°°
Hari-hari berlalu, dan meskipun hidup bersama Jennie membuat Jisoo sering mengelus dada, ia tak bisa menyangkal bahwa apartemennya terasa jauh lebih hidup sekarang. Ada kehangatan baru, meski sering kali diwarnai kekacauan kecil.
Seiring waktu, Jennie semakin menyesuaikan diri dengan bentuk barunya. Ia mulai belajar cara bersikap seperti manusia, meskipun sisi "kucing"-nya tetap muncul di saat-saat tak terduga.
Misalnya, ia suka merebut tempat tidur Jisoo, meringkuk di tengah selimut, dan mendengkur keras.
*hahh~*
Jisoo menghela napas panjang saat membuka pintu kamar. Setelah seharian penuh dengan pekerjaan, tubuhnya bahkan sudah menuntut untuk segera beristirahat. Tapi pandangannya langsung tertuju pada sosok Jennie yang sudah lebih dulu meringkuk di tengah ranjangnya, terbungkus selimut tebal seperti kepompong.
“Jennie,” panggil Jisoo setengah lelah, “Itu tempat tidurku. Kamu punya kasur sendiri, ingat?”
Jennie hanya mengintip dari balik selimut dengan mata tajam khasnya, seperti kucing yang merasa wilayahnya sedang diancam. “Tapi di sini lebih hangat,” jawabnya singkat, suaranya datar namun terdengar manja.
Jisoo mendekat, mencoba menarik selimut yang membungkus tubuh Jennie. “Kalau kamu terus seperti ini, aku harus tidur di sofa lagi.” omelnya.
Namun Jennie tidak bergeming. Sebaliknya, ia malah mendengkur keras, sebuah kebiasaan yang entah bagaimana terbawa dari kehidupannya sebagai kucing. Suaranya rendah dan menenangkan, tapi di saat yang sama, mengganggu niat Jisoo untuk memaksa.
“Ya ampun,” gumam Jisoo sambil memijat pelipisnya. “Aku benar-benar sedang menghadapi kucing raksasa dalam tubuh manusia.”
Atau tiba-tiba melompat ke punggung Jisoo saat ia sedang memasak.
Jisoo sedang sibuk mengaduk sup di panci ketika tiba-tiba sebuah beban melompat ke punggungnya. “Aww, Jennie!” serunya, hampir menjatuhkan sendok yang dipegangnya.
Jennie tertawa kecil di atas punggung Jisoo, tangannya memeluk leher Jisoo seperti anak kecil yang meminta perhatian. “Kamu terlalu lama di dapur. Aku bosan.”
“Bosan?” Jisoo mencoba menyeimbangkan tubuhnya sambil melirik ke belakang. “Kalau begitu, cari sesuatu untuk dilakukan! Dan tolong, jangan melompat ke punggungku seperti itu. Aku hampir menjatuhkan makanan kita!”
“Tapi ini seru,” balas Jennie dengan nada puas, pipinya menyentuh bahu Jisoo. “Lagipula, aku suka ketinggian.”
Jisoo hanya bisa menghela napas lagi, kali ini lebih panjang. “Jennie, aku tidak tahu apa yang lebih sulit—memasak untukmu atau mengurusmu. Kamu benar-benar tidak berubah dari seekor kucing, ya?”
Jennie tersenyum jahil, tetapi tak mengatakan apa-apa. Dia hanya mempererat pelukannya sebelum akhirnya melompat turun dengan gerakan gesit, meninggalkan Jisoo yang masih kebingungan antara kesal atau gemas.
Namun, ada sesuatu yang berubah di antara mereka. Jennie, yang awalnya terasa seperti beban tambahan dalam hidup Jisoo, kini perlahan menjadi seseorang yang... berarti.
• • •
Akhir pekan, Jisoo memutuskan untuk bersantai setelah hari-hari sebelumnya penuh dengan bekerja dan bekerja. Kini ia tengah sibuk merapikan apartemen kecilnya ketika ponselnya berdering. Nama Lisa muncul di layar.
“Jisoo-ya! Aku ingin mampir ke rumahmu. Aku di dekat sini, bawa ayam goreng kesukaanmu. Boleh, kan?”
Tanpa sempat berpikir panjang, Jisoo menjawab, “Tentu, datang saja!”
KAMU SEDANG MEMBACA
♡𝐉𝐞𝐧𝐒𝐨𝐨 𝐬𝐡𝐨𝐫𝐭 𝐬𝐭𝐨𝐫𝐲 𝐜𝐨𝐥𝐥𝐞𝐜𝐭𝐢𝐨𝐧♡
Fanfiction[Jensoo's collection of short story lines] Indonesian language. Title List :
