Happy readings 🫰
•
•
Hari pernikahan biasanya dimulai dengan kesibukan yang sudah bisa ditebak.
Orang-orang hilir mudik membawa berbagai urusan. Penata rias sibuk mencari perlengkapan yang entah diletakkan di mana. Fotografer berkali-kali meminta semua orang terlihat santai meski jelas tidak ada yang santai. Sementara keluarga mempelai tersenyum kepada siapa saja yang lewat sampai pipi mereka mulai terasa kaku.
Pagi itu, semestinya berjalan seperti itu.
Namun masalahnya, pada pukul enam lewat empat puluh tujuh menit, pengantin perempuan menghilang.
Benar-benar menghilang.
Bukan menghilang dalam pengertian dramatis seperti diculik kelompok misterius atau tersesat di tempat antah-berantah.
Ia pergi atas kemauannya sendiri-melarikan diri dengan tingkat keberanian yang membuat seluruh keluarga Kim mendadak membutuhkan obat sakit kepala.
Dan sekarang, tepat pukul tujuh lewat sebelas menit, Jennie sedang duduk di depan cermin rias sambil berusaha memahami bagaimana hidupnya bisa mengambil tikungan setajam ini.
"Aku masih punya waktu untuk melarikan diri juga, kan?" gumamnya.
Tidak ada yang tertawa.
Padahal menurut Jennie itu cukup lucu.
Sangat lucu, bahkan.
Kakaknya kini benar-benar menghilang, lalu dirinya diminta menggantikan posisi tersebut.
Jika ini terjadi pada orang lain, Jennie pasti akan membeli popcorn dan mengikuti perkembangannya sampai tamat.
Tapi sayangnya, kali ini ia berada di dalam cerita.
Bukan penonton.
"Tolong gantikan aku. Aku tidak bisa melakukan ini, Aku tidak bisa menikah dengannya. Kumohon."
Kakaknya yang berdiri di sudut ruangan pada malam itu terlihat seperti seseorang yang baru saja menghabiskan semalam penuh menangisi seluruh keputusan hidupnya.
Matanya sembap, rambutnya berantakan. Dan yang paling tidak biasa, wanita itu tampak tidak peduli terhadap penampilannya.
Padahal biasanya satu helai rambut yang keluar dari tempatnya saja mampu membuatnya resah selama lima belas menit.
Jennie menghembuskan napas.
"Unnie."
"Kumohon."
"Jika aku pingsan di altar, itu tanggung jawabmu."
"Kumohon."
"Jika ternyata istriku nanti ternyata psikopat juga tanggung jawabmu."
"Kumohon."
Jennie memejamkan mata.
"Kenapa semua jawabanmu hanya itu?"
Karena kakaknya mulai kembali menangis, pembicaraan malam itu tidak pernah benar-benar berlanjut.
Pikir Jennie, sulit berdebat dengan orang yang sedang menangis.
Terutama jika orang tersebut adalah kakakmu sendiri.
Terlebih lagi jika sejak kecil ia selalu memenangkan pertengkaran menggunakan air mata dan rasa bersalah.
Itu senjata biologis.
Tidak adil.
Sama sekali tidak adil.
KAMU SEDANG MEMBACA
♡𝐉𝐞𝐧𝐒𝐨𝐨 𝐬𝐡𝐨𝐫𝐭 𝐬𝐭𝐨𝐫𝐲 𝐜𝐨𝐥𝐥𝐞𝐜𝐭𝐢𝐨𝐧♡
Fanfiction[Jensoo's collection of short story lines] Indonesian language. Title List :
