Happy reading~
🙌🏻
•••
Jisoo tengah terpaku pada layar ponselnya, duduk di tepian ranjang dengan posisi santai, ketika sepasang lengan hangat tiba-tiba melingkar di sekeliling tubuhnya.
Ia menoleh dan mendapati Jennie telah terjaga, wajahnya masih menyiratkan sisa kantuk. Sebuah senyum pun tersungging di bibir Jisoo. "Pagi, sayang."
Jennie membalas dengan senyum tipis, kepalanya bersandar manja di bahu Jisoo. Pelukannya semakin erat, seolah enggan membiarkan jarak tercipta di antara mereka.
Jisoo mematikan ponselnya, lalu beralih mengusap lengan gadis itu dengan kelembutan yang nyaris meninabobokan. "Mau sarapan apa, hm?" tanyanya dengan suara rendah yang hangat.
"Pengen makan bubur ayam," gumam Jennie, suaranya masih sedikit serak akibat sisa kantuk.
"Eum, kalau gitu sekarang aku beliin, ya? Tunggu sebentar."
Jennie mendengus kecil, mengeratkan pelukannya lagi. "Pesan online aja. Aku nggak mau kamu pergi..." ujarnya dengan nada manja.
Jisoo terkikik, geli dengan tingkah gadis itu. Ia menatap Jennie dengan ekspresi teramat gemas sebelum mendekatkan wajahnya.
"Ututututu~" godanya dengan nada main-main. Dalam sekejap, ia menyergap tubuh Jennie, mengangkatnya ke dalam gendongan dengan mudah, memangkunya seolah gadis itu adalah benda paling berharga yang tak boleh tersentuh dunia luar.
Tanpa aba-aba, Jisoo menempelkan bibirnya ke pipi Jennie, menciumi wajahnya dengan tanpa ampun.
Chu, chu, chu ~
Jennie tersentak, cekikikan tertahan saat ia mulai tergelitik oleh serangan mendadak itu.
"Heh! Udah-udah, geli!" Jennie berusaha menghindar, tapi tawanya pecah saat Jisoo semakin mendekapnya erat.
"Eugh! Kamu tuh kalo udah manja gini... GEMESIN BANGET!" seru Jisoo dengan nada penuh rasa sayang, seraya membenamkan wajahnya ke bahu Jennie seperti anak kecil yang menemukan boneka kesayangannya.
Jennie terkikik, menyembunyikan wajahnya di dada Jisoo, menikmati kehangatan yang melingkupi mereka berdua.
~
Setelah puas bermanja-manja bersama, Jisoo akhirnya memesan bubur melalui aplikasi. Ia memilih varian yang sekiranya akan memanjakan lidah gadis itu—bubur ayam dengan limpahan topping dan sentuhan kecap manis yang tak berlebihan, selaras dengan seleranya.
Tiga puluh menit berlalu, suara notifikasi berbunyi menandakan pesanannya telah tiba. Jisoo segera bangkit, berjalan ke depan untuk mengambil pesanan dari kurir yang menunggu di pintu.
Dengan senyum kecil, ia mengucapkan terima kasih sebelum kembali ke dalam.
Begitu membuka bungkusan, aroma bubur yang hangat langsung menyergap indra penciumannya. Uap tipis masih mengepul dari wadahnya, mengisyaratkan kehangatan yang masih terjaga. Ia menuangkannya ke dalam mangkuk keramik, memastikan tampilannya lebih menggugah selera.
"Pesanan putri manja udah siap," ujar Jisoo sambil membawa mangkuk itu ke meja makan.
Jennie yang semula meringkuk di sofa, segera bangkit dengan mata berbinar. "Yeay!" serunya riang, segera duduk dengan antusias di kursinya.
Jisoo terkekeh, lalu meletakkan sendok di hadapan Jennie sebelum duduk di seberangnya. "Makan yang banyak, ya. Biar nggak lemes."
Tanpa perlu disuruh dua kali, Jennie mulai menyendok buburnya. Matanya menyipit puas saat rasa hangat itu mengaliri tenggorokannya. "Hmm~ enak!"
KAMU SEDANG MEMBACA
♡𝐉𝐞𝐧𝐒𝐨𝐨 𝐬𝐡𝐨𝐫𝐭 𝐬𝐭𝐨𝐫𝐲 𝐜𝐨𝐥𝐥𝐞𝐜𝐭𝐢𝐨𝐧♡
أدب الهواة[Jensoo's collection of short story lines] Indonesian language. Title List :
