3. TIED HEARTS

695 98 2
                                        

Keesokan harinya, Jisoo memutuskan menepati janjinya untuk memperbaiki mobil adiknya. Ia mengantar mobil itu ke bengkel langganan keluarganya. Karena perbaikannya memakan waktu cukup lama, ia memilih menunggu di sebuah kafe kecil yang berada di seberang bengkel.

Sambil menyeruput kopi hitamnya, pandangan Jisoo terarah ke jalanan yang mulai ramai. Pikirannya kembali melayang pada Jennie—kejadian di studio kemarin, genggaman tangan Jennie, dan kata-kata terima kasihnya. Semua itu terus terulang di benaknya, membuatnya merasa ada secercah harapan yang mulai tumbuh di antara mereka.

Namun, lamunannya terhenti ketika matanya menangkap sosok yang sangat familiar. Jennie.

Jisoo segera duduk lebih tegak, memperhatikan wanita itu turun dari sebuah mobil hitam mewah. Ia mengenakan setelan kasual yang sederhana namun tetap terlihat elegan. Namun, bukan itu yang membuat dada Jisoo terasa sesak. Jennie tidak sendiri.

Seorang pria dengan pakaian formal keluar dari sisi lain mobil, berjalan ke arah Jennie, dan membuka payung untuk melindunginya dari sinar matahari. Mereka tampak berbicara santai, bahkan sesekali tertawa kecil. Pria itu tinggi, dengan senyum ramah yang membuatnya terlihat begitu nyaman berada di sisi Jennie.

Jisoo merasakan sesuatu menghantam dadanya. Ia mencoba berpikir positif—mungkin pria itu hanya teman kerja atau rekan bisnis. Tapi keakraban di antara mereka membuatnya sulit mengabaikan perasaan tidak nyaman yang mulai tumbuh.

Saat Jennie dan pria itu berjalan melewati kafe tempat Jisoo duduk, Jennie sempat berhenti untuk memeriksa ponselnya. Tatapannya tidak sengaja bertemu dengan Jisoo, yang duduk di balik jendela kaca. Mata Jennie sedikit melebar, jelas terkejut melihat Jisoo di sana.

Pria di sampingnya menyadari Jennie berhenti dan menoleh ke arahnya. "Ada apa?" tanyanya lembut.

Jennie tampak ragu sejenak, lalu tersenyum tipis. "Bukan apa-apa," jawabnya sebelum melanjutkan langkah.

Jisoo tidak bisa mengalihkan pandangannya. Hatinya penuh dengan pertanyaan. Siapa pria itu? Apa hubungannya dengan Jennie? Dan kenapa Jennie tidak mencoba menyapanya?


~


Beberapa jam kemudian, setelah mobil adiknya selesai diperbaiki, Jisoo memutuskan untuk mengirim pesan pada Jennie. Ia mencoba menahan rasa cemasnya, tapi jari-jarinya sedikit gemetar saat mengetik.

💬 "Jennie, tadi aku melihatmu di dekat bengkel. Kamu sedang bersama siapa? Maaf jika pertanyaanku terlalu lancang, aku hanya ingin tahu."

Pesan itu dikirim, dan Jisoo menunggu dengan penuh harap. Namun, menit demi menit berlalu tanpa balasan. Rasa gelisah semakin menguasai dirinya.

Hingga waktu bergulir, di malam harinya, saat Jisoo sedang duduk di ruang tamu, ponselnya akhirnya berdenting dengan dentingan notifikasi khusus. Ia segera meraihnya, dan benar saja, itu pesan dari Jennie.

💬 "Maaf, aku tidak sempat menyapamu tadi. Itu hanya kolega yang membantuku dengan beberapa urusan pekerjaan. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan."

Jisoo membaca pesan itu berulang kali, mencoba mencari tahu apakah ada sesuatu yang tersembunyi di balik kata-kata Jennie. Tapi ia tahu ia tidak bisa terlalu memaksakan diri. Ia menarik napas panjang, lalu membalas.

♡𝐉𝐞𝐧𝐒𝐨𝐨 𝐬𝐡𝐨𝐫𝐭 𝐬𝐭𝐨𝐫𝐲 𝐜𝐨𝐥𝐥𝐞𝐜𝐭𝐢𝐨𝐧♡Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang