1. After Divorce

867 121 38
                                        

Happy reading~
🤍





••

Bunyi bel panjang menggaung di seluruh sekolah, menandai akhir dari pelajaran hari itu. Suara kursi yang ditarik, tas yang dikancingkan, dan langkah kaki tergesa memenuhi lorong-lorong SMA yang besar itu. Di tengah hiruk-pikuk para siswa yang berhamburan, Ahyeon dan Rora tetap duduk tenang di bangku mereka, seperti tak terpengaruh oleh waktu.

Ahyeon menutup bukunya perlahan, gerakannya rapi dan tenang. Ia mengenakan blazer seragam yang tidak dikancingkan, dasi merah tua tergantung longgar di leher putihnya yang jenjang. Rambut hitamnya terurai bebas berayun-ayun tipis tersentuh angin yang berasal dari jendela kelas yang terbuka lebar.

Sementara itu, Rora menyandarkan kepala ke lengan, dagunya bertumpu di sana dengan senyum malas terlukis di wajah. Blazernya tak pernah dipakai sebagaimana mestinya; digantungkan di punggung kursi, lengan bajunya digulung sampai siku. Dasi seragam diubah jadi ikat rambut, menyatukan rambut panjang kecokelatannya yang sedikit berantakan, memperkuat reputasinya sebagai ‘troublemaker’ yang tidak pernah tunduk pada aturan.

Mereka duduk dalam diam yang lebih berat daripada suasana kosong setelah bel pulang. Diam yang bukan milik dua orang asing, melainkan dua gadis yang pernah tumbuh bersama hingga usia sepuluh, lalu tiba-tiba dipisahkan oleh keputusan orang dewasa yang tak mampu bersatu. Diam yang membawa luka yang tak pernah benar-benar sembuh, hanya dipoles oleh waktu agar tampak seperti bukan apa-apa.

Dan di luar ruang kelas itu, jauh dari lorong-lorong sekolah, di sebuah rumah, Jennie berdiri di depan meja makan. Tangan kirinya memegang gelas teh yang sudah dingin, sementara pandangannya tertuju pada foto tua di dinding—sebuah potret keluarga yang sudah tak utuh.

Di dalamnya, ada dirinya dan Jisoo yang tengah merangkul manis dirinya dari samping. Di hadapan mereka, tampak Ahyeon dan Rora saling menggenggam tangan mungil satu sama lain. Semuanya tersenyum, seolah tak pernah ada luka, seolah segalanya baik-baik saja.

Jennie menarik napas pelan, lalu meletakkan gelas di meja. Hatinya masih menyisakan jejak getir setiap kali memikirkan bagaimana segalanya berubah. Ia tidak menyesali perpisahan itu—perselingkuhan bukan hal yang bisa ditawar atau diakali dengan dalih cinta lama atau kesepian. Namun, ia menyesal pada hal-hal kecil yang hilang setelahnya. Tawa Rora saat dibacakan dongeng, aroma rambutnya yang basah sehabis mandi, bahkan caranya memanggil Jennie dengan nada manja saat lapar di tengah malam.

Rora tak lagi menjadi miliknya, bukan karena Jennie menyerah, melainkan karena pengadilan memutuskan bahwa ia akan diasuh oleh Jisoo. Meskipun pada saat itu, tak satu pun dari mereka bisa berbicara tanpa kemarahan menggelegak di dada.

Jisoo memilih rumah berbeda—juga kehidupan yang berbeda. Mereka tak berbicara secara langsung sejak hari perceraian itu disahkan. Jika harus ada yang dibicarakan tentang anak-anak, maka itu disampaikan melalui surat hukum, atau paling jauh, lewat pesan singkat yang hanya terdiri dari satu atau dua kalimat formal.

Di lain sisi, Jisoo duduk di ruang kerjanya, jendela terbuka lebar membiarkan udara lembap masuk. Ia menatap layar laptop, namun tak benar-benar membaca isi dokumen yang terbuka di sana. Pikirannya tertuju pada rapor Rora yang baru dikirimkan sekolah. Nilainya menurun drastis, dan catatan wali kelas menyebutkan bahwa Rora sering membolos, kerap melawan guru, dan menunjukkan sikap acuh terhadap pelajaran.

Ia tahu, sebagian dari itu adalah bentuk pemberontakan yang tak pernah diungkapkan. Rora tumbuh di tengah kemelut emosional yang tak selesai, dan Jisoo sendiri tak pernah menjadi pendengar yang cukup baik. Ada kalanya ia merasa bahwa satu-satunya cara untuk bertahan adalah dengan menutup diri rapat-rapat dari semua kemungkinan luka baru.

♡𝐉𝐞𝐧𝐒𝐨𝐨 𝐬𝐡𝐨𝐫𝐭 𝐬𝐭𝐨𝐫𝐲 𝐜𝐨𝐥𝐥𝐞𝐜𝐭𝐢𝐨𝐧♡Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang