3. When The Heart's Chooses

609 118 22
                                        


Jisoo balas menggenggam tangan Jennie, jari-jarinya terasa sedikit dingin, kontras dengan hangatnya suhu dalam mobil. Di luar, gerimis masih turun pelan, seperti turut menahan waktu agar tidak segera beranjak dari momen itu.

Jennie memandang wajah Jisoo dalam diam. Ia mempelajari garis rahangnya yang tegas, sorot matanya yang tak mudah dibaca, tapi menyimpan kerentanan yang tak diucapkan. Ada sesuatu pada Jisoo yang tak bisa dijelaskannya secara logis—daya tarik yang tak gaduh tapi menusuk pelan, menjalar di bawah kulit, hingga ke dasar pikirannya.

"Kau... tahu," gumam Jennie, suaranya rendah, "sejak pertama kali melihatmu, aku merasa seperti... mengenalmu dari suatu tempat yang pernah aku lupa."

Jisoo menoleh pelan, alisnya mengernyit sedikit. "Itu barangkali karena kau sering membuat alasan untuk ke bengkel."

Jennie tertawa kecil, lalu mengangguk. "Iya. Dan tidak satu pun alasanku masuk akal, kan?"

"Tidak. Tapi... aku tidak keberatan."

Hening lagi. Pandangan mereka saling terikat dalam jeda yang panjang—terlalu lama untuk dianggap biasa, tapi juga terlalu dalam untuk dianggap hanya sekadar kebetulan.

Jennie menggeser duduknya perlahan, mendekat beberapa inci. Gerakannya lambat, tidak terburu. Jisoo tidak menyingkir. Ia hanya menatap Jennie, seolah menunggu.

"Boleh aku...?" bisik Jennie.

Jisoo tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengangguk sekali—hampir tak terlihat, tapi cukup.

Dan dalam jarak sekecil itu, Jennie memiringkan wajahnya, jari-jarinya menyentuh sisi pipi Jisoo dengan kelembutan yang hampir gemetar. Bibirnya menyentuh bibir Jisoo dengan ringan, ragu, tapi mengandung muatan perasaan yang tertahan terlalu lama.

Ciuman itu bukan sembarang sentuhan. Ia lahir dari luka yang dipeluk, dari kesendirian yang diam-diam ingin diredakan, dari rasa ingin mengenal dan dikenal lebih dalam lagi.

Jisoo membalas dengan perlahan, matanya terpejam. Tubuhnya semula tegang, tapi seiring detik berlalu, ia mencair dalam pelukan bibir yang tak tergesa itu. Jennie menarik napas dalam-dalam di sela-sela jeda, tangannya kini berpindah menyentuh tengkuk Jisoo, menariknya lebih dekat.

Gerimis masih menyapu kaca mobil, menciptakan denting-denting halus yang seolah menjadi musik latar bagi malam itu.

Saat mereka berpisah, hanya sebentar, Jennie menunduk dan menyandarkan dahinya di kening Jisoo.

"Aku tak tahu apa yang akan terjadi besok, atau lusa. Tapi malam ini... aku ingin mengingatnya. Sepenuhnya."

Jisoo membalas dengan suara rendah.

"Aku juga."








~








7.10 AM

Langit menggantung kelabu, tapi tidak mengancam hujan. Hanya sinar matahari yang malu-malu menembus awan, menciptakan semburat pucat di atas deretan ruko dan jalanan yang baru mulai hidup. Bengkel tempat Jisoo bekerja sudah membuka pintunya setengah, dan suara logam bertemu logam terdengar dari balik pintu.

Jisoo sedang membungkuk memeriksa bagian bawah mobil tua saat ia mendengar suara klakson dua kali. Ia berdiri pelan, mengusap tangannya dengan lap kotor, lalu menoleh ke arah jalan.

Mobil hitam metalik itu berhenti sempurna di depan bengkel. Jendela terbuka pelan, dan dari baliknya muncul wajah yang sudah ia kenal—lengkap dengan kacamata hitam kebesaran yang tampaknya sengaja dipakai untuk menyembunyikan ekspresi.

Jennie.

Ia turun dari mobil dengan gerak penuh percaya diri, mengenakan jaket kulit krem dan sepatu yang sepertinya lebih cocok dipakai ke galeri seni ketimbang ke bengkel kumuh. Tapi tak satu pun dari itu tampak janggal di dirinya.

♡𝐉𝐞𝐧𝐒𝐨𝐨 𝐬𝐡𝐨𝐫𝐭 𝐬𝐭𝐨𝐫𝐲 𝐜𝐨𝐥𝐥𝐞𝐜𝐭𝐢𝐨𝐧♡Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang