2. Not Yours, She's Mine!

509 87 6
                                        

Seminggu setelah insiden kecil di kelas, sekolah mengadakan kegiatan berkemah akhir pekan di kawasan perbukitan yang tidak terlalu jauh dari kota. Cuaca terbilang stabil—matahari tidak terlalu terik, angin cukup ramah, dan hawa sejuk yang khas perlahan meresapi seluruh area perkemahan. Para siswa sibuk mengikat tenda, menurunkan peralatan, dan saling meminjam barang.

Jennie dan Jisoo berada di kelompok yang sama—hal yang tentu saja disyukuri Jennie, meski ia tidak mengakui secara terang-terangan. 

Kegiatan pertama adalah pendakian kecil menuju titik observasi. Jalurnya tidak berat, tetapi cukup membuat beberapa siswa yang kurang terbiasa—tampak sudah kewalahan. Sana berjalan beberapa langkah di belakang Jisoo, berusaha mempertahankan ritme napasnya. Jisoo sempat menoleh beberapa kali, tetapi setiap kali ia bertanya, Sana menjawab dengan kalimat yang sama:

"Aku baik-baik saja."

Namun dari cara jemarinya mencengkeram tali ransel, serta rona pucat yang menguasai wajahnya, Jisoo tahu bahwa itu tak sepenuhnya benar.

Jennie, di sisi lain, justru sibuk mengawasi orang yang mengawasi Sana. Ia tidak memberi komentar apa pun, tetapi matanya mengikuti Jisoo seperti bayangan yang setia dan... waspada.

Setengah perjalanan, barisan siswa mulai melebar. Beberapa anak mempercepat langkah, sementara yang lain tertinggal. Jisoo kebetulan berada paling dekat dengan Sana ketika suara tubuh jatuh terdengar dari belakang.

Sana terhuyung sebelum benar-benar tumbang.

"Sana!" seru Jisoo tanpa pikir panjang.

Ia langsung meraih tubuh gadis itu, menahan sebelum kepala Sana menyentuh tanah. Guru yang mengawasi panik dan meminta siswa lain membuka ruang. Jisoo memeriksa napas Sana—masih ada, tetapi lemah. Wajahnya pucat pasi, keringat dingin membasahi pelipis.

"Dehidrasi," ujar Jisoo cepat. "Kita harus bawa dia turun."

"Guru sudah meminta bantuan lewat HT," ujar salah satu teman sekelompok. "Tapi mereka masih berada di bawah."

"Tidak apa. Aku gendong sekarang."

"Jisoo, berat—"

"Tidak masalah."

Dengan gerakan cepat dan stabil, Jisoo menunduk, menarik lengan Sana ke belakang lehernya, lalu mengangkatnya dengan metode gendong punggung. Sana tidak sadarkan diri, kepala terkulai di bahu Jisoo.

Jennie hanya bisa menatap.

Untuk pertama kalinya, ia tidak mengeluarkan komentar, tidak melontarkan sindiran, tidak menggerutu, tidak mendekat untuk memastikan Jisoo tidak kelebihan inisiatif—tidak ada apa-apa selain diam. Diam yang tidak pernah Jisoo lihat sebelumnya.


~


Sesampainya di titik perkemahan, Sana langsung dibaringkan di tenda untuk mendapat pertolongan. Para siswa kembali ke aktivitas semula. Jisoo masih terlihat berkeringat karena perjalanan menggendong Sana yang cukup jauh, tetapi ia tetap tenang, hanya meminta botol air pada salah satu temannya.

Di sisi lain lapangan, Jennie duduk sendirian di log kayu panjang, memeluk lutut tanpa ekspresi. Sejak insiden tadi, ia tidak mengucapkan satu kata pun.

Jisoo menghampiri.

"Jennie," panggilnya pelan.

Jennie tidak menoleh.

"Kau baik-baik saja?"

Tidak ada jawaban.

Jisoo menarik napas panjang. "Jika kau marah karena aku menggendong Sana—"

♡𝐉𝐞𝐧𝐒𝐨𝐨 𝐬𝐡𝐨𝐫𝐭 𝐬𝐭𝐨𝐫𝐲 𝐜𝐨𝐥𝐥𝐞𝐜𝐭𝐢𝐨𝐧♡Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang