4. When The Heart's Chooses -End

650 127 22
                                        


Malam mulai turun di atas kota. Di dalam mobil yang meluncur tenang melewati jalan-jalan basah, Jennie menyetir dengan satu tangan di setir, tangan lainnya menggenggam tangan Jisoo yang terletak di pangkuannya. Dari jendela, lampu kota membias lembut di kaca. Tapi yang lembut tak selalu menyenangkan.

Jisoo menatap keluar, diam. Hatinya bergolak seperti danau yang dipukul batu, tak menunjukkan riaknya di permukaan.

"Kau kenapa? Lelah?" tanya Jennie sembari menoleh sekilas.

Jisoo tersenyum tipis. "Tidak. Hanya... hari ini cukup panjang."

Jennie mengangguk, mengira itu hanya lelah biasa. Padahal, Jisoo tengah sibuk menahan gempuran suara Tiffany di benaknya: "Jauhi putriku."

Sejak itu, seolah ada dinding bening yang berdiri di antara dirinya dan Jennie. Ia belum tahu apakah ia ingin melompati dinding itu, atau menjauh perlahan agar tak melukai siapa-siapa.



~



Keesokan harinya, Jennie kembali datang ke bengkel. Membawa dua gelas kopi hangat dan senyum yang sama seperti biasa. Tapi saat ia menyodorkan salah satunya ke Jisoo, perempuan itu menyambut dengan anggukan singkat, tak lagi dengan sorot mata jenaka seperti biasanya.

"Kenapa sikapmu aneh sejak kita pulang dari rumahku?" tanya Jennie pelan, matanya tak berkedip.

Jisoo meletakkan gelasnya di atas meja kerja. Tangannya sibuk membersihkan karburator yang sebenarnya sudah bersih.

"Aku hanya... sedang banyak pikiran," jawabnya. "Tak ada hubungannya denganmu."

"Itu yang selalu dikatakan orang saat sebenarnya memang ada hubungannya denganku."

Jisoo tertawa tipis, pahit. "Kau terlalu pintar untuk dibohongi, ya?"

"Sayangnya, ya."

Hening menyelusup. Hanya suara mesin dan aroma oli yang jadi pengiring. Jennie duduk di peti bekas, menatap Jisoo tanpa berkata-kata. Sementara Jisoo... ingin sekali bicara. Tapi suara Tiffany kembali menggema dalam pikirannya:

"Aku tahu kau bukan orang jahat. Tapi kau bukan dari dunia kami."




~





Beberapa hari berlalu. Jennie tak kunjung datang. Bukan karena tak ingin, tapi karena Jisoo sendiri yang tak menjawab pesan atau panggilan. Jennie menunggu, satu hari, dua hari, hingga akhirnya datang ke bengkel dengan wajah tanpa senyum.

Jisoo terkejut, tapi tidak mundur.

"Jennie..."

"Aku tidak gila, Jisoo. Aku tahu ada yang kau sembunyikan sejak hari itu."

"Aku tidak ingin menyakitimu."

"Tapi kau melukai dengan tidak bicara apa-apa."

Jisoo menarik napas panjang. Ia menatap Jennie dalam-dalam, seperti mencari kekuatan dalam pupil perempuan itu.

"Ibumu menyuruhku menjauh darimu."

Kalimat itu jatuh seperti peluru—bukan karena keras, tapi karena tepat.

Jennie diam. Bibirnya mengatup, matanya berkedip sekali. Perlahan ia duduk di kap mobil yang dingin. Angin sore membelai mereka, tapi tak satupun bergeming.

"Dan kau mengiyakan?"

"Aku tidak tahu harus bagaimana. Aku bukan siapa-siapa dibandingkan duniamu, Jennie. Aku hanya montir, orang biasa. Dan aku tidak ingin menjadi luka dalam sejarah hidupmu."

Jennie tersenyum miring, pahit.

"Kau pikir aku belum cukup terluka? Tapi tak ada yang seperti ini. Karena luka yang ini... aku yang memilih menahannya sendiri."









♡𝐉𝐞𝐧𝐒𝐨𝐨 𝐬𝐡𝐨𝐫𝐭 𝐬𝐭𝐨𝐫𝐲 𝐜𝐨𝐥𝐥𝐞𝐜𝐭𝐢𝐨𝐧♡Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang