3. TWISTED LOVE -End.

578 90 20
                                        


Empat minggu. Tepat dua puluh delapan hari.

Itulah waktu yang telah berlalu sejak Jennie melihat Jisoo terakhir kali di beranda belakang—waktu terakhir mereka duduk berdampingan tanpa menyebut nama untuk rasa yang sudah tumbuh terlalu dalam. Sejak saat itu, layar ponselnya hanya menampilkan centang tunggal. Tak ada balasan. Tak ada notifikasi yang membuat jantungnya berdebar kecil.

Hanya sunyi.

Dan waktu, yang biasanya membuat rindu terasa manis, kini berubah getir.

Jennie masih bersekolah seperti biasa. Ia masih menyapa guru, menyelesaikan tugas, bahkan tertawa kecil saat teman sekelasnya membuat lelucon. Tapi setiap waktu istirahat, ia akan menunduk melihat layar ponsel. Ia tahu benar bahwa Jisoo tidak sedang ke luar negeri. Ia tahu perkuliahan sedang dalam masa tenang sebelum ujian pertengahan semester. Maka satu-satunya alasan yang masuk akal... adalah bahwa Jisoo sedang menghindar.

Dan itu membuat dada Jennie sesak.

Sore itu, ia duduk di meja makan. Di luar, hujan baru saja turun. Aroma tanah dan udara basah menguar dari celah jendela. Di halaman belakang, terlihat ayah Jisoo sedang menyapu daun di dekat garasi, dan ibu Jisoo sedang mencuci keranjang kain lap di dekat jemuran.

Keduanya tampak lebih tua dari biasanya. Garis-garis di wajah mereka semakin dalam, dan gerakan mereka lebih lambat.

Jennie berdiri dari kursi, mengambil payung kecil, lalu melangkah keluar.

"Aah, Nona kecil," sapa ayah Jisoo begitu melihatnya. "Jangan ke luar. Tanah masih licin."

Jennie tersenyum tipis. "Aku tidak kecil lagi, Paman."

Ayah Jisoo terkekeh pelan, lalu menyenderkan sapunya ke tembok pagar.

"Boleh aku bertanya sesuatu?" ucap Jennie.

"Tentu."

"Apakah Unnie... baik-baik saja di sana?"

Ayah Jisoo terdiam sesaat, lalu menoleh ke arah istrinya seakan meminta konfirmasi diam-diam. Sang istri hanya melanjutkan pekerjaannya, tapi dari gerakan tubuhnya tampak jelas: mereka sudah menduga pertanyaan itu akan datang.

"Dia... sibuk," jawab ayah Jisoo akhirnya.

"Sibuk... atau menjauh?" tanya Jennie.

Lelaki tua itu menatap gadis di depannya. Dulu anak ini hanya sebatas penggemar anaknya. Tapi kini, dari tatapan matanya, dari sikapnya yang menahan banyak hal—terlihat jelas bahwa ini bukan sekadar kekaguman.

Ia menghela napas.

"Jisoo memang... agak rumit, Jennie-ya. Dia memikirkan terlalu banyak hal dalam waktu yang terlalu sempit."

"Dan aku bagian dari hal yang dia pikirkan?"

"Jika kamu bukan bagian dari itu, dia mungkin tak akan menjauh."

Jennie menggenggam ujung payungnya lebih erat.

"Tapi aku tak pernah meminta ia untuk menjauh. Aku hanya jujur," ucapnya dalam benak.

Jennie berdiri di situ cukup lama, sebelum akhirnya kembali masuk ke rumah. Ia naik ke kamarnya, meletakkan payung, lalu duduk di sisi tempat tidur.

Ia membuka ponsel. Layar masih sama: tidak ada notifikasi baru dari Jisoo. Tapi ia tetap membuka percakapan lama mereka. Ia membaca ulang pesan terakhir yang ia kirim tiga minggu lalu:

"Unnie, aku tidak tahu apa yang sedang kamu pikirkan. Tapi aku masih di tempat yang sama. Menunggu. Tanpa banyak menuntut. Hanya... tolong jangan membuat aku merasa seperti mimpi burukmu."

♡𝐉𝐞𝐧𝐒𝐨𝐨 𝐬𝐡𝐨𝐫𝐭 𝐬𝐭𝐨𝐫𝐲 𝐜𝐨𝐥𝐥𝐞𝐜𝐭𝐢𝐨𝐧♡Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang