3. The Contract of Us

467 95 29
                                        

Pesta baru benar-benar berakhir menjelang tengah malam. Para tamu mulai pulang, musik menurun perlahan, dan lampu-lampu di aula meredup menyisakan sorotan lembut yang membuat ruangan tampak tidak semegah sebelumnya.

Jennie menghembuskan napas panjang ketika mereka akhirnya keluar dari rumah besar itu. Udara malam jauh lebih dingin dibanding yang ia perkirakan. Angin kecil menyentuh bahunya yang terbuka oleh potongan dress merah tersebut.

Ia menggigil kecil tanpa sadar.

Jisoo melihat itu dalam sepersekian detik—cepat, instingtif—lalu ia melepas jas hitamnya dan menggantungkan ke bahu Jennie tanpa banyak kata.

"Pakai. Kau kedinginan," ujar Jisoo singkat.

Jennie menundukkan kepala sedikit, menahan senyum yang hampir muncul tanpa izin. "Terima kasih."

"Aku tidak ingin kau sakit hanya karena aku membawamu ke acara seperti ini," balas Jisoo sambil berjalan pelan menuruni tangga.

Jennie mengekor, sambil sesekali membenarkan letak jas milik Jisoo di tubuhnya. Aromanya lembut, tidak menusuk, dan entah kenapa—menenangkan. Biasanya ia tidak mudah tenang di sekitar seseorang, apalagi seseorang seperti Jisoo yang kuat, rasional, dan agak sulit ditebak. Tapi ada sesuatu tentang perhatian kecil itu yang... membuat dadanya menghangat.

Mereka tiba di mobil. Jisoo membuka pintu untuknya. Bukan gaya memamerkan atau sok gentleman, tetapi sesuatu yang tampak seperti kebiasaan yang sudah tertanam sejak lama. Jennie tidak terbiasa diperlakukan demikian, tapi ia juga tidak berusaha menolak.

"Aku masih bisa membuka pintu sendiri, Ji," katanya sambil masuk.

"Ya, aku bisa melihat kau masih memiliki dua tangan," sahut Jisoo, "tapi membiarkanmu kepayahan dalam kondisi seperti sekarang akan membuatku tampak buruk sebagai pasangan pura-pura."

Nada suaranya ringan dan sedikit candaan, tapi matanya memerhatikan Jennie sejenak, seolah ingin memastikan ia baik-baik saja. Jennie merasakan semburat rasa tidak biasa di dada—bukan kegugupan, bukan malu, tetapi sesuatu yang lebih samar namun begitu terasa hangatnya. 

Perjalanan pulang berjalan dalam hening yang tidak canggung. Lampu kota memantul di kaca mobil, memberikan cahaya lembut yang jatuh di wajah Jisoo. Jennie memperhatikan sekilas—cara Jisoo bersandar dengan rileks, cara ia mengetuk kemudi dengan ritme pelan, cara ia diam tapi tidak membuat suasana terasa hambar.

Jennie tiba-tiba ingin bertanya sesuatu, sesuatu yang ia sendiri belum rumuskan. Tapi Jisoo lebih dulu berbicara.

"Kau tadi hampir panik, bukan?" tanyanya tanpa menoleh.

Jennie menggeser pandangannya ke luar jendela. "Sedikit."

"Aku kembali karena aku melihat wajahmu berubah." Suaranya tidak dinaikkan, tetap datar dan jernih. "Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi aku mengerti kau tidak suka diserang dengan pertanyaan semacam itu."

"Rasanya... menyesakkan," kata Jennie. "Aku tidak tahu harus jawab apa."

"Lain kali, bilang saja jika kau tidak ingin menjawab. Tidak perlu memaksakan diri."

Jennie menahan napas sejenak. Itu pertama kalinya ia merasa diperbolehkan mundur oleh seseorang. Biasanya, orang-orang ingin ia terlihat sempurna—atau minimal terlihat tegar. Jisoo justru membiarkan kelemahannya ada di tempat terbuka, tanpa menghakimi.

"Mengapa kau begitu peduli?" Jennie kemudian bertanya pelan.

Jisoo tidak segera menjawab. Ia menepi di sisi jalan, mematikan mesin, lalu menoleh ke arah Jennie. Matanya lembut, tidak sebanyak yang bisa disebut sentimentil, tapi cukup untuk menimbulkan getaran kecil di dada Jennie. 

♡𝐉𝐞𝐧𝐒𝐨𝐨 𝐬𝐡𝐨𝐫𝐭 𝐬𝐭𝐨𝐫𝐲 𝐜𝐨𝐥𝐥𝐞𝐜𝐭𝐢𝐨𝐧♡Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang