Lima hari sejak pengakuan Jisoo. Lima hari pula sejak keheningan panjang merayap di antara mereka. Rumah yang sempat terasa seperti rumah kembali, kini kembali menjadi tempat di mana kata-kata hanya berbisik, dan langkah kaki pun terdengar terlalu jelas.
Jennie duduk di ruang baca, jendela terbuka lebar, angin sore mengelus pipinya. Di pangkuannya tergeletak sebuah buku yang tak kunjung dibaca. Matanya kosong, menatap barisan pohon di luar sana.
Ia mencoba memahami: bukan tentang keberadaan Jihoon, bukan tentang masa lalu yang menghantui, tapi tentang bagaimana hati bisa goyah kembali hanya ketika satu nama disebut. Nama yang pernah ia pikir telah ia kubur dalam-dalam.
"Nayeon," gumamnya lirih, seperti mencicipi kembali luka yang sudah lama ia hindari.
Lalu sebuah ketukan terdengar. Pelan. Tak memaksa.
Pintu terbuka perlahan dan Jisoo masuk, berdiri tanpa berani mendekat. Wajahnya lelah, rambutnya sedikit kusut, seperti seseorang yang baru kembali dari medan perang—dan memang, dalam bentuk lain, itu adalah perang batin yang tak henti ia lawan.
"Boleh aku bicara?"
Jennie tak menjawab. Tapi ia tak menolak. Itu sudah cukup.
Jisoo mendekat pelan, lalu duduk di sofa seberang. Jarak itu—dua meter di antara mereka—terasa seperti jurang tak kasatmata.
"Aku tahu aku tidak pantas meminta apa pun darimu, Jennie," katanya pelan. "Tapi aku juga tidak ingin menyembunyikan Jihoon. Dia tidak salah."
Jennie menutup bukunya, akhirnya menatap pria di depannya. "Kau ingin memperkenalkan dia padaku?"
"Tidak sekarang. Aku tidak akan memaksakan apa-apa. Aku hanya ingin kau tahu bahwa aku ingin menjadi ayah baginya. Dan... itu tidak mengurangi perasaanku terhadapmu."
"Perasaan?" Jennie mengangkat alis. "Jisoo, ini bukan tentang perasaanmu. Ini tentang pilihan yang pernah kau ambil saat kita masih bersama. Dan tentang luka yang belum sempat sembuh."
Jisoo menunduk. "Aku tahu."
Jennie bangkit berdiri, berjalan mendekati jendela. "Aku... mencoba memaafkanmu. Karena aku percaya kita layak mendapatkan kesempatan kedua. Bukan karena aku lupa, tapi karena aku berpikir... cinta bisa menjadi alasan untuk menyembuhkan."
Jisoo berdiri, langkahnya tertahan. "Apakah sekarang kesempatan itu hilang?"
Jennie tidak menjawab segera. Ia membiarkan angin sore membelai wajahnya. Lalu berkata, "Aku tidak tahu. Tapi aku butuh waktu untuk meredakan gemuruh di dadaku. Butuh waktu untuk menata ulang definisi ‘keluarga’ yang hampir saja bisa kurengkuh lagi."
Sebelum Jisoo sempat menjawab, langkah kaki terdengar dari arah dapur. Ahyeon muncul, lalu disusul Rora. Keduanya menatap situasi itu dengan canggung, seolah baru saja masuk ke dalam ruang teater di adegan klimaksnya.
"Apakah... kami mengganggu?" tanya Ahyeon, hati-hati.
Jennie tersenyum tipis. "Tidak. Duduklah."
Rora menatap Jisoo. "Ayah, boleh bicara sebentar?"
Jisoo mengangguk dan mengikuti Rora ke belakang rumah. Sementara itu, Ahyeon menghampiri Jennie.
"Bu," katanya pelan, "aku tahu aku bukan siapa-siapa dalam cerita cinta kalian. Tapi sebagai anakmu... boleh aku menyampaikan sesuatu?"
Jennie menatapnya, menunggu.
"Kamu perempuan paling kuat yang aku kenal. Tapi kuat bukan berarti harus selalu melawan sendirian. Kadang... memberi kesempatan lagi bukan tanda kelemahan."
KAMU SEDANG MEMBACA
♡𝐉𝐞𝐧𝐒𝐨𝐨 𝐬𝐡𝐨𝐫𝐭 𝐬𝐭𝐨𝐫𝐲 𝐜𝐨𝐥𝐥𝐞𝐜𝐭𝐢𝐨𝐧♡
Hayran Kurgu[Jensoo's collection of short story lines] Indonesian language. Title List :
