4. The Contract of Us

477 91 39
                                        


Tepat setelah matahari condong ke barat, Jisoo berdiri di depan kediaman Jennie. Ia mengetuk pintu dua kali, seperti biasanya, dan Jennie muncul tak lama kemudian dengan rambut yang masih sedikit kusut, tampak seperti baru terjaga dari tidur siang yang tak pernah ia niatkan.

"Aku mengganggumu?" tanya Jisoo sambil menundukkan kepala sedikit.

"Tidak. Kau datang lebih cepat dari perkiraan," jawab Jennie singkat sembari mengambil cardigan.

"Aku... ingin memastikan kau tidak mengurung diri," ujar Jisoo, nadanya hati-hati. "Kejadian kemarin benar-benar melampaui batas. Aku minta maaf, Jennie."

Jennie menggeleng. "Itu bukan salahmu."

"Aku tahu. Tapi izinkan aku menebusnya sedikit saja hari ini."

Jennie menatap wajah Jisoo beberapa detik sebelum mendesah pendek. "Baiklah. Ke mana?"

"Taman hiburan."

Jennie sempat membeku tidak percaya. "Apa kau sedang bercanda?"

"Aku bisa bercanda, tapi hari ini tidak," kata Jisoo sebelum berbalik menuju mobil. "Ayo."



~



Ketika tepat keduanya sampai di taman hiburan—kerumunan, musik riang, aroma popcorn, dan suara orang-orang berteriak membuat suasana terasa hidup. Jennie tidak menyangka Jisoo akan membawa dirinya ke tempat seperti ini. Ia jarang—hampir tidak pernah—berada di ruang yang dipenuhi tawa seperti ini.

"Begitu bising," gumam Jennie.

"Kau tidak suka?" tanya Jisoo dengan wajah langsung tegang.

"Aku tidak bilang begitu," Jennie menatapnya sekilas. "Aku hanya... tidak terbiasa."

"Kalau begitu kita mulai dari yang sederhana." Jisoo menunjuk komidi putar. "Tenang, lambat, dan tidak membuatmu muntah."

Jennie terkekeh pelan. "Baiklah."

Dari sana, mereka pindah ke wahana-wahana lainnya. Jennie tertawa—bukan tertawa kecil, tetapi tawa sesungguhnya—ketika Jisoo berteriak saat roller coaster turun tajam. Jisoo protes, tetapi Jennie justru semakin geli karena Jisoo berpegangan terlalu kuat seolah nyawanya ditarik ke udara.

"Kau menikmatinya," tuduh Jennie ketika mereka sedang berjalan menuju stan minuman.

"Aku hanya terkejut. Itu berbeda," bantah Jisoo.

"Ya..."

Jennie menerima minuman dingin dari Jisoo. Mereka berjalan tanpa tergesa, melewati lampu-lampu warna-warni yang mulai menyala di sepanjang jalan taman hiburan. Atmosfernya menjadi lebih lembut, dan terasa lebih intim bagi keduanya.

"Aku benci melihatmu dalam keadaan seperti kemarin," ucap Jisoo tiba-tiba. "Kau tidak pantas dipermalukan seperti itu."

Jennie menatap ke depan, bukan ke arah Jisoo. "Aku sudah terbiasa dipandang rendah, Ji."

"Aku tidak suka mendengarnya. Kau tidak seharusnya terbiasa dengan perlakuan seperti itu."

Jennie menelan ludah, tetapi ia tidak menanggapi.

Keduanya berlanjut ke wahana terakhir, Bianglala.

Cahaya dari ketinggian perlahan mengubah taman hiburan menjadi panorama bergerlap. Saat lampu bianglala berputar, Jisoo membeli dua tiket tanpa memberi kesempatan pada Jennie untuk protes terlebih dahulu.

"Aku takut ketinggian," aku Jennie perlahan.

"Aku tidak akan membiarkan apa pun terjadi, tenang saja," jawab Jisoo enteng, seakan bisa mengendalikan seluruh gravitasi dunia.

♡𝐉𝐞𝐧𝐒𝐨𝐨 𝐬𝐡𝐨𝐫𝐭 𝐬𝐭𝐨𝐫𝐲 𝐜𝐨𝐥𝐥𝐞𝐜𝐭𝐢𝐨𝐧♡Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang