4. TIED HEARTS -End

1.1K 107 12
                                        

🔞 Mature content 🔞
Diharap bijak dalam membaca. 🙏🏻



Ketika mereka tiba di depan pintu apartemen Jennie, suasana terasa lebih hangat. Lampu-lampu jalanan di luar berpendar lembut, dan suara angin yang menerpa menambah keintiman di antara mereka. 

Jennie berhenti sejenak di depan pintu, menggenggam kunci berbentuk kartu di tangannya, sebelum akhirnya menoleh ke arah Jisoo.

"Sudah larut," kata Jennie dengan nada pelan. "Mungkin... kamu bisa bermalam di sini saja. Akan terlalu berbahaya jika pulang sekarang."

Jisoo menatap Jennie, sejenak terdiam, lalu mengangguk pelan. "Jika tidak merepotkan," jawabnya dengan senyum tipis yang sulit disembunyikan. 

Jennie membuka pintu dan mempersilakan Jisoo masuk. Interior apartemennya sederhana namun terasa nyaman, dengan aroma lembut lilin vanila yang menyala di sudut ruangan. 

Jisoo duduk di sofa sementara Jennie berjalan ke dapur, menawarkan minuman hangat.

"Teh atau cokelat panas?" tanya Jennie. 

"Cokelat panas," jawab Jisoo, tersenyum kecil. Ia melepas jaketnya, merasa hangat di bawah cahaya temaram ruangan itu.

Tak lama Jennie pun kembali membawa dua cangkir cokelat panas, lalu duduk di samping Jisoo. Mereka berbincang santai, suara tawa kecil sesekali terdengar, memecah kesunyian malam. Namun, ada sesuatu di udara yang terasa berbeda—sesuatu yang tak terucapkan namun jelas terasa.

Ketika obrolan mulai mereda, Jennie menatap Jisoo dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada keraguan di matanya, tetapi juga kehangatan yang begitu tulus. Ia mengulurkan tangan, menyentuh lembut jemari Jisoo yang masih menggenggam cangkir.

"Jisoo..." suara Jennie terdengar lebih rendah sekarang. Namun, tak ada kata yang keluar lagi setelahnya. 

Jisoo meletakkan cangkirnya di meja, menatap Jennie dengan mata yang tak bisa menyembunyikan perasaannya lagi. Ia menyentuh pipi Jennie dengan lembut, ibu jarinya menyusuri kulitnya yang hangat.

"Jennie, aku mencintaimu."

Kata-kata itu menggantung di udara, sebelum Jennie perlahan mendekat. Jarak di antara mereka semakin tipis, hingga akhirnya bibir mereka bertemu dalam ciuman yang penuh emosi. Ciuman itu tak sekadar meluapkan perasaan, tetapi juga seolah menyatukan hati mereka. 

Kecanggungan perlahan memudar, digantikan oleh kehangatan yang kian membara. Jennie menarik Jisoo lebih dekat, hingga tak ada lagi ruang di antara mereka. Ruangan itu menjadi saksi bisu dari keintiman yang terjalin, di mana waktu seolah berhenti, dan hanya ada mereka berdua yang saling membalut dalam rasa yang tak terlukiskan.

Segala jarak dan keraguan yang pernah hinggap sirna. Hanya ada kejujuran dalam setiap sentuhan dan bisikan yang terucap di antara mereka.

Ciuman itu semakin memanas kala Jisoo membaringkan tubuh Jennie di sofa. Ia melumat bibir atas dan bawah Jennie, aksinya begitu lihai. 

Desau nafas hangat saling bertabrakan, saling menerpa permukaan kulit wajah masing-masing. 

"Ugh..." Sebuah keluhan lirih lolos dari bibir Jennie saat Jisoo perlahan melepaskan tautan bibir mereka.

Keduanya terengah, menarik napas dalam-dalam untuk mengisi kembali paru-paru yang seolah kehabisan oksigen.

Jisoo kini beralih menyusuri kelembutan kulit wajah Jennie dengan jemarinya. Tatapannya yang sayu, penuh dengan gejolak hasrat, menembus dalam ke mata wanita yang kini balas memandangnya.

♡𝐉𝐞𝐧𝐒𝐨𝐨 𝐬𝐡𝐨𝐫𝐭 𝐬𝐭𝐨𝐫𝐲 𝐜𝐨𝐥𝐥𝐞𝐜𝐭𝐢𝐨𝐧♡Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang