[ You & Me ]

830 113 30
                                        


Lampu-lampu panggung menyalak satu per satu, membelah kegelapan auditorium dengan intensitas yang terukur dan dingin. Musik pembuka performance selanjutnya mulai mengalun, menghentak dengan nada dinamis dan tempo cepat, menyulut antusiasme penonton yang tak berhenti memekik dari segala arah.

Jisoo berdiri di sisi kanan panggung, wajahnya sudah bersolek sempurna, senyumnya profesional, posturnya tak bercela. Ia memegang mikrofon nirkabel di tangan kanan, dan langkahnya maju ke tengah panggung tampak mantap.

Jennie muncul dari sisi berlawanan, tubuhnya sudah sepenuhnya terbungkus persona panggung yang memukau—seorang performer yang terbiasa disorot, dicintai, dan diamati tanpa cela. Tapi di balik itu, matanya terus mencari.

Mereka berdiri di posisi masing-masing saat intro lagu mendekati bait pertama. Koreografi berjalan sebagaimana seharusnya: gerakan sinkron, ekspresi tertakar, dan sorot kamera yang berputar mengelilingi mereka dengan presisi produksi.

Namun di sela gerakan—di antara putaran badan dan ayunan tangan—mata Jennie menyapu panggung, lalu berhenti sebentar saat menabrak pandangan Jisoo yang juga sedang mencarinya. Hanya sekejap. Tidak cukup lama untuk ditangkap kamera. Tapi lebih dari cukup untuk menyampaikan apa yang tak sempat diucapkan di ruang ganti.

Lagu terus bergulir. Jisoo menyanyikan bagiannya dengan intonasi stabil, nada tinggi yang terdengar jernih tanpa cacat. Namun hanya Jennie yang tahu: ketika Jisoo menyentuh nada falseto itu, sedikit ada retakan di ujung suaranya—bukan karena lelah, tetapi karena detak jantung yang belum kembali stabil.

Saat koreografi membuat mereka saling melintas, bahu mereka bersentuhan singkat—mungkin terlihat seperti bagian gerakan biasa, tapi bagi mereka, itu adalah pengesahan diam-diam bahwa kehadiran satu sama lain benar-benar ada di sisi ini, saat ini.

Jennie nyaris tersenyum saat bagian reff dinyanyikan bersama, tapi ia menahannya. Senyuman itu bukan untuk penonton. Belum. Ia menunduk sedikit, membiarkan rambutnya menutupi sebagian wajah, lalu kembali mendongak dengan mata yang sudah tertuju hanya ke satu arah—kamera yang berada tepat di depan Jisoo.

Sesuai kesepakatan tadi, Jennie berdiri di sisi kanan panggung, sedikit ke belakang. Ia tahu betul bahwa kamera itu akan menangkap ekspresi Jisoo dengan jernih, dan ia ingin tahu: apakah senyuman yang dijanjikan akan benar-benar sampai padanya?

Dan benar saja—ketika bagian bridge lagu memasuki transisi, saat Jisoo menatap ke kamera dan tersenyum... senyum itu tidak biasa. Ada jeda satu detik sebelum ia menyunggingkan bibirnya. Ada pelipatan halus di ujung matanya yang terlalu jujur untuk sekadar akting. Ada kemiringan kepala yang hanya Jennie yang memahami artinya.

Senyuman itu miliknya.

Jennie berdiri tegak, menyanyikan bagiannya dengan suara stabil. Tapi siapa pun yang cukup jeli akan menangkap bahwa nada suaranya terdengar sedikit lebih lembut, dan gerakannya sedikit lebih longgar, seolah tubuhnya baru saja ditenangkan oleh sesuatu yang familiar.

Lagu usai dengan ledakan suara dari penonton, lampu strobo menyala acak, dan para member berdiri di tengah panggung memberi salam penutup. Jennie dan Jisoo berdiri tak berdampingan, tapi cukup dekat untuk saling melihat dari sudut mata.

Tidak ada kata. Tidak ada isyarat besar. Tapi sebelum lampu benar-benar padam, dan mereka ditarik kembali ke belakang panggung oleh kru, Jisoo menoleh sedikit—tidak lebih dari sepersekian detik—dan Jennie membalasnya dengan anggukan kecil.





~






Riuh sorak penonton masih membekas bahkan setelah mereka turun dari panggung. Suara sepatu para kru, dentingan alat, serta percakapan teknis mulai kembali mengisi koridor belakang. Namun di balik semua kebisingan pasca-pertunjukan itu, ada semacam keheningan kecil yang hanya dirasakan oleh dua orang—sunyi yang hadir bukan karena tidak ada suara, tapi karena perhatian mereka hanya tertuju satu sama lain.

♡𝐉𝐞𝐧𝐒𝐨𝐨 𝐬𝐡𝐨𝐫𝐭 𝐬𝐭𝐨𝐫𝐲 𝐜𝐨𝐥𝐥𝐞𝐜𝐭𝐢𝐨𝐧♡Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang