Lampu meja kecil menyala redup di pojok ruangan loteng, melemparkan bayangan lembut ke dinding yang mulai berderak pelan diterpa angin malam dari sela jendela yang sedikit terbuka. Di atas tempat tidur, Jisoo telah berganti pakaian, mengenakan kaus longgar dan celana tidur katun abu-abu. Rambutnya masih sedikit lembap setelah mandi. Ia duduk bersandar di kepala ranjang, memegang sesuatu di pangkuan: boneka beruang, pemberian Jennie beberapa jam lalu.
Satu tangan menyentuh kepala boneka itu pelan, jemarinya menyusuri bulu sintetis yang sudah tak lagi lembut. Ia menatap boneka itu lama, nyaris seperti menatap wajah seseorang yang akrab.
"Kau kecil, konyol, dan terlalu percaya diri," gumam Jisoo sambil tersenyum miring. "Persis pemilikmu."
Ia tahu itu hanya boneka. Tapi di tengah sunyi ruangan, bayangan tentang Jennie terasa terlalu jelas untuk diabaikan. Wajah mungilnya. Suara kecil yang selalu mengisi sore Jisoo. Dan tangan-tangan kecil yang suka memeluk dari samping meski tak diminta.
Ketika Jisoo mulai meletakkan boneka itu di samping bantal dan menarik selimut sampai ke pinggang, terdengar bunyi kecil dari pintu.
Klek.
Pintu tidak terbuka penuh. Justru sebaliknya—hanya terbuka selebar lengan. Dari celah itu, muncullah dua tangan mungil yang melambai-lambai pelan, diiringi suara yang begitu dikenalnya:
"Halo... bolehkah aku tidur di sini?"
Nada suaranya pelan, ragu-ragu, tapi berbalut kegemasan yang sulit ditolak. Jisoo tidak langsung menjawab. Ia menoleh ke pintu, menatap celah kecil itu seperti sedang menyimak siaran dari dunia lain.
Lalu terdengar lanjutannya, lebih lembut, lebih memohon, "Ternyata aku tidak bisa tidur tanpa bonekaku..."
Jisoo tersenyum.
"Masuklah," ucapnya tanpa nada keberatan sedikit pun.
Pintu dibuka perlahan, dan tubuh kecil Jennie melangkah masuk. Kaus tidurnya kebesaran, menutupi hampir separuh pahanya, dan rambutnya sedikit acak-acakan. Tapi wajahnya bersinar dengan kepolosan.
Ia mendekat perlahan, naik ke atas tempat tidur tanpa menunggu isyarat lagi. Tubuh kecil itu menyusup ke sisi Jisoo, duduk bersila di atas selimut.
"Apakah aku mengganggu?" tanyanya pelan.
"Sedikit," jawab Jisoo. Tapi nadanya tidak menunjukkan kesal sama sekali.
Jennie menggembungkan pipinya. "Kalau begitu aku akan diam saja."
Ia lalu merebahkan diri perlahan, kepala di atas bantal yang satunya, tubuh menyamping menghadap Jisoo. Bonekanya direbut kembali tanpa paksa, hanya satu tangan kecil menyusul mengulurkan tangan ke dada Jisoo dan berkata, "Tapi bonekaku ini bilang ia ingin tidur di antara kita."
Jisoo menatap Jennie sejenak. Wajah mungil itu hanya berjarak sejengkal. Nafasnya masih cepat—belum sepenuhnya tenang. Ia tahu Jennie takut tidur sendiri, atau hanya ingin alasan agar bisa tetap berada di dekatnya.
"Bonekamu tidak tahu etika tidur," gumam Jisoo sambil menarik selimut lebih rapi menutupi Jennie.
"Bonekaku hanya meniru pemiliknya."
Jisoo menggeleng pelan.
Lalu hening turun perlahan. Angin dari jendela berbisik di sela-sela. Detik jam berdetak lambat. Tak ada yang berbicara.
Sampai suara Jennie muncul kembali, pelan dan berat, hampir mengantuk.
"Unnie..."
"Hm?"
"Kalau suatu hari aku tidak bisa menemuimu... apa kamu akan tetap ingat bahwa aku suka tidur di sisimu seperti ini?"
Jisoo tidak menjawab seketika. Ia menoleh, menatap mata setengah terpejam di sebelahnya. Lalu mengulurkan tangan, menyentuh kepala Jennie pelan, mengusap rambutnya dengan gerakan tenang.
KAMU SEDANG MEMBACA
♡𝐉𝐞𝐧𝐒𝐨𝐨 𝐬𝐡𝐨𝐫𝐭 𝐬𝐭𝐨𝐫𝐲 𝐜𝐨𝐥𝐥𝐞𝐜𝐭𝐢𝐨𝐧♡
Fanfiction[Jensoo's collection of short story lines] Indonesian language. Title List :
