[ Best Part ]

999 132 40
                                        

Pesawat mendarat di Bandara Internasional Los Angeles saat langit masih menyisakan rona jingga di barat. Sore itu, kota tampak biasa saja bagi orang lain—macet, bising, penuh lalu-lalang manusia dengan agenda masing-masing. Tapi bagi Jennie dan Jisoo, Los Angeles selalu menjadi semacam tempat peristirahatan dari versi mereka yang dilihat publik.

Begitu keluar dari pesawat, mereka mengenakan masker dan topi, langkahnya cepat, beriringan dengan manajer masing-masing yang sudah mengatur jalur imigrasi khusus agar tidak terlalu banyak perhatian tertuju pada mereka.

Lisa dan Rosé sudah lebih dulu tiba di LA sejak beberapa hari lalu, jadi tidak ada yang menunggu mereka di bandara selain mobil jemputan yang sudah siap di pintu keluar privat.

Setelah mereka masuk ke dalam mobil, Jisoo duduk di kursi belakang, menyenderkan kepala ke kaca jendela. Jennie menyusul, lalu duduk di sampingnya—bukan di kursi terpisah, tapi persis di sisi Jisoo, membiarkan bahu mereka bersentuhan dari awal perjalanan.

"Langsung ke penginapan?" tanya manajer Jennie dari kursi depan.

"Tidak. Kami ingin makan dulu," jawab Jennie tenang.

"Baik, nanti saya arahkan drivernya."

Mereka berdua tahu itu hanya alibi. Yang mereka butuhkan bukan makan, tapi waktu. Dan Los Angeles memberikan ruang itu.

Usai santap bersama, waktu pun berlalu beberapa jam setelahnya. Mereka tiba di sebuah rumah sewaan di kawasan West Hollywood, jauh dari jangkauan media dan penggemar. 

Jennie sengaja memilih bermalam di rumah sewaan alih-alih menginap di hotel, agar dapat meluangkan waktu yang lebih pribadi bersama Jisoo. Rumah kecil dua lantai dengan pagar tinggi, tidak mencolok, cukup untuk dua orang yang ingin bersembunyi dari dunia, pikir Jennie. 

Setelah semua koper diletakkan dan manajer pergi dengan dalih akan mengurus jadwal latihan esok hari, keduanya masuk ke ruang tamu yang sederhana namun memiliki elegansi yang khas. Sofa abu-abu, lampu gantung minimalis, dan jendela kaca besar yang memperlihatkan halaman belakang dengan kolam kecil.

Jennie membuka sepatu lebih dulu, duduk di lantai sambil melepas masker. Ia menarik napas panjang, lalu menoleh ke arah Jisoo yang berdiri di dekat jendela.

"Sekarang kita benar-benar sendiri."

Jisoo menurunkan tasnya ke sofa, lalu melepaskan hoodie yang sejak tadi melekat di tubuhnya. "Rasanya aneh. Seperti melarikan diri."

"Memang begitu tujuannya." Jennie yang sudah lebih dulu duduk di sofa, menepuk tempat di sampingnya. "Sini."

Jisoo mendekat, lalu duduk di sebelahnya, menyandar ke sandaran sofa dengan tubuh miring menghadap Jennie.

Tidak ada percakapan berat. Hanya diam, dengan pandangan yang saling menelusuri lekuk wajah satu sama lain.

Jennie menyentuh tangan Jisoo, lalu meraih jemarinya dan mengusap punggung tangannya perlahan.

"Kau tahu?" bisik Jennie, "Aku tidak ingin membagi momen seperti ini dengan siapa pun. Bahkan dengan anggota lain."

"Tidak perlu merasa bersalah," jawab Jisoo. "Kita butuh waktu sendiri."

Jennie mengangguk, lalu membenamkan wajahnya ke bahu Jisoo. Ia menghirup aroma kulitnya—sisa sabun mandi dari Seoul, bercampur dengan wangi lembut tubuh Jisoo yang selalu membuatnya tenang.

Jisoo membalas dengan mengusap tengkuk Jennie, jari-jarinya bergerak ringan, memijat lembut seperti tahu betul titik lelah yang harus disentuh.

"Jika kau ingin tidur, tidurlah di sini saja. Tidak perlu memaksakan diri naik ke kamar," gumam Jisoo.

♡𝐉𝐞𝐧𝐒𝐨𝐨 𝐬𝐡𝐨𝐫𝐭 𝐬𝐭𝐨𝐫𝐲 𝐜𝐨𝐥𝐥𝐞𝐜𝐭𝐢𝐨𝐧♡Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang