Happy reading~
--
--
Pantai sore itu sepi.
Angin menggeser pasir perlahan seperti ingatan yang enggan hilang sepenuhnya. Langit tak terlalu cerah, tapi juga belum bisa disebut gelap. Ombak datang dan pergi, sama seperti sebagian kenangan dalam benak Jisoo yang hari itu memilih datang ke tempat itu—pantai yang pernah menjadi saksi saat ia pertama kali bertemu Jennie.
Ia berdiri sejenak di tepian. Sepatunya ditanggalkan, kaki telanjangnya menekan butiran pasir yang masih hangat sisa matahari. Ia menunduk, memandangi riak ombak.
Lalu berkata lirih, lebih kepada dirinya sendiri:
"Tempat ini tidak banyak berubah... hanya aku yang datang dengan seseorang yang berbeda."
Rosé menyusul dari belakang, membawa dua es krim dalam tangan. "Kenapa diam? Kau terlihat seperti baru saja dihukum kepala sekolah," katanya sambil menyodorkan satu es krim ke tangan Jisoo.
"Aku hanya... mengenali aroma laut ini. Sama seperti dulu."
Jisoo mengambil es krim itu, menggigitnya tanpa benar-benar memperhatikan rasa.
Rosé mengerutkan alis. "Sama seperti dulu? Kau pernah ke sini sebelumnya?"
Ia menoleh ke kanan dan kiri, seperti mencari jejak orang-orang yang barangkali dikenali Jisoo.
"Ada seseorang yang pernah kutemui di sini," jawab Jisoo. Suaranya datar. "Sudah lama."
"Teman lama?" Rosé tampak penasaran, tapi tak terlalu memaksa.
Jisoo hanya mengangguk. "Bisa dibilang begitu."
Rosé tertawa kecil. "Kau misterius sekali hari ini. Biasanya kau cerewet, bahkan soal hal-hal sepele seperti warna sandal orang."
Jisoo mendengus, lalu mendadak menyipratkan air ke kaki Rosé. Gadis itu menjerit kecil, mundur sambil tertawa.
"Jisoo!" katanya setengah marah.
Jisoo menyeringai. "Kau terlalu kering. Sedikit air tidak akan membunuhmu."
Rosé tertawa sambil membalas menyipratkan air. Mereka berlari kecil di tepian, seperti anak-anak yang melupakan usia. Saling menggoda, saling mengejar.
Tawa mereka lepas.
Begitu lepasnya, hingga tak sengaja mengundang perhatian seseorang yang tak jauh dari sana.
Jennie berdiri di balik batang kelapa miring yang menyatu dengan hamparan pasir dan ilalang. Ia tak berniat mencari siapapun hari ini. Ia hanya ingin menyendiri sejenak. Tapi suara itu... suara tawa yang ia kenali meski waktu telah banyak mencuri jarak—itu suara Jisoo.
Tubuhnya kaku.
Kepalanya berputar perlahan.
Dan di kejauhan, ia melihat Jisoo.
Dengan seseorang di sampingnya.
Seorang perempuan dengan rambut pirang dan raut manis yang sedang tertawa lepas, begitu nyaman di sisi Jisoo.
Untuk sesaat, Jennie tidak bergerak.
Dunia terasa sepi, meski tawa mereka masih bergema.
Ada sesuatu di dadanya yang seperti tersenggol pelan, tidak menghancurkan, tapi cukup untuk membuatnya sulit bernapas.
Ia tak berniat menguping. Tapi gelombang membawa suara-suara itu. Suara yang dulu begitu sering ia dengar saat malam-malamnya tak bisa tidur.
Suara yang ia kenali lebih dari siapa pun.
Jisoo tampak bahagia. Itu jelas.
Matanya mengerling ke arah Rosé. Senyumannya tulus. Gerak tubuhnya santai.
Ia bahkan tidak menoleh ke mana-mana. Seolah dunia hanya milik mereka berdua.
KAMU SEDANG MEMBACA
♡𝐉𝐞𝐧𝐒𝐨𝐨 𝐬𝐡𝐨𝐫𝐭 𝐬𝐭𝐨𝐫𝐲 𝐜𝐨𝐥𝐥𝐞𝐜𝐭𝐢𝐨𝐧♡
Fanfiction[Jensoo's collection of short story lines] Indonesian language. Title List :
