Hari-hari setelah itu berjalan pelan, seperti bunga yang mekar tanpa gembar-gembor. Tidak ada perayaan besar, tidak ada pengakuan publik, hanya satu rumah kecil yang mulai memuat dua perempuan dewasa yang saling belajar menjadi tempat pulang bagi satu sama lain—dan bagi satu anak kecil yang mulai memahami bahwa cinta bisa hadir dalam bentuk paling sunyi, tapi tetap terasa nyata.
Jennie mulai memasukkan nama Jisoo di panggilan teleponnya sebagai ‘Perempuanku tersayang’ Dan Jisoo, tanpa Jennie tahu, telah menaruh foto bertiga mereka—ia, Jennie, dan Ella—di meja kerjanya, tersembunyi di balik buku-buku laporan.
Sore-sore mereka diisi dengan memasak, menggambar bersama Ella, dan kadang hanya duduk di sofa sambil berbagi canda.
Dan malam-malam mereka, perlahan, berubah dari sekadar berbagi bantal—menjadi berbagi napas yang tenang, dan perasaan bahwa rumah tak lagi berupa bangunan. Rumah adalah tempat di mana satu pelukan sederhana—di dapur, di tengah pagi, atau saat hujan turun pelan—cukup untuk menenangkan seluruh dunia.
Diminggu berikutnya, hari itu, langit di Seoul berkabut tipis, seolah menggambarkan suasana hati Jisoo saat melangkah ke dalam mobil dinas yang akan membawanya ke Incheon. Ia membawa tas kecil, tak lebih dari dua potong baju dan satu map tebal.
Perjalanan dinas ini hanya dua hari satu malam, tapi bagi seseorang yang akhir-akhir ini terbiasa mengawali hari dengan wajah Jennie di dapur dan suara Ella yang menyanyikan lagu aneh entah dari mana asalnya—dua hari terasa terlalu lama.
Sebelum masuk ke dalam mobil, Jisoo membungkuk pelan, menangkup pipi Jennie dan berkata dengan nada lebih lembut dari biasanya, "Jaga rumah baik-baik. Jangan ubah susunan bumbu dapur, nanti aku marah."
Jennie tersenyum. "Jika aku ubah susunannya tapi hasil masakannya lebih enak?"
Jisoo memelotot lembut, lalu berkata, "Berani coba. Nanti pulang-pulang aku akan menyuruhmu tidur di sofa, baru tahu rasa."
Jennie nyaris menjawab, tapi Jisoo lebih dulu mencium ujung keningnya—cepat, ragu, tapi cukup untuk membuat pipi Jennie menghangat sepanjang pagi itu.
Ella berdiri di sebelah mereka, menggenggam boneka anjingnya dan berkata dengan nada protes, "Umma tidak boleh pergi lama. Nanti aku bosan hanya main dengan kak Jennie saja."
Jisoo berjongkok, memeluk Ella erat. "Umma hanya sebentar, sayang. Nanti malam video call, ya. Kita bisa mengobrol bertiga lewat itu."
"Boleh bawa aku di koper saja?"
Jisoo tertawa. "Nanti tak ada yang menjaga Ella di sana. Tapi mungkin, bonekamu bisa kau titipkan pada Umma—supaya sepi tak terlalu terasa bagi umma."
Ella menyerahkan boneka itu dengan wajah serius. "Jika hilang, aku tidak akan memaafkan umma."
~
Ketika menjelang sore, di rumah, Jennie berusaha menciptakan rutinitas yang sama seperti biasanya. Makan siang dimasak bersama Ella—nasi goreng dengan bentuk hati seadanya—dan mereka duduk di ruang tamu sambil menggambar dan menyanyi. Tapi Jennie tahu betul, ada kekosongan yang tidak bisa diisi.
Ella pun tampaknya merasakannya. Ia beberapa kali mondar-mandir ke arah pintu, lalu duduk diam sambil memeluk boneka barunya. Jennie menyodorkan es krim, buku gambar, bahkan guling besar, tapi tetap saja—"Kapan video call-nya?" jadi pertanyaan yang muncul tiap sepuluh menit.
Hingga malam tiba. Dan video call pun dimulai.
Wajah Jisoo muncul di layar ponsel dengan latar belakang hotel yang terang dan steril. Rambutnya sedikit berantakan, masih mengenakan kemeja biru muda yang kancing atasnya sudah dibuka. Begitu wajah Ella muncul di layar, Jisoo langsung berubah seperti bukan dirinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
♡𝐉𝐞𝐧𝐒𝐨𝐨 𝐬𝐡𝐨𝐫𝐭 𝐬𝐭𝐨𝐫𝐲 𝐜𝐨𝐥𝐥𝐞𝐜𝐭𝐢𝐨𝐧♡
Fanfiction[Jensoo's collection of short story lines] Indonesian language. Title List :
