Happy reading~
•
Jisoo tak pernah benar-benar berhenti sejak dunia menuntutnya menjadi dua sosok sekaligus: perempuan dewasa yang gigih bekerja, dan ibu dadakan bagi seorang anak kecil yang bahkan belum mengerti konsep kepergian. Hidupnya tidak berjalan pelan sejak kepergian kakaknya tiga tahun silam. Hari-harinya dijejali oleh ketekunan yang nyaris mekanis—bangun sebelum fajar, menyiapkan makan untuk Ella, mengantar ke penitipan, dan bergegas ke tempat kerja dengan pikiran yang selalu terbagi dua.
Namun sore itu, hidupnya tergelincir sedikit dari jalurnya yang tertata.
Jisoo baru saja keluar dari gedung tempat kerjanya. Tubuhnya lelah, tapi wajahnya tetap rapi. Rambutnya tergerai rapi ke belakang, jas tipis berwarna abu-abu menyelimuti bahunya, dan ponsel dalam genggamannya berkedip, menampilkan notifikasi dari daycare yang biasa ia datangi setiap pukul lima sore.
💬 Ella sedang bermain di taman seberang daycare. Dia berlari ke arah trotoar dan hampir...
Jisoo tak sempat membaca seluruh pesan itu. Jantungnya mencelus. Ia mempercepat langkah tanpa menyadari betapa cepat udara sore mencengkeram dada.
Ketika tiba, taman itu sepi, seperti kebanyakan taman kota yang telah kehilangan pesonanya. Beberapa bangku kayu ditumbuhi lumut, ayunan logam berdecit pelan, dan di ujung trotoar yang menghadap langsung ke jalan, seorang anak kecil berdiri termangu.
Ella. Baju terusan biru muda dengan kerah renda sudah lecek di bagian depan. Pipinya memerah entah karena udara atau karena ketakutan yang tertahan.
Dan di sebelahnya—seorang perempuan muda tengah berjongkok, memegang kedua bahunya.
"Tidak apa-apa. Kau baik-baik saja, ya? Sudah, jangan menangis lagi," ucap si perempuan dengan nada lembut. Rambutnya diikat sederhana, dan matanya—mata yang tajam tapi tidak menyudutkan—menatap Ella dengan tatapan protektif.
Jisoo mendekat dengan napas memburu.
"Ella!" panggilnya. Tubuhnya bergetar, entah karena panik atau rasa bersalah yang menohok di dadanya.
Ella menoleh, kemudian segera berlari ke arahnya. Pelukannya ringan, namun erat seperti biasa.
"Umma... tadi aku hampir... tapi kakak itu..." Celotehnya patah-patah, belum sempurna, namun cukup untuk menguraikan situasi.
Jisoo menunduk, memeriksa tubuh Ella. Tak ada luka, tak ada gores. Hanya debu di lutut dan daun kering yang tersangkut di kunciran rambutnya.
"Terima kasih..." Jisoo berbalik ke arah perempuan itu. "Aku sangat berterima kasih. Jika saja—"
"Tidak apa-apa," potongnya, tersenyum samar. "Aku hanya kebetulan lewat."
Ada jeda. Angin lewat di antara mereka. Sesuatu yang tidak kasat mata, tapi tak bisa dielakkan, menyelip di sela-sela keheningan.
Jisoo memandang perempuan itu lebih jelas sekarang. Wajahnya bersih, tapi ada letih yang tak disembunyikan. Tas punggung yang lusuh tergantung di bahu kirinya, dan dari pergelangan tangannya, tergantung selebaran lowongan pekerjaan yang tampaknya telah dilipat berkali-kali.
"Apakah kau sedang mencari pekerjaan?" tanya Jisoo perlahan, tidak untuk menyelidik, melainkan karena perasaan yang muncul begitu saja.
Perempuan itu mengangguk, lalu tersenyum getir. "Aku baru datang dari Busan kemarin. Sebenarnya belum tahu harus mulai dari mana."
Jisoo diam. Ella masih memeluk kakinya, dan kini menatap si perempuan dengan rasa ingin tahu yang tulus. Anak itu seperti merasa aman.
"Jika tidak keberatan, mari ikut aku sebentar. Setidaknya aku bisa menawarkan teh dan ucapan terima kasih yang layak." Nada suaranya lembut, namun dalam dirinya ada semacam dorongan, entah dari mana.
KAMU SEDANG MEMBACA
♡𝐉𝐞𝐧𝐒𝐨𝐨 𝐬𝐡𝐨𝐫𝐭 𝐬𝐭𝐨𝐫𝐲 𝐜𝐨𝐥𝐥𝐞𝐜𝐭𝐢𝐨𝐧♡
Fanfiction[Jensoo's collection of short story lines] Indonesian language. Title List :
