Happy reading~
———————————
Di sebuah apartemen kecil namun nyaman di sudut kota, Jisoo hidup dengan rutinitasnya yang sederhana. Hari-harinya diisi dengan pekerjaan yang melelahkan, namun kesepian itu terhapus oleh kehadiran satu makhluk istimewa dalam hidupnya—seekor kucing putih bersih bernama Jennie.
Jennie bukan sekedar peliharaan bagi Jisoo. Ia adalah pendengar setia, teman berbagi saat kesal, pelipur lara dalam malam-malam sunyi, dan penghibur di saat-saat sepi. Saat dunia terasa berat, elusan lembut di bulu Jennie selalu mampu menenangkan jiwanya.
“Jennie, kamu tahu? Bosku hari ini benar-benar keterlaluan!” gerutu Jisoo sambil mengelus bulu lembut Jennie yang meringkuk nyaman dipangkuannya. “Kalau saja aku bisa protes, aku pasti—ah, tapi kamu tidak mengerti, ya.”
Jennie hanya mendengkur lembut, namun terdengar ritmis, seperti berkata, ‘Santai saja, Ji. Dunia ini tidak seburuk itu.’
Namun, malam itu menjadi awal dari segalanya—sebuah perubahan yang tak pernah terbayangkan Jisoo sebelumnya.
~
*dagh! digh! dugh!*
Saat malam semakin larut, suara gaduh dari ruang tamu membangunkan Jisoo. Ia terjaga dengan jantung berdebar, mencoba mendengarkan lebih jelas. Bulu kuduknya meremang.
Pencuri? Pikirnya panik.
Tangannya spontan mengambil payung sebagai senjata, lalu ia berjalan perlahan ke ruang tamu. “Siapa di sana?” serunya tegas meskipun suaranya sedikit bergetar.
Di ruang tamu, Jisoo menemukan sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Seketika pemandangan di depan matanya membuatnya terpaku.
Di sofa, tempat Jennie biasanya tidur, duduklah seorang perempuan. Rambutnya panjang, berwarna putih keperakan seperti bulu kucing, dan matanya—oh, matanya—tajam seperti mata Jennie, dengan warna keemasan yang bersinar dalam gelap.
Perempuan itu memandang Jisoo dengan ekspresi datar, lalu berkata dengan santai. “Kenapa kamu teriak? Aku cuma pindah tempat duduk.”
Jisoo menjatuhkan payungnya. “S-siapa kamu?! Bagaimana kamu masuk?!”
Perempuan itu memutar bola matanya. “Astaga, Jisoo. Ini aku, Jennie.”
Jisoo terdiam, mencoba mencerna ucapan itu. “Jennie? Maksudmu... Jennie, kucingku?”
“Ya,” jawab perempuan itu singkat. “Aku sekarang bisa bicara, berjalan dengan dua kaki, dan memegang benda dengan mudah. Senang?”
“Aku pasti sedang bermimpi,” gumam Jisoo, sambil mencubit lengannya sendiri. “aw!” lalu meringis setelahnya.
“Jika ini mimpi, cangkir kopi itu tidak akan melayang.” Jennie menjentikkan jarinya, dan cangkir kopi di meja melayang perlahan ke tangannya. Ia menyeruput isinya dengan santai. “Ugh, dingin. Kopi ini benar-benar payah, Ji.”
Melihat hal ajaib itu, Jisoo nyaris kehilangan keseimbangan. ”Kamu serius? Ini nyata?”
Jennie mendesah, lalu bangkit berdiri.
Dengan langkah anggun, ia mendekati Jisoo. “Dengar, aku juga tidak tahu kenapa bisa jadi begini. Tapi yang jelas, aku masih Jennie, kucing putih kesayanganmu, kucing yang kamu elus setiap malam. Dan sekarang, aku di sini untuk memastikan hidupmu tidak membosankan lagi.”
“B-bosan?”
Jennie tersenyum tipis, kali ini ekspresinya sedikit nakal. “Kamu terlalu sering mengomel di rumah. Jadi, mungkin ini cara semesta bilang, ‘Hei, Jisoo, kamu butuh teman bicara yang lebih menantang.’”
KAMU SEDANG MEMBACA
♡𝐉𝐞𝐧𝐒𝐨𝐨 𝐬𝐡𝐨𝐫𝐭 𝐬𝐭𝐨𝐫𝐲 𝐜𝐨𝐥𝐥𝐞𝐜𝐭𝐢𝐨𝐧♡
Fanfiction[Jensoo's collection of short story lines] Indonesian language. Title List :
