Happy reading ~
😙
••
Jalanan di distrik Seongbuk mulai lengang ketika jam sekolah berakhir. Di antara perumahan kelas atas, sebuah rumah besar berarsitektur kolonial modern berdiri dengan halaman luas yang tak pernah benar-benar sepi. Di sana, langkah Jisoo selalu terdengar paling pelan—berbeda dengan keramaian dunia yang menjadikannya bagian tak terlihat.
Hari itu, ia turun dari mobil keluarga tuan rumah. Seragam SMP-nya tak lagi rapi, bahu kanan sedikit robek, mungkin karena tersangkut pagar sekolah atau ditarik temannya yang usil. Ia tidak mempermasalahkan. Toh tak ada yang menanyakannya.
Tapi satu suara, seperti biasa, tak pernah absen menyambutnya.
"Unnie!"
Langkah Jisoo melambat, tidak karena terkejut, melainkan karena sudah menduga. Seperti langganan yang tak pernah terputus, suara itu datang di waktu dan nada yang sama setiap harinya.
Di tengah pelataran rumah, Jennie berdiri. Rambutnya dikuncir dua, seragam TK-nya terlalu bersih untuk anak seusia itu. Tangannya menggenggam boneka kelinci lusuh, yang warnanya sudah tak bisa didefinisikan sebagai putih.
"Aku menunggumu sejak tadi," kata Jennie sambil menghampiri.
Jisoo menunduk sedikit, sekadar melihat apakah gadis kecil itu mengenakan alas kaki. Tidak.
"Di mana sandalnya?"
"Lepas. Kupikir lebih cepat kalau aku berlari."
"Dan lebih mudah jatuh," gumam Jisoo, tak benar-benar menegur.
Mereka berjalan berdampingan. Satu tinggi, satu masih sepaha. Langkah Jisoo tenang, Jennie setengah berlari agar sejajar. Dari luar, perbedaan mereka mencolok: satu remaja dengan ekspresi datar, satu anak kecil dengan wajah riang dan terlalu banyak pertanyaan.
"Unnie," ujar Jennie pelan, "hari ini aku menggambar kita berdua."
Jisoo menoleh sekilas. "Apakah aku terlihat lebih pendek dari kenyataan?"
Jennie menggeleng keras. "Tidak. Aku bahkan membuatmu bersayap."
Jisoo tak bereaksi, tapi pandangannya sedikit menurun. "Aku bukan malaikat."
"Tapi aku merasa aman kalau kamu ada."
Itu bukan pujian. Itu fakta dari anak kecil yang tidak belajar menyusun kata secara politis. Jisoo tak tahu bagaimana harus menanggapinya.
"Ada banyak hal yang bisa membuatmu aman. Kunci pintu. Orang tua. Satpam sekolah."
"Tapi tidak ada yang membuatku tenang seperti saat aku bersamamu, Unnie."
Kalimat itu menggantung. Jisoo tidak menepisnya, juga tidak menerimanya. Ia hanya membuka pintu dan membiarkan Jennie masuk lebih dulu.
~
Makan malam selalu menjadi pertemuan dua keluarga, meski dari luar tampak tak sepadan. Nyonya Kim, ibu Jennie, duduk di satu sisi meja, ibu Jisoo sedang menyiapkan lauk pauk lain di dapur, sedang ayah Jisoo, dengan kemeja sederhana dan rambut mulai memutih, duduk di sisi lain. Tidak ada formalitas antara mereka. Seolah-olah hubungan kerja telah ditanggalkan dan diganti dengan semacam kekeluargaan yang aneh tapi fungsional.
Jennie, seperti biasa, duduk di samping Jisoo. Piringnya tak disentuh sampai sendok Jisoo mulai bergerak.
"Kamu tidak lapar?" tanya Jisoo tanpa menoleh.
KAMU SEDANG MEMBACA
♡𝐉𝐞𝐧𝐒𝐨𝐨 𝐬𝐡𝐨𝐫𝐭 𝐬𝐭𝐨𝐫𝐲 𝐜𝐨𝐥𝐥𝐞𝐜𝐭𝐢𝐨𝐧♡
Fanfiction[Jensoo's collection of short story lines] Indonesian language. Title List :
