𝐢𝐨𝐧♡
Fanfic[Jensoo's collection of short story lines] Indonesian language. Title List :
