••
Suara alat makan yang bersentuhan dengan piring porselen memantul pelan di ruang makan. Lampu gantung berwarna hangat menyinari meja panjang yang ditata sederhana. Jennie menyajikan sup krim labu dan roti panggang keempatnya, dengan gerakan tenang dan efisien, seolah makan malam itu adalah rutinitas, bukan pertemuan yang sudah sekian tahun tertunda.
Jisoo duduk di ujung meja, tubuhnya tegak, mata menatap mangkuk di hadapannya. Ia menyeka tangannya dengan serbet walau tak benar-benar kotor, sekedar untuk menyibukkan diri dari ketegangan yang terasa. Di sisi lain, Ahyeon dan Rora duduk bersebelahan, diam tapi tak lagi saling bermusuhan. Rora tampak gelisah, namun kini lebih terkendali, dan Ahyeon sesekali mencuri pandang ke arah Jennie.
Jennie duduk terakhir, setelah memastikan semua makanan tersedia. Ia mencicipi supnya, lalu mendongak. "Kurasa rasanya tidak banyak berubah," ucapnya tenang, tapi ada nada ingin tahu dalam suaranya. Mata Jennie sekilas melirik Jisoo.
"Masih enak seperti dulu," jawab Jisoo perlahan. "Kau selalu punya takaran tepat untuk pala."
Jennie mengangkat alis, nyaris tersenyum. "Aku pikir kau tidak pernah memperhatikan sedetail itu."
"Aku mungkin tak menunjukkannya," balas Jisoo, tatapannya jatuh pada sendok. "Tapi bukan berarti aku tidak ingat."
Ahyeon dan Rora saling melirik. Suara mereka merendah, mencair dalam obrolan orang dewasa yang entah ingin diabaikan atau diam-diam disimak.
Jennie menyandarkan punggung ke kursi, mengambil napas. "Jisoo... aku harus tahu. Apa yang sebenarnya kau cari waktu itu?"
Jisoo mengangkat kepala. Suaranya tenang, tapi ada retakan kecil di ujungnya. "Jawaban itu tak pernah berubah. Aku bodoh. Aku pikir aku kehilangan sesuatu dalam diriku, dan mencoba mencarinya di tempat lain."
"Kau tidak kehilangan," balas Jennie tajam. "Kau meninggalkan."
Jisoo tidak membantah. "Ya."
Sunyi menyusul, hanya disela oleh suara Rora yang mengaduk supnya dengan malas, lalu bertanya dengan nada sengaja dibuat ringan, "Ini sup yang biasa Ibu masak ketika Ayah ulang tahun, ya?"
Jennie mengangguk. "Kamu masih ingat?"
Rora mengangkat bahu. "Aku hanya ingat Ibu yang terlalu repot memotong roti menjadi bentuk bintang."
Jennie tersenyum kecil. "Aku pikir kalian akan senang. Ternyata hanya aku yang merasa lucu."
Ahyeon tertawa pelan. "Aku suka roti itu. Aku simpan bentuknya sebelum dimakan."
Jisoo ikut tersenyum, tapi senyum itu pudar cepat ketika Jennie bertanya, tanpa melihatnya, "Apa dia masih bersamamu?"
Pertanyaan itu menggantung, seperti tanya yang tak memerlukan jawaban, namun tetap harus dijawab.
"Tidak," jawab Jisoo kemudian. "Setelah perceraian kita, kami hanya bertahan satu tahun."
"Dan kau kehilangan kami jauh lebih lama dari itu," ucap Jennie, matanya menatap lurus ke piringnya.
"Aku tahu." Suara Jisoo seperti menelan duri.
Jennie menyentuh gelas airnya, mengangkatnya sebentar tapi tidak jadi minum. "Terkadang, aku bangun di malam hari dan berpikir... semua ini hanya jeda. Bahwa kau hanya pergi ke luar kota. Bahwa suatu hari kau kembali, mengetuk pintu, dan mengatakan: ‘Maaf, aku keliru jalan.’"
Jisoo menatapnya, lama.
"Jika aku bisa mengetuk kembali dan kau izinkan, aku akan. Tapi aku juga tahu aku tak bisa menuntut pintu itu terbuka untukku lagi."
KAMU SEDANG MEMBACA
♡𝐉𝐞𝐧𝐒𝐨𝐨 𝐬𝐡𝐨𝐫𝐭 𝐬𝐭𝐨𝐫𝐲 𝐜𝐨𝐥𝐥𝐞𝐜𝐭𝐢𝐨𝐧♡
Fanfiction[Jensoo's collection of short story lines] Indonesian language. Title List :
