[ Behind The Noise ]

685 110 59
                                        

Langkah Jennie terdengar konstan di sepanjang koridor belakang panggung, menandakan intensi yang tak ingin disamarkan. Satu tangan dimasukkan ke saku jaket, sementara wajahnya mengerut dengan ekspresi yang tidak bisa didefinisikan sebagai sekadar kelelahan. Matanya—yang sejak pertunjukan tadi tidak berhenti mengawasi panggung—masih menyimpan jejak reaksi yang belum sempat dikeluarkan.

Ia tidak suka mempertanyakan sesuatu yang sebenarnya sudah ia ketahui jawabannya. Tapi ada batas tipis antara profesionalitas dan preferensi personal yang, bagi Jennie, barusan telah sedikit dilangkahi.

Ia sampai di depan pintu ruangan bertuliskan “KIM JISOO.” Tanpa mengetuk, ia membukanya.

Jisoo tengah duduk di bangku rias, menatap pantulan dirinya sendiri di cermin. Rambutnya sedikit kusut karena koreografi barusan, pundaknya masih turun naik pelan, sisa dari ritme tari yang menuntut ketahanan fisik. Ia menoleh ketika mendengar pintu dibuka, lalu mengangkat alis pelan.

"Tidak mengetuk dulu?" tanyanya tanpa intonasi menyerang.

Jennie berdiri di ambang pintu, lalu menutupnya perlahan dengan tangan kiri. "Aku rasa itu tidak diperlukan."

Jisoo menanggapi dengan ekspresi datar, tapi ada sedikit permainan di sudut bibirnya. "Kau datang dengan wajah seperti itu. Apa yang harus aku antisipasi?"

Jennie mendekat beberapa langkah. "Bagian koreografi tadi... tidak ada dalam sesi latihan yang kuketahui."

"Itu penyesuaian dari tim koreografer. Diputuskan pagi tadi, setelah pengecekan ulang blocking panggung," jawab Jisoo singkat, lalu kembali melihat cermin. "Kau tahu bagaimana ritme produksi bisa berubah sewaktu-waktu."

"Aku tahu," ujar Jennie pelan, nadanya tidak tinggi. "Tapi tetap saja, aku tidak menyukainya."

Jisoo berbalik pelan, tubuhnya bersandar ringan pada meja rias. "Apa yang tidak kau sukai? Koreografinya? Atau ekspresi yang menyertainya?"

Jennie menatapnya tanpa menghindar. "Keduanya."

Jisoo menyilangkan tangan di depan dada. "Kalau begitu, kau sedang cemburu."

"Aku sedang menyatakan ketidaknyamanan. Cemburu adalah istilah yang terlalu menyederhanakan motifku."

Senyum kecil muncul di wajah Jisoo, lalu menghilang sama cepatnya. Ia menatap Jennie lama, seolah sedang mengevaluasi emosi yang hadir di antara mereka.

"Aku profesional di atas panggung," kata Jisoo akhirnya. "Tidak ada motif pribadi dalam setiap gerakan atau senyum yang kau lihat tadi."

"Aku tidak meragukan itu," ujar Jennie, kini dengan suara lebih lunak. Ia mendekat, menempatkan dirinya satu langkah di depan Jisoo, cukup dekat hingga bisa menangkap napas yang masih sedikit terburu.

"Aku tahu kau tidak melibatkan hati saat bekerja. Tapi aku juga tahu persis bagaimana caramu tersenyum ketika kau menyukai sesuatu... atau seseorang."

Jisoo menatap mata Jennie. Tidak ada pembelaan, tapi juga tidak ada penyesalan. Ia hanya mengamati, seolah mempertimbangkan banyak hal dalam waktu singkat.

"Aku tersenyum karena penonton menyambutku. Karena koreonya berjalan lancar. Karena pencahayaannya pas. Karena aku tidak terpeleset di akhir lagu. Banyak alasan," katanya santai. "Kau bisa pilih yang paling logis."

"Aku tidak sedang mencari logika." Jennie menatapnya lurus. "Aku hanya butuh konfirmasi bahwa aku tetap menjadi satu-satunya alasan personal di balik semua hal yang profesional itu."

Jisoo terdiam, lalu mendorong pelan bangku riasnya ke samping. Ia berdiri penuh di depan Jennie, lalu meraih jemarinya dengan perlahan.

"Kau selalu jadi alasan personal, bahkan ketika aku harus tampak netral di hadapan ribuan orang. Tapi jika kau butuh lebih dari sekadar keyakinan, aku bersedia memberikannya."

♡𝐉𝐞𝐧𝐒𝐨𝐨 𝐬𝐡𝐨𝐫𝐭 𝐬𝐭𝐨𝐫𝐲 𝐜𝐨𝐥𝐥𝐞𝐜𝐭𝐢𝐨𝐧♡Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang