Di sekolah menengah Ataraxia, ada satu nama yang selalu jadi perbincangan: Choi Jisoo.
Dengan tubuh tak begitu tinggi, rambut hitam rapi yang kadang jatuh ke dahinya, dan ekspresi wajah dingin seperti putri es, Jisoo adalah idola—baik di kalangan siswa-siswi maupun para guru yang mengagumi kedisiplinannya. Namun, satu hal yang membuatnya semakin misterius adalah sikapnya yang tak pernah menunjukkan ketertarikan pada siapa pun.
Hingga suatu hari, seorang siswi bernama Jennie—gadis ceria yang dikenal karena pipi gembilnya yang lucu seperti mandu—memutuskan untuk menjadi orang pertama yang 'membobol' hati si dingin Jisoo.
Seperti yang tertulis:
Aku Jennie, dan Misi Menaklukkan si dingin.
Kalimat itu tertulis JELAS dengan tinta hitam legam di atas buku akademik milik Jennie.
"Jennie, kau yakin ingin mendekati Jisoo?" bisik Irene, sahabatnya, sambil memandangi Jennie yang sedang mengintip dari balik pintu kelas. "Dia bahkan tidak pernah bicara pada siapa pun kecuali guru."
"Yakin! Aku ini Jennie, Ratu Keberanian!" jawab Jennie dengan penuh percaya diri, meski tangannya sedikit gemetar.
"Keberanianmu atau kebodohanmu, aku tak tahu bedanya," balas Irene dengan nada skeptis.
Di dalam kelas, Jisoo duduk sendirian di pojok ruangan, sibuk membaca buku tebal tentang fisika kuantum—entah karena benar-benar tertarik atau hanya ingin menghindari interaksi sosial.
Jennie melangkah masuk dengan senyum paling lebar yang bisa ia pasang.
"Hei, Choi Jisuu!" seru Jennie dengan riang.
Jisoo mendongak perlahan, tatapannya dingin seperti sedang menilai seseorang yang tiba-tiba datang mengganggu ketenangannya. "Ada apa?" tanyanya singkat, suaranya dalam dan tanpa emosi.
Jennie tidak mundur. Ia malah mendekat dan duduk di kursi di depan meja Jisoo. "Aku hanya ingin mengatakan... aku suka gayamu! Kau terlihat sangat memesona."
Ruangan menjadi hening. Bahkan Irene yang mengintip dari luar hampir menjatuhkan botol minumnya karena terkejut.
"Dan?" Jisoo menjawab datar, kembali menunduk pada bukunya.
"Dan... aku ingin menjadi temanmu!"
Jisoo menutup bukunya dengan perlahan, memandang Jennie sekali lagi, kali ini dengan sedikit rasa heran. "Kenapa?"
"Karena kau menarik!"
Jisoo mengangkat alisnya. "Aku menarik seperti apa? Sebuah magnet?"
Jennie tergagap, tidak menyangka akan mendapat jawaban seaneh itu. "Bukan... maksudku... kau menawan dan misterius!"
Jisoo menghela napas dan berdiri. "Aku tidak punya waktu untuk hal-hal seperti ini." Dia kemudian berjalan keluar kelas, meninggalkan gadis berpipi mandu itu yang kini hanya bisa duduk termangu.
~
"Dia meninggalkanku! Begitu saja!" Jennie mengadu pada Irene di kantin saat istirahat. "Aku tidak pernah dipermalukan seperti ini seumur hidupku."
"Aku sudah bilang, Jisoo bukan tipe orang yang mudah didekati," kata Irene sambil menyeruput jus jeruknya.
"Tapi justru itu yang membuatku semakin tertantang!" seru Jennie dengan penuh semangat. "Aku akan membuatnya berbicara padaku lebih dari dua kalimat. Lihat saja nanti!"
"Dan bagaimana caramu melakukannya? Melompat ke kolam renang sekolah dan pura-pura tenggelam supaya dia menyelamatkanmu?"
Jennie terdiam sejenak, lalu tersenyum lebar. "Itu ide bagus!" kemudian ia segera beranjak.
KAMU SEDANG MEMBACA
♡𝐉𝐞𝐧𝐒𝐨𝐨 𝐬𝐡𝐨𝐫𝐭 𝐬𝐭𝐨𝐫𝐲 𝐜𝐨𝐥𝐥𝐞𝐜𝐭𝐢𝐨𝐧♡
Fanfiction[Jensoo's collection of short story lines] Indonesian language. Title List :
