2. Coincidental Love

546 84 42
                                        

Hari-hari setelah Jennie tinggal di rumah itu berjalan tanpa kehebohan berarti. Tak ada kejadian dramatis, tak ada konflik besar, hanya pergantian waktu yang diam-diam mempererat keberadaan mereka dalam satu atap. Seperti air yang mengalir pelan ke sela-sela celah, kehadiran Jennie lambat laun menyusup ke dalam ritme kehidupan Jisoo yang selama ini tertata terlalu ketat.

Jennie tidak banyak bicara, tapi setiap gesturnya penuh pengertian. Ia tahu kapan harus mundur, kapan membantu. Ketika Jisoo pulang dengan wajah letih, ia tidak menanya terlalu banyak. Ia hanya menaruh secangkir teh hangat di meja, dan kadang menyapu anak rambut dari pelipis Ella yang tidur terlalu cepat di sofa.

Ella menyukainya. Itu jelas terlihat dari caranya menunggu di depan pintu saat matahari condong ke barat, menanti Jennie kembali dari membeli bahan masakan kecil atau mengambil paket. Anak itu kini punya kosakata baru, "kak Jennie lucu," "kak Jennie masak nasinya empuk," atau "aku ingin tidur dengan kak Jennie boleh tidak?"

Jisoo kadang hanya tersenyum samar saat mendengarnya, lalu melanjutkan membaca laporan dari kantor sambil sesekali menatap Jennie dari balik layar laptop. Pandangan yang tidak pernah ia akui secara lisan—pandangan yang lebih sering ia hindari.

8.00 PM

Malam hari adalah waktu yang paling senyap, dan sekaligus paling rentan. Seperti malam ini, saat Ella sudah terlelap lebih awal dari biasanya karena terlalu banyak bermain air saat mandi sore. Jisoo duduk di meja makan, merapikan berkas-berkas kerja yang tidak kunjung selesai. Jennie sedang mencuci gelas terakhir di dapur, punggungnya menghadap ruangan. Kaus abu-abu lengan panjangnya menggantung sedikit di bahu, memperlihatkan garis lehernya yang tenang.

"Apakah kau tidak bosan tinggal di sini?" tanya Jisoo tiba-tiba, tanpa menoleh.

Jennie menoleh pelan, membilas gelas dengan air terakhir lalu mematikannya. Ia menyeka tangan dengan kain kecil sebelum menjawab.

"Tidak."

Satu kata. Tapi cara ia mengucapkannya—datar, tapi bukan dingin—membuat Jisoo meletakkan pulpen. Ia menoleh. "Kenapa tidak?"

Jennie berjalan perlahan ke meja makan, duduk di seberangnya. "Karena rumah ini memberi ruang. Bukan hanya tempat untuk bernaung, tapi tempat untuk... tidak merasa salah."

Jisoo mengangkat alis sedikit. "Salah dalam hal apa?"

"Aku terbiasa menyimpan terlalu banyak hal sendiri. Di sini, aku tidak harus banyak menjelaskan."

Keheningan kembali melingkupi, tapi bukan keheningan yang ganjil. Jisoo mengangguk kecil. "Aku rasa aku mengerti."

Mereka duduk diam beberapa saat. Jam dinding berdetak, nyaris tidak terdengar.

"Jujur saja," ujar Jisoo akhirnya, "aku sempat ragu menawarkanmu tinggal di sini. Takut ini jadi keputusan emosional yang tidak bijak."

Jennie menatapnya. "Apakah sekarang kau merasa begitu?"

Jisoo memandangi wajah perempuan di hadapannya. Tak ada riasan, tak ada polesan kata-kata, tapi dari cara Jennie duduk—tegak, tapi tidak menjaga jarak—Jisoo bisa melihat bahwa kehadirannya bukan beban.

"Tidak," jawab Jisoo pelan.

Jennie menyentuh cangkir yang sudah kosong di atas meja. Jemarinya menyusur pinggirannya pelan-pelan, seolah mencari sesuatu untuk dilakukan, atau sekadar menahan diri.

"Jika boleh jujur juga..." katanya kemudian. "Aku tidak hanya tinggal di sini karena Ella."

Jisoo menatapnya, tak berkata apa-apa.

"Sejak di taman itu... ada sesuatu yang terasa... aman. Dan aku butuh rasa aman itu."

Lama mereka saling diam, hanya pandang. Tidak ada kata yang lebih cocok dari diam pada saat seperti itu. Diam yang tidak melukai, diam yang mempersilakan rasa itu tumbuh, mengalir, menuntut ruangnya sendiri.

♡𝐉𝐞𝐧𝐒𝐨𝐨 𝐬𝐡𝐨𝐫𝐭 𝐬𝐭𝐨𝐫𝐲 𝐜𝐨𝐥𝐥𝐞𝐜𝐭𝐢𝐨𝐧♡Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang