2. The Contract of Us

522 103 26
                                        

Begitu pintu utama tertutup di belakang mereka, suasana rumah yang tadinya ramai oleh obrolan keluarga mendadak berganti menjadi keheningan suasana halaman malam. Lampu-lampu taman menyorot hangat ke arah jalan setapak, membuat bayangan Jisoo dan Jennie memanjang di atas kerikil halus.

Jennie menghembuskan napas panjang, seakan baru saja menyelesaikan ujian yang tak ia pelajari.

"Aku pikir kau akan lebih banyak bicara," kata Jisoo sambil menuruni tiga anak tangga menuju jalan masuk.

"Aku sedang berusaha tidak salah ucap," jawab Jennie, setengah jujur. "Orang tuamu terlalu ramah. Itu membuatku lebih gugup."

Jisoo menoleh sebentar, membenarkan letak strap tasnya. "Mereka memang begitu. Kalau mereka tidak menyukaimu, mereka akan lebih dingin. Tapi mereka tampak menerima kehadiranmu tanpa masalah."

Jennie meringis kecil. "Aku tidak tahu apakah itu hal yang baik, atau justru membuat kebohongan ini terasa lebih... berat."

"Kau tidak perlu terlalu memikirkannya," sahut Jisoo. "Mereka tipe yang percaya apa yang dilihat. Selama kau menjalankan peranmu dengan normal, semuanya akan berjalan lancar."

Jennie menatap lurus ke depan, memperhatikan mobil mereka menunggu dalam posisi siap. "Aku hanya takut membuatmu terlihat buruk."

"Kau tidak membuatku terlihat apa pun," balas Jisoo cepat. "Kau sudah cukup baik hari ini."

Ada jeda singkat. Jisoo jarang memberikan pujian, dan Jennie tidak tahu harus menanggapi bagaimana.

"...terima kasih," ucap Jennie kemudian.

Setibanya di depan mobil, Jisoo menahan pintu sebelum supir sempat membukanya. Ia berdiri menghadap Jennie, tubuhnya disandarkan sedikit pada pintu mobil, ekspresi lebih serius daripada tadi di dalam rumah.

"Ada satu hal yang harus kuberitahukan," ujar Jisoo.

Jennie menegakkan tubuh. "Apa?"

"Minggu depan adalah ulang tahun ibuku. Akan ada acara besar. Banyak tamu. Saudara, kolega bisnis, orang-orang yang terlalu ingin tahu urusan keluarga kami," beritahunya. 

Jennie langsung paham arah pembicaraan itu. "Kau ingin aku datang?"

"Ya." Jisoo tidak bertele-tele. "Akan lebih meyakinkan jika kau ada di sana."

Jennie mengangguk pelan. "Kapan acaranya?"

"Malam minggu depan. Tapi aku butuh kau ikut sehari sebelumnya." Jisoo melanjutkan, "Ada beberapa hal yang perlu kita atur. Penampilan, cerita latar yang konsisten, dan hal-hal kecil yang biasanya diperhatikan orang-orang seperti keluarga besar ibuku."

Jennie tidak langsung menjawab. Ia mencoba menghitung apakah ia punya pekerjaan lain pada hari itu—tapi hidupnya belakangan ini tidak cukup stabil untuk membuat jadwal yang rapi. Jadi ia bisa menyesuaikan.

"Aku bisa," katanya mantap.

"Baik." Jisoo tampak lega, walau sangat tipis. "Dan untuk hari itu... kau akan mendapatkan bonus."

Jennie mengerutkan kening. "Bonus?"

"Ya. Kau bekerja lebih lama, dan kondisinya berbeda. Acara keluarga jauh lebih melelahkan daripada yang kau lakukan di klub atau apa pun yang biasa kau urus. Jadi aku pikir wajar jika kau dibayar lebih."

Jennie menatap Jisoo, mencoba memahami apakah itu sekadar kesepakatan profesional atau bentuk perhatian samar yang tidak sengaja keluar (?) 

"Aku tidak ingin membuatmu merasa aku memanfaatkan keadaanmu," ucap Jennie pelan.

♡𝐉𝐞𝐧𝐒𝐨𝐨 𝐬𝐡𝐨𝐫𝐭 𝐬𝐭𝐨𝐫𝐲 𝐜𝐨𝐥𝐥𝐞𝐜𝐭𝐢𝐨𝐧♡Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang