Beberapa hari setelah malam itu, Jennie kembali ke rumah Tae. Hanya kali ini, suasananya terasa berbeda sejak awal. Tae tampak lebih banyak diam, sorot matanya sering bergulir ke arah Jennie dan Jisoo seakan sedang membaca sesuatu yang tak terucap.
Mereka bertiga makan malam bersama di meja besar. Hidangan sederhana: sup ayam, tumis sayuran, dan nasi hangat. Jennie berusaha terlihat normal, menyibukkan diri dengan piringnya. Jisoo, seperti biasa, duduk tenang dengan ekspresi datar. Namun tatapan Tae—tajam, penuh selidik—berulang kali jatuh ke arah mereka berdua.
"Sayang," kata Tae tiba-tiba, membuat Jennie hampir menjatuhkan sendok. "Aku ingin tanya sesuatu."
Jennie mengangkat wajah, berusaha tenang. "Apa?"
"Aku perhatikan, kau makin sering datang ke rumah akhir-akhir ini. Bahkan ketika aku sedang tidak ada, kau tetap datang." Tae mencondongkan tubuhnya sedikit. "Kau betah sekali, ya?"
Jennie menelan ludah. "Ya, tentu saja. Rumahmu... maksudku, rumah keluarga kalian... terasa nyaman."
Tae mengangguk pelan, lalu bergeser menatap Jisoo. "Dan kau, Jisoo. Tidak biasanya kau mau berlama-lama mengobrol dengan kekasihku. Aku kira kau tipe yang malas berinteraksi."
Jisoo mengangkat alis tipis, wajahnya tanpa ekspresi. "Kalau aku tidak bicara, kau akan bilang aku tidak sopan. Jadi aku bicara secukupnya."
Jawaban itu tajam, tapi tidak memberi ruang lebih jauh. Tae hanya tersenyum tipis, meski matanya masih menajam.
Makan malam dilanjutkan dengan diam. Jennie merasa setiap suapan seperti pasir di tenggorokannya.
Setelah selesai, Tae berkata, "Sayang, ikut aku sebentar ke ruang tamu. Aku ingin menunjukkan sesuatu."
Jennie berdiri dengan ragu. Jisoo tetap duduk, menatap piringnya.
Di ruang tamu, Tae mengambil album foto keluarga dari rak, lalu membuka halamannya satu per satu. Ia menunjukkan foto masa kecilnya bersama Jisoo. "Kau tahu," katanya dengan suara tenang, "Jisoo memang terlihat dingin. Tapi sebenarnya dia orang yang mudah dekat jika kau tahu caranya."
Jennie mengangguk pelan. "Ya, aku bisa melihat itu."
Tae menutup album, menatap Jennie lurus. "Aku hanya ingin memastikan sesuatu. Kau tahu maksudku, kan?"
Jennie merasakan jantungnya terjun bebas. "Maksudmu...?"
Tae mencondongkan tubuh. "Aku percaya padamu, Jennie. Tapi aku juga cukup peka jika ada sesuatu yang tidak biasa. Jadi kuharap... jika ada hal yang perlu kau jelaskan, katakan langsung padaku."
Jennie tercekat. Ruangan itu terasa menyempit. Ia ingin menjawab, tapi lidahnya kelu.
Sebelum Jennie sempat merespons, suara langkah terdengar. Jisoo masuk ke ruang tamu dengan tenang, membawa gelas air. Ia berhenti sejenak, memandang situasi.
"Apa yang kalian bicarakan?" tanyanya datar.
Tae menoleh, senyumnya samar. "Hanya nostalgia. Tentang masa kecilmu."
Jisoo duduk di kursi seberang, menatap mereka bergantian. "Tidak ada yang perlu dijelaskan, kan?" Nada suaranya pelan, tapi mengandung penegasan.
Jennie menunduk, tidak berani menatap siapa pun. Tae hanya tertawa kecil, lalu menutup album foto. "Ya. Tidak ada yang perlu dijelaskan. Setidaknya untuk sekarang."
Malam itu berakhir dengan suasana lebih dingin dari biasanya. Jennie pulang dengan kepala penuh kecemasan, sedangkan Tae hanya mengantarnya dengan tatapan yang sulit dibaca, dan begitu tenang.
Di balik sikap tenangnya, jelas bahwa Tae sudah mencium sesuatu.
•••
KAMU SEDANG MEMBACA
♡𝐉𝐞𝐧𝐒𝐨𝐨 𝐬𝐡𝐨𝐫𝐭 𝐬𝐭𝐨𝐫𝐲 𝐜𝐨𝐥𝐥𝐞𝐜𝐭𝐢𝐨𝐧♡
Fanfiction[Jensoo's collection of short story lines] Indonesian language. Title List :
