Flashback—
Jennie bangun lebih awal, menyalakan kompor, dan mulai memasak sup rumput laut kesukaan Ella. Udara di dapur masih sejuk. Ia sesekali menguap sambil menyeduh teh untuk dirinya sendiri, lalu menyiapkan piring kecil dengan potongan apel dan beberapa butir anggur—sarapan ringan sebelum Ella makan besar.
Ia berjalan menuju kamar Ella dengan langkah ringan, membawa nampan kecil. Pintu kamar sedikit terbuka. Tirai tipis berkibar pelan tertiup angin dari jendela yang lupa ditutup malam sebelumnya.
"Ella," panggilnya lembut.
Tak ada sahutan.
"Bangun, sayang. Kak Jennie membawakan buah apel kesukaanmu, tuh."
Ia berjalan pelan ke sisi ranjang, lalu mengamati Ella. Boneka anjing yang biasa dipeluk Ella tergelincir ke lantai. Tapi bukan itu yang membuat Jennie seketika berhenti.
Yang membuatnya terdiam adalah tubuh kecil itu.
Terbaring terlalu diam.
Dengan tangan mengepal pelan, dan wajah yang biasanya penuh gumaman pagi, kini pucat pasi. Bibirnya membiru samar. Napasnya nyaris tak terdengar.
Jennie meletakkan nampan, menjatuhkan hampir tanpa sadar, dan segera meraih tubuh kecil itu.
"Ella?" suaranya mulai terdengar panik. "Ella, bangun... sayang... ayo bangun, jangan bercanda seperti ini..."
Namun tubuh itu tak merespons. Terlalu lemas. Terlalu dingin.
Beberapa menit kemudian, ambulans datang. Jennie menumpanginya, memangku Ella dengan tangan yang terus menggigil. Ia tak sempat mengganti pakaian, tak sempat mengambil dompet. Dalam perjalanan, ia mengirim satu pesan singkat kepada Jisoo:
💬 "Sayang... ini mendadak. Ella tak sadarkan diri. Aku di rumah sakit. Tolong segera ke sini."
—
Sekarang, di rumah sakit itu, Jisoo berdiri di depan sebuah ruang perawatan dengan napas berat dan dada yang mendesak sesak. Tubuhnya kaku, dan dunia seolah menyusut di sekitar lorong yang terlalu panjang ini.
Jennie duduk di kursi tunggu, mengenakan kaus putih yang kusut dan sandal rumah. Rambutnya masih basah oleh keringat dan mata sembab. Saat melihat Jisoo datang, ia bangkit berdiri, tapi tak bisa mengeluarkan suara. Yang keluar hanya satu kalimat pelan:
"Dia masih di dalam."
Jisoo tak bertanya apa-apa. Ia hanya memegang bahu Jennie sebentar—gerakan yang lebih seperti berpegangan daripada menguatkan. Lalu pintu ruangan terbuka, dan seorang dokter berusia lima puluhan, dengan rambut sudah setengah abu, keluar membawa selembar berkas.
Tatapannya serius. Tidak dingin, tapi terlalu berat untuk pagi yang masih seharusnya cerah.
"Anda wali dari anak ini?"
"Ya. Ella keponakan saya. Saya merawatnya sejak kakak saya meninggalkannya."
Dokter mengangguk perlahan, seakan mencari cara paling hati-hati untuk menyampaikan luka yang tak bisa dibalut.
"Saya paham ini berat, tapi saya harus jujur. Kami telah melakukan serangkaian pemeriksaan darurat, termasuk uji darah, CT, dan pemeriksaan lanjutan karena ada hasil yang tidak biasa... dan setelah kami bandingkan dengan riwayat medis keluarganya..."
Ia berhenti sejenak.
Jisoo menahan napas. Jennie menggenggam lengan bajunya, seperti jangkar kecil.
"Putri ini... mengidap penyakit degeneratif langka—sejenis gangguan autoimun sistemik yang menyerang fungsi vital tubuh, terutama jantung dan jaringan saraf pusat. Penyakit ini memiliki progresi yang cepat."
KAMU SEDANG MEMBACA
♡𝐉𝐞𝐧𝐒𝐨𝐨 𝐬𝐡𝐨𝐫𝐭 𝐬𝐭𝐨𝐫𝐲 𝐜𝐨𝐥𝐥𝐞𝐜𝐭𝐢𝐨𝐧♡
Fanfiction[Jensoo's collection of short story lines] Indonesian language. Title List :
