1. THE SECOND WIFE

829 109 6
                                        

Happy reading 😗

~
~


••


Sudah enam tahun berlalu sejak Jisoo, pria mapan dengan jabatan prestisius sebagai CEO sebuah perusahaan teknologi terkemuka, memutuskan untuk hidup dengan dua perempuan dalam satu atap.

Di atas kertas, semuanya telah disepakati secara matang dan sadar: Jennie menjadi istri kedua setelah melalui diskusi panjang antara Jisoo dan Irene, istri pertamanya. Tak ada paksaan, tak ada dalih. Hanya sebuah keyakinan bahwa kasih sayang tidak selalu terbatas pada satu hati.

Namun, waktu adalah pembuka tabir yang sabar. Ia tidak tergesa, tetapi tajam. Dan di tahun ketiga itu, tatanan yang semula rapi mulai menunjukkan retakan.

Jennie duduk di sudut ruang tamu, tangannya menggenggam buku yang sejak tadi tak kunjung dibuka halamannya. Pandangannya kosong, menembus dinding seperti mencoba meraba sesuatu yang tak kasatmata.

Jisoo baru saja pulang dari dinas luar kota, dan seperti biasa, langkahnya pertama kali menuju kamar Irene. Bukan hal baru, tapi akhir-akhir ini terasa mengganjal.

Irene menyambutnya dengan senyum tenang, seperti biasa. Tapi di balik ketenangannya, ada kecurigaan yang perlahan tumbuh menjadi bara kecil. Ia mulai merasa bahwa Jisoo tidak lagi menyeimbangkan waktunya. Bahwa Jennie bukan lagi sekadar "yang kedua".

Malam itu, ketiganya duduk dalam ruang makan yang sama, tapi udara terasa lebih berat dari biasanya. Sunyi yang menggantung bukan karena tidak ada yang berbicara, melainkan karena ada yang belum terucapkan.

Irene meletakkan sendoknya dengan pelan, lalu menatap Jisoo tanpa senyum. "Apakah kau menyadari bahwa dalam dua bulan terakhir, kau lebih sering bermalam di kamar Jennie?"

Jisoo mendongak, terlihat terkejut. Sementara Jennie menunduk, enggan bersuara.

"Aku tidak menghitungnya, tapi kalau pun benar, itu bukan sesuatu yang direncanakan." Jisoo menjawab pelan, seolah masih mencerna tuduhan itu.

IIrene mengangkat alis sedikit, lalu menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Suaranya tetap tenang, tapi tegas. "Justru itu masalahnya. Ketidaksengajaan yang berulang menjadi pola. Dan pola yang tak diakui adalah bentuk pengabaian."

Jisoo menghela napas. Jennie tetap diam, seolah tahu bahwa kehadirannya malam ini hanyalah pemantik. Ia bukan pelaku, tapi turut bertanggung jawab atas perubahan atmosfer dalam rumah itu.

"Aku mencintai kalian berdua. Tapi aku juga manusia, Irene. Aku lelah jika segala tindak-tandukku harus diukur, ditimbang, dan dipertanyakan," ucap Jisoo dengan nada lelah.

Irene menunduk sejenak, lalu menatap Jisoo lurus-lurus. Suaranya mengendur sedikit, namun tetap menjaga ketegasan, "Aku tidak meminta kau menjadi sempurna. Aku hanya ingin rasa adil itu tetap dijaga, bukan dikaburkan oleh rasa nyaman yang condong pada satu sisi."

"Aku pun tak ingin menjadi alasan retaknya keseimbangan ini. Jika kehadiranku membuat suasana menjadi tak sehat, aku bisa mundur sementara."

Jennie akhirnya angkat bicara. Suaranya lirih, namun jelas, seolah menguatkan niat yang telah ia pikirkan lama.

Jisoo menoleh pada Jennie, lalu pada Irene. Matanya tampak letih, namun juga tekad mulai terpancar dari sorotnya.

"Tidak. Kita tidak akan menyelesaikan apa pun dengan menjauh. Jika memang ada ketimpangan, maka kita harus membicarakannya. Bukan membiarkan waktu memperlebar celah," ujarnya mantap.

♡𝐉𝐞𝐧𝐒𝐨𝐨 𝐬𝐡𝐨𝐫𝐭 𝐬𝐭𝐨𝐫𝐲 𝐜𝐨𝐥𝐥𝐞𝐜𝐭𝐢𝐨𝐧♡Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang