Yorobun... Happy reading! 🤞
••
Malam kian larut.
Di luar jendela, lampu-lampu kota masih menyala, berpendar di antara gelap yang belum sepenuhnya surut. Jalanan tetap berdenyut oleh kendaraan yang berlalu-lalang, oleh orang-orang yang pulang menuju seseorang, oleh percakapan yang berakhir di meja makan, oleh tawa yang menemukan tempat berlabuh.
Namun tidak semua orang memiliki kemewahan semacam itu.
Jennie duduk bersandar pada tepian ranjang, membiarkan kedua kakinya menjuntai hingga menyentuh lantai. Di dekatnya, secangkir kopi dibiarkan berdiam diri dalam dingin yang perlahan menguasai seluruh permukaan. Tak jauh berbeda dari percakapan yang sejak sore tertahan di layar ponselnya.
Pukul empat lewat dua belas menit.
Itu pesan terakhir dari Jisoo.
Aku masih ada kerjaan.
Empat kata. Ringkas.
Tidak mengandung kesalahan apa pun.
Namun, beberapa bulan terakhir, kalimat-kalimat seperti itu selalu meninggalkan residu yang sulit dibersihkan dari dada.
Masih ada kerjaan.
Masih ada rapat.
Masih ada tanggung jawab.
Masih ada urusan.
Selalu ada sesuatu yang datang lebih dulu sebelum dirinya.
Dan Jennie mulai jengah menjadi seseorang yang terus-menerus ditempatkan setelah kata nanti.
Ia melirik jam.
23.14.
Lalu 23.15.
Kemudian 23.16.
Waktu bergerak dengan konsistensi yang menjengkelkan.
Seakan sengaja memperlihatkan betapa panjangnya penantian ketika seseorang sadar bahwa dirinya sedang menunggu.
Jarinya bergerak membuka galeri.
Wajah Jisoo memenuhi layar.
Potret lama, mungkin hampir setahun silam. Diambil saat mereka masih bisa bertemu dua minggu sekali.
Saat jarak masih menyerupai jeda. Bukan jurang. Dan saat kerinduan belum berkembang menjadi sesuatu yang jauh lebih rumit.
Tatapan Jennie menetap di sana.
Lama.
Terlalu lama.
Sampai sebuah kesadaran muncul begitu saja.
Belakangan ini, ia lebih sering menatap foto Jisoo daripada mendengar suaranya.
Pikiran itu tampak sepele saat melintas, tetapi entah bagaimana terus tinggal. Mengendap di sudut benaknya dan kembali muncul setiap kali ia berusaha mengabaikannya.
Hubungan jarak jauh memang mengajarkan banyak hal kepada seseorang.
Tentang kesabaran.
Tentang kepercayaan.
Tentang bagaimana mempertahankan keintiman tanpa kehadiran fisik.
Namun tidak ada seorang pun yang pernah membicarakan betapa melelahkannya menjadi orang yang terus menunggu.
Menunggu balasan.
Menunggu panggilan.
Menunggu waktu luang.
KAMU SEDANG MEMBACA
♡𝐉𝐞𝐧𝐒𝐨𝐨 𝐬𝐡𝐨𝐫𝐭 𝐬𝐭𝐨𝐫𝐲 𝐜𝐨𝐥𝐥𝐞𝐜𝐭𝐢𝐨𝐧♡
Fiksi Penggemar[Jensoo's collection of short story lines] Indonesian language. Title List :
