Bulan-bulan berlalu.
Satu musim berganti, disusul musim berikutnya tanpa banyak terasa. Dan tanpa ada siapapun yang menyadarinya, rumah yang dahulu terasa terlalu lapang untuk dua orang kini perlahan dipadati benda-benda berukuran mungil yang hampir mengambil alih seluruh ruang.
Pakaian bayi yang bahkan tidak lebih besar dari kedua telapak tangan.
Mainan bayi yang entah bagaimana terus bertambah meski belum ada penghuni kecil yang memainkannya.
Buku panduan kehamilan dengan lembar-lembar yang dijejali penanda warna-warni.
Vitamin yang memenuhi laci dapur.
Serta berbagai perlengkapan lain yang menurut Jennie dibuat khusus hanya untuk menguras isi rekening para calon orang tua.
Memiliki anak memang telah mereka rencanakan. Namun keputusan itu tidak lahir dari percakapan semalam, apalagi semata-mata karena dorongan keluarga.
Ada begitu banyak hal yang lebih dahulu mereka timbang.
Tentang kesiapan, tentang pekerjaan yang kelak harus diselaraskan dengan kehidupan baru, tentang rumah yang perlahan akan berhenti menjadi milik mereka berdua semata, dan, yang paling sering mereka bicarakan, tentang bagaimana mereka ingin mewujudkan makhluk kecil itu sendiri.
Sebagai pasangan sesama wanita, jalan yang mereka tempuh tentu berbeda dengan kebanyakan pasangan lain.
Mereka berkonsultasi dengan dokter spesialis fertilitas, menjalani serangkaian pemeriksaan kesehatan, mempertimbangkan setiap kemungkinan yang tersedia, hingga pada akhirnya memulai program kehamilan berbantu sebagaimana direkomendasikan oleh tim medis.
Prosesnya panjang.
Kadang melelahkan.
Kadang membuat harapan terasa setipis benang.
Lalu ketika hasil pemeriksaan akhirnya menampilkan dua garis yang selama beberapa pekan hanya berani mereka tatap berulang kali demi memastikan bahwa mata mereka tidak sedang dikelabui harapan sendiri, Jennie menjadi orang pertama yang runtuh oleh haru.
Air matanya jatuh tanpa sempat ia bendung.
Sementara Jisoo yang sok kuat bertahan beberapa detik lebih lama, nyatanya begitu melihat Jennie menangis sambil menggenggam alat uji kehamilan dengan tangan yang bergetar-pertahanannya pun luruh juga, ia ikut terisak-isak.
Keduanya sama-sama tidak bisa membendung kebahagiaan yang datang dalam ukuran sebesar itu.
Beberapa pekan berselang, dokter menggerakkan transduser ultrasonografi perlahan di atas perut Jennie. Tatapannya tertuju pada monitor sebelum senyum tipis perlahan merekah di wajahnya.
"Selamat."
Beliau mengangkat telunjuk, mengisyaratkan layar di hadapan mereka.
"Ada dua."
Kembar.
Jennie sontak menoleh kepada Jisoo.
Jisoo, pada waktu yang bersamaan, justru memandang dokter dengan raut yang seolah meminta konfirmasi sekali lagi.
Sang dokter hanya mengangguk pelan seraya tersenyum tipis sebagai respons.
Sesaat kemudian, keduanya kembali mengalihkan perhatian ke layar monitor, membisu dalam keterkejutan yang sama.
Bayi kembar tidak pernah masuk ke dalam rencana mereka.
Namun agaknya kehidupan memang memiliki kegemaran menyelipkan kejutan-kejutan yang tak pernah tercantum dalam daftar mana pun.
KAMU SEDANG MEMBACA
♡𝐉𝐞𝐧𝐒𝐨𝐨 𝐬𝐡𝐨𝐫𝐭 𝐬𝐭𝐨𝐫𝐲 𝐜𝐨𝐥𝐥𝐞𝐜𝐭𝐢𝐨𝐧♡
Fanfiction[Jensoo's collection of short story lines] Indonesian language. Title List :
