Hari-hari setelah pesta di rumah Jisoo, Jennie kembali tenggelam dalam rutinitasnya. Namun, ada sesuatu yang berbeda. Setiap kali ia sendiri, pikirannya kerap melayang pada Jisoo-senyumnya, keluguannya, dan terutama keberanian pria itu untuk terus mendekatinya meski ia selalu menjaga jarak.
Kini, Jennie sedang duduk di studio sambil menunggu giliran pemotretan. Ia sibuk memeriksa ponselnya ketika sebuah pesan masuk.
"Ada waktu untuk makan malam bersamaku? Aku janji tidak akan memaksa jika kamu bilang sibuk. -Jisyuu"
Jennie membaca pesan itu berulang kali. Ia mendesah panjang, lalu mengetik jawaban singkat.
"Oke. Kirim lokasi."
~
Pukul delapan malam, Jennie tiba di sebuah restoran sederhana. Restoran itu jauh dari kesan mewah, tapi terasa hangat dan nyaman. Lampu-lampu kuning temaram menggantung di langit-langit, memberikan suasana intim yang jarang ia rasakan.
Jisoo sudah menunggunya di meja dekat jendela. Ia berdiri begitu melihat Jennie masuk, seraya melambaikan tangan dengan senyum lebar yang menghiasi wajahnya.
"Wahh tak kusangka kamu datang!" katanya, tampak sedikit terkejut tapi senang.
"Jangan terlalu percaya diri," balas Jennie sambil duduk. "Aku hanya ingin tahu apa lagi yang ingin kamu lakukan."
Jisoo terkekeh, lalu menyerahkan menu padanya. "Aku hanya ingin kita makan malam. Tidak ada agenda tersembunyi, kok. Kamu pilih saja, semua makanan di sini enak."
Jennie melirik menu itu, lalu memilih hidangan sederhana.
Selama beberapa menit, mereka hanya saling diam, menikmati makanan masing-masing. Tapi anehnya, keheningan itu tidak terasa canggung.
Ketika akhirnya Jisoo membuka suara, suaranya lebih serius dari biasanya. "Jennie, aku tahu kamu mungkin tidak.. Atau belum yakin denganku. Aku tahu aku bukan orang yang terlihat bisa diandalkan. Tapi aku ingin kamu tahu jika aku ingin belajar untuk itu. Aku ingin merubah apapun yang tak kamu suka dariku."
Jennie meletakkan garpunya, menatap Pria dihadapannya dengan ekspresi serius. "Kenapa kamu repot-repot?"
"Karena kamu berbeda," jawab Jisoo tanpa ragu. "Aku tahu kamu keras, jutek, dan terlihat tidak peduli dengan orang lain. Tapi aku juga tahu kamu wanita pekerja keras, kamu punya prinsip, dan kamu tidak suka basa-basi. Aku suka itu."
Jennie terdiam. Kata-kata Jisoo menembus dinding pertahanan yang selama ini ia bangun.
"Aku tidak meminta kamu untuk langsung percaya kepadaku," lanjut Jisoo. "Tapi aku ingin kamu memberiku kesempatan. Agar aku bisa buktikan jika aku pantas ada di hidupmu."
Jennie menatap pria itu lama. Ia tidak tahu harus berkata apa. Selama ini, ia terbiasa menjaga jarak dari orang lain, takut terluka atau dikecewakan. Tapi Jisoo... pria ini begitu tulus dan apa adanya.
Akhirnya, Jennie menghela napas dan berkata, "Kita lihat saja sejauh mana kamu bisa bertahan."
Jisoo tersenyum lebar.
Malam itu berlalu dengan obrolan ringan yang perlahan mencairkan suasana. Jennie masih menjaga sikapnya, namun ada celah kecil di dinding hatinya yang mulai terbuka. Jisoo, di sisi lain, tidak mencoba terlalu keras. Ia hanya menjadi dirinya sendiri-tulus, hangat, dan penuh perhatian.
Ketika mereka selesai makan, Jisoo bersikeras mengantar Jennie pulang meski Jennie awalnya menolak.
"Aku bisa pulang sendiri," ujar Jennie sambil mengenakan jaketnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
♡𝐉𝐞𝐧𝐒𝐨𝐨 𝐬𝐡𝐨𝐫𝐭 𝐬𝐭𝐨𝐫𝐲 𝐜𝐨𝐥𝐥𝐞𝐜𝐭𝐢𝐨𝐧♡
Hayran Kurgu[Jensoo's collection of short story lines] Indonesian language. Title List :
