Happy reading~
-----------------------
~
Jisoo menghela napas pelan sambil menarik jaketnya lebih rapat ke tubuh. Sudah hampir pukul sebelas malam, dan ia sengaja memilih berjalan kaki setelah lembur, berharap udara malam bisa sedikit mengusir penat yang mendera.
Jalanan lengang, hanya ada beberapa lampu jalan yang redup. Ia berjalan tanpa tujuan, menikmati udara malam yang dingin. Namun, langkahnya terhenti saat melihat sebuah warung tenda kecil berdiri di sudut jalan.
Warung itu sederhana, hanya berupa tenda biru dengan lampu minyak menggantung di dalamnya. Tidak ada nama, hanya aroma sedap yang menyeruak, membuat Jisoo menyadari betapa laparnya ia.
Tapi yang menarik perhatiannya bukan hanya aroma, melainkan seorang nenek tua yang duduk di belakang meja. Nenek itu menatap Jisoo, seolah sudah menunggunya.
Karena rasa penasaran, Jisoo mendekat.
“Masuklah, Nak,” ujar si nenek dengan suara serak namun hangat. Jisoo menurut, meski merasa sedikit canggung.
Ia duduk di bangku kayu kecil yang disediakan, sementara nenek itu menuangkan teh hangat dari teko kuno. Tanpa berkata apa-apa, nenek itu memejamkan mata, lalu tersenyum tipis.
“Kau sedang mencari jodoh, ya?” tanyanya tiba-tiba.
Jisoo hampir tersedak udara. “Eh, tidak juga. Tapi... yah, aku memang sudah cukup lama melajang,” jawabnya, setengah tertawa.
Nenek itu mengangguk pelan, tangannya bergerak meraba-raba secarik kain usang di meja, seperti sedang membaca sesuatu yang tak kasat mata. “Baiklah, akan kuramal untukmu,” katanya penuh percaya diri.
Jisoo memandang dengan skeptis, tapi membiarkan nenek itu melanjutkan.
“Kau akan segera bertemu dengan seorang perempuan,” ucap nenek itu, suaranya lebih pelan namun penuh keyakinan. “Di taman yang sering kau sambangi. Kau tahu taman itu, bukan?”
Jisoo mengangguk, meski ragu. Ia memang sering ke taman dekat apartemennya, biasanya untuk jogging atau sekedar duduk-duduk.
“Perempuan itu,” lanjut nenek, “memiliki paras cantik. Hidungnya mungil tapi bangir, matanya tajam seperti kucing, dan pipinya gembul seperti bakpao yang baru matang.”
Jisoo mengerutkan alis, mencoba membayangkan sosok yang dideskripsikan.
“Dekati dia,” sambung nenek itu, membuka matanya yang tiba-tiba bersinar tajam. “Dengan sikapmu yang humoris dan bijaksana itu, kau pasti akan memikatnya.”
Jisoo menelan ludah. Ia tidak tahu harus merasa tersanjung atau bingung. “Ehm, baiklah,” jawabnya sambil menggaruk kepala. “Tapi... bagaimana jika tidak ada perempuan seperti itu di taman?”
“Percayalah, Nak,” nenek itu tersenyum lebar, memperlihatkan gigi-giginya yang sudah mulai ompong. “Takdir selalu punya caranya sendiri.”
Setelah membayar teh dengan uang receh, Jisoo pamit.
Sepanjang perjalanan pulang, ia tak bisa berhenti memikirkan ucapan si nenek. Benarkah ia akan bertemu seseorang di taman? Dan apa maksud ‘pipi bakpao’ itu?
🍀🍀🍀
Keesokan harinya, Jisoo sengaja bangun lebih awal dan bergegas ke taman. Ia membawa sebuah buku untuk membaca, berharap terlihat santai.
Tapi sepanjang duduk disana, alih-alih dengan niatnya membaca buku, ia justru hanya sibuk mengamati setiap orang yang lewat, mencari perempuan dengan deskripsi nenek itu. Namun, tak satu pun yang cocok.
KAMU SEDANG MEMBACA
♡𝐉𝐞𝐧𝐒𝐨𝐨 𝐬𝐡𝐨𝐫𝐭 𝐬𝐭𝐨𝐫𝐲 𝐜𝐨𝐥𝐥𝐞𝐜𝐭𝐢𝐨𝐧♡
Fiksi Penggemar[Jensoo's collection of short story lines] Indonesian language. Title List :
