Rumah keluarga Tae berdiri kokoh di sudut perumahan elit. Bangunan dua lantai itu tampak rapi, setiap sudutnya dipoles dengan detail modern yang membuat Jennie selalu merasa agak canggung tiap kali melangkahkan kaki masuk. Namun, rasa kikuk itu segera sirna karena ada sesuatu-atau tepatnya seseorang-yang diam-diam ia tunggu di balik tembok rumah ini: Jisoo.
Jennie menggenggam kotak kecil berisi kue yang ia bawa sebagai basa-basi. Begitu pintu dibuka oleh Tae, ia langsung tersenyum.
"Masuklah, Sayang. Orangtuaku sedang di luar kota, jadi hanya ada aku dan Jisoo," ujar Tae sambil mempersilakan.
Jennie menangguk dan menapakkan kaki di ruang tamu yang terasa terlalu sepi. Aroma kopi samar menyelinap dari dapur, menandakan ada yang sedang berkutat di sana. Ia tahu benar siapa.
"Aku letakkan kue ini di meja makan saja, ya?" Jennie mencoba terdengar biasa.
"Letakkan saja. Kau bisa menyapanya sekalian, dia sedang di dapur," jawab Tae sembari melepas jas kerjanya.
Jennie melangkah ke arah dapur, jantungnya berdegup tidak semestinya. Jisoo berdiri dengan rambut diikat asal, wajah tanpa riasan, dan kemeja kebesaran yang lengan panjangnya digulung hingga siku. Ia sedang menuang air panas ke dalam cangkir.
Ketika Jennie masuk, Jisoo hanya melirik sebentar.
"Hai, aku bawa kue stroberi, kau suka, kan?" Jennie memberanikan diri.
Jisoo tidak langsung menjawab. Ia menutup teko, lalu berkata pelan, "Aku tidak terlalu suka manis."
Jawaban itu terdengar sederhana, tapi cara Jisoo mengatakannya membuat Jennie semakin ingin tahu banyak hal tentangnya. Ia meletakkan kotak kue dengan hati-hati, lalu pura-pura sibuk membuka pita di sekelilingnya.
Tae tiba-tiba masuk, menepuk bahu Jennie. "Sayang, aku harus keluar sebentar, ada urusan mendadak. Kau tunggu di sini saja, ya. Ji, temani Jennie."
Jennie menoleh cepat. "Kau pergi? Lama?"
"Tidak lama, paling satu jam." Tae mengambil kunci mobilnya dan berlalu.
Keheningan jatuh seketika. Hanya terdengar suara jam dinding dan denting sendok yang disentuhkan Jisoo ke gelasnya. Jennie berdiri kaku beberapa detik, lalu menarik kursi dan duduk.
"Kau tidak keberatan aku di sini, kan?" Jennie berusaha membuka percakapan.
Jisoo mengangkat alis tipis. "Mengapa harus keberatan? Ini rumahku."
Nada itu terdengar sinis, tapi bukan berarti menolak. Jennie justru menangkap ketenangan yang dingin, sesuatu yang membuatnya semakin tertarik.
"Aku sering dengar dari Tae, kau jarang bicara dengan orang asing," Jennie menyelidik.
"Aku tidak nyaman dengan orang baru. Tapi karena kau pacarnya, aku tidak punya pilihan." Jisoo menatap lurus dengan mata yang tajam namun kosong.
Jennie menahan senyum. "Aku tidak keberatan jadi pengecualian."
"Pengecualian apa?"
"Pengecualian untuk orang yang bisa kau ajak bicara."
Ucapan itu membuat Jisoo terdiam sejenak. Ia mengaduk minumannya, lalu menyeruput pelan. "Kau percaya diri sekali."
"Bukan percaya diri. Aku hanya ingin mengenalmu."
Jisoo menoleh, pandangannya menusuk. "Untuk apa?"
Jennie menelan ludah, sedikit gugup tapi tidak mau kalah. "Karena aku ingin tahu alasan di balik wajah dinginmu. Kau selalu tampak sulit didekati."
Jisoo terkekeh pendek. "Itu hanya sifatku. Kalau kau berharap aku akan berubah, jangan buang waktu."
Jennie tersenyum samar. "Aku tidak ingin kau berubah. Aku hanya ingin mengerti."
KAMU SEDANG MEMBACA
♡𝐉𝐞𝐧𝐒𝐨𝐨 𝐬𝐡𝐨𝐫𝐭 𝐬𝐭𝐨𝐫𝐲 𝐜𝐨𝐥𝐥𝐞𝐜𝐭𝐢𝐨𝐧♡
Fanfiction[Jensoo's collection of short story lines] Indonesian language. Title List :
