1. When The Heart's Chooses

814 112 36
                                        

Happy reading~
••



Jennie turun dari mobilnya yang mewah dengan langkah tertakar. Jas wol warna gading membalut tubuhnya, rapi nyaris seperti manekin butik di distrik Cheongdam. Tak ada satu hela pun rambutnya yang lepas dari tatanan. Namun wajahnya menunjukkan kekesalan terpendam.

Bengkel itu kecil. Tak berlogo, tidak pula bersih. Bau oli dan besi tua mengambang di udara. Ia menoleh ke supirnya dan mengangguk tipis. "Biar aku saja. Tunggu di mobil."

Begitu kakinya melangkah melewati pagar kawat, ia melihatnya. Wanita itu. Rambut hitam dikuncir setengah, seragam lusuh, tangan terlumur gemuk dan pelumas, tapi wajahnya... ada semacam tarikan tak kasatmata yang membuat Jennie berhenti sejenak. Detik itu juga, kejengkelan atas mobilnya yang ‘mogok mendadak’ lenyap tanpa jejak.

Jisoo sedang menunduk membetulkan baut, wajahnya berkerut dalam konsentrasi. Ia tak melihat Jennie, sampai suara lembut namun datar menyela.

"Apakah Anda yang bertugas hari ini?"

Jisoo mendongak, menyipit. Matanya jernih, tanpa basa-basi, tapi tak kasar.

"Jika Anda datang ke bengkel ini dan mendapati saya seorang diri yang mengerjakan inti dari tujuan tempat ini didirikan, saya rasa jawabannya sudah jelas," sahutnya, menyeka tangannya dengan lap kain.

Jennie mengangkat alis. Tidak terbiasa diperlakukan tanpa kehati-hatian. Tapi entah kenapa, tidak marah. Justru... geli.

"Mobil saya tampaknya perlu diperiksa. Mesinnya mengeluarkan suara aneh."

"Kendaraan Anda jenis apa?"

Jennie menunjuk pelan ke arah sedan hitam di depan.

Jisoo melirik. "Bisa ditinggal sebentar. Saya akan cek dalam lima belas menit."

"Terima kasih," ucap Jennie, masih berdiri di tempatnya. Lalu menambahkan, "Apakah Anda sendiri yang akan mengerjakannya?"

"Ya. Saya tidak menyerahkan kendaraan pada orang lain kecuali jika saya mati," jawab Jisoo tanpa jeda. "Atau jika saya cuti."

Sekali lagi, Jennie tersenyum. Singkat.

Sementara menunggu, Jennie tetap berdiri di sisi pagar besi yang mulai berkarat itu, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku jas. Matanya tidak bergerak dari sosok di hadapannya. Jisoo tengah membungkuk ke bawah mobil lain, separuh tubuhnya nyaris menghilang di bawah kolong. Sekilas, itu bukan pemandangan yang lazim bagi Jennie—seorang wanita yang akrab dengan gelas kristal, interior marmer, dan diskusi-diskusi investasi.

Tapi justru di situlah letak keterpikatannya.

Ada sesuatu dalam cara Jisoo bekerja. Bukan hanya cekatan, tapi juga jujur. Gerak-geriknya tak dibuat-buat. Tidak ada upaya menjadi manis, tidak pula ada hasrat untuk menyenangkan siapapun. Ia sepenuhnya dirinya sendiri—dan bagi Jennie, itu menjadi daya pikat yang ganjil namun kuat.

"Tidak menyerahkan kendaraan pada orang lain kecuali mati, atau cuti."

Ucapan itu masih terngiang di kepala Jennie. Di dunia tempat ia hidup, loyalitas semacam itu nyaris punah. Tapi di sini, di bengkel kecil yang dipenuhi bau karat dan suara denting logam, justru ia menemukannya—berwujud wanita yang tidak tahu siapa dirinya dan tidak peduli.

Jennie memiringkan kepala sedikit, memperhatikan cara Jisoo menyisir rambutnya dengan punggung tangan yang masih kotor, lalu menyelipkannya di balik telinga tanpa ekspresi. Liar tapi teratur. Penuh pelumas tapi tetap tampak bersih secara aneh.

"She's so attractive.." Jennie bergumam kagum.

Bibirnya mengulas senyuman. Dadanya mendadak terasa ringan. Seperti sesuatu yang usang dalam dirinya mendadak tergeser. Mungkin karena hari itu, untuk pertama kalinya ia merasa dilihat bukan sebagai "Jennie Kim" sang ahli waris, tapi sekadar wanita yang membawa mobil mogok ke bengkel.

♡𝐉𝐞𝐧𝐒𝐨𝐨 𝐬𝐡𝐨𝐫𝐭 𝐬𝐭𝐨𝐫𝐲 𝐜𝐨𝐥𝐥𝐞𝐜𝐭𝐢𝐨𝐧♡Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang