3. THE SECOND WIFE -End.

669 102 19
                                        

Beberapa Hari Setelah Kunjungan Orang Tua Jennie

Rumah besar itu tetap hangat di pagi hari, tapi kehangatan itu seolah hanya berasal dari sinar matahari yang menyusup lewat jendela, bukan dari interaksi di dalamnya. Jennie menyadari itu. Sudah tiga hari Irene tak banyak bicara padanya. Semua percakapan hanya sebatas perlu.

Jennie tengah duduk di meja makan, menyuapi Jiwoo yang mulai belajar makan bubur. Jisoo keluar dari ruang kerja, mengancingkan lengan kemejanya.

"Aku harus ke kantor sekarang. Ada rapat direksi jam sepuluh," ujar Jisoo sambil mengecup kepala Jiwoo.

Jennie mengangguk, lalu melirik ke arah dapur di mana Irene sedang mencuci gelas. Punggungnya tampak tegang.

"Unnie, aku simpan bubur sisanya di kulkas ya. Mungkin nanti Jiwoo menginginkannya lagi," ujar Jennie mencoba terdengar biasa.

"Ya," sahut Irene datar, bahkan tak menoleh.

Jennie menggigit bibirnya. Ia merapikan mangkuk dan berjalan pelan ke dapur, berdiri di samping Irene yang masih menunduk menatap wastafel.

"Aku tidak tahu apa aku salah bicara waktu itu... di depan orang tuaku," bisik Jennie pelan sambil menatap wajah samping Irene.

"Aku tidak mempermasalahkan itu," sahut Irene tanpa ekspresi.

"Tapi kau tidak pernah sedingin ini sebelumnya... Unnie bahkan tidak melihat Jiwoo sejak kemarin. Dia mencarimu," ujar Jennie dengan nada lembut.

Irene diam. Ia mematikan keran, mengelap tangannya, lalu melangkah keluar tanpa menatap Jennie.

"Aku sedang banyak pikiran. Tolong jangan dibesar-besarkan," kata Irene singkat, sambil berlalu menuju kamar.

Jennie menatap punggungnya yang menjauh, mencoba mencari isyarat, petunjuk, atau apapun yang bisa dijadikan pegangan. Tapi yang ada hanya kekosongan.





~





Malam Hari

Jennie membuka pintu kamar perlahan. Irene sedang membaca buku di tempat tidur, tapi begitu melihat Jennie, ia menutupnya dan menoleh ke arah lain.

"Aku tidak bisa tidur jika kau seperti ini terus. Tolong... katakan ada apa," ucap Jennie, terdengar memohon.

"Sudah kubilang, tidak ada apa-apa," jawab Irene dengan nada terkendali.

"Unnie, kau bukan tipe orang yang diam jika memang ada yang mengganjal. Tapi sekarang kau bahkan seperti menghindar."

"Jika kau sudah tahu seperti apa aku, tolong beri aku ruang."

"Ini bukan soal ruang, ini soal kau memutuskan menarik diri dari rumah ini. Dari aku."

Irene menoleh sebentar, lalu kembali mengalihkan pandangan.

"Maaf, aku lelah."

Jennie menunggu. Tapi tak ada kelanjutan. Tak ada argumen. Tak ada pernyataan yang bisa menjadi celah penyelesaian.

Akhirnya, ia melangkah keluar dari kamar, menutup pintu perlahan. Di luar, ia bersandar di dinding, memeluk dirinya sendiri. Hatinya menegang, seperti benang yang ditarik terlalu keras. Ia menatap lampu lorong yang menyala temaram.

Lalu berucap dalam benak, "Jika begini caramu menjauh, Unnie... bagaimana aku harus bertahan?"









•••









Beberapa pekan kemudian.

Pagi itu mendung menggantung di atas atap rumah mereka. Suasana dalam rumah sunyi, bahkan Jiwoo, yang biasanya merengek meminta perhatian, hanya tertidur tenang dalam dekapan dunia yang belum tahu apa-apa.

Jennie duduk di meja makan, menatap segelas teh hangat yang disiapkan oleh Irene pagi-pagi tadi—hal yang jarang dilakukan akhir-akhir ini. Ia sempat ragu untuk meminumnya. Tapi ada sesuatu dalam dirinya yang menginginkan sedikit kebaikan dari sang istri tua, walau kecil.

"Mungkin ia mulai luluh. Mungkin ini permulaan dari akhir dingin di antara kami," ucap Jennie dalam benak.

Ia menyesap perlahan. Aroma melati samar menguar, menenangkan. Ia menatap jauh ke halaman belakang. Cahaya redup dari langit mendesak masuk lewat celah tirai, membuat segalanya tampak seolah tak nyata.

Beberapa jam kemudian, Jennie ditemukan tak sadarkan diri di ruang baca, tubuhnya rebah miring, napasnya lemah. Jisoo panik, membawanya ke rumah sakit. Tapi takdir seperti sudah menyusun akhirnya.

Jennie menghembuskan napas terakhirnya malam itu.

Pihak rumah sakit menyebutkan serangan jantung mendadak. Tak ada yang curiga. Tak ada yang menyelidik lebih dalam. Tubuhnya yang rapuh, tekanan pascamelahirkan, dan beban mental yang konon tak tertanggungkan, menjadi penjelasan yang mudah dipercaya.

"Dia terlalu lelah... terlalu banyak yang ia tanggung sendiri," gumam Jisoo dengan suara parau, sambil menggenggam tangan dingin Jennie di ranjang putih.

Irene berdiri tak jauh, diam. Ekspresinya tenang, seolah sedang menyaksikan akhir dari drama panjang yang melelahkan. Tidak ada air mata. Hanya sorot mata yang sulit dijabarkan.




~




Malam setelah pemakaman.

Irene berdiri sendiri di balkon kamar. Angin malam mengusap rambutnya yang tergerai rapi. Di tangannya segelas air putih, dingin dan tanpa rasa. Ia menatap langit yang tak berbintang.

Di dalam kamar, Jiwoo sudah tidur. Dunia bayi itu masih bersih dari kecurangan dan manipulasi. Ia bernapas pelan dalam buaian.

Irene berbicara pelan. Tak ada siapa-siapa yang mendengar—

"Sudah selesai. Sudah selesai tugasmu di sini, Jennie... Selamat tinggal."

Tak ada senyum, tak ada rasa bangga, hanya kelelahan panjang yang menetap di matanya.

Ia tahu apa yang ia lakukan. Ia tahu niatnya sejak awal. Saat ia menyetujui pernikahan kedua itu, hatinya tak pernah benar-benar rela. Tapi ia melihatnya sebagai jalan satu-satunya untuk menjadi seorang ibu. Ia tidak bisa memiliki anak, namun ia bisa memiliki anak itu—meski harus melepas sang ibu.

Dalam minggu-minggu menjelang akhir, ia sengaja menjauh. Membiarkan rasa antara mereka layu dan menepi, agar ia tak goyah. Ia tahu jika ia terlalu dekat, terlalu hangat, niatnya akan luruh. Maka ia mendirikan tembok. Ia memutus benang-benang simpati sebelum semuanya menjadi rumit.

Kini, tak ada yang mencurigai. Tak ada yang tahu. Ia telah menutup rapat niatnya, dan membiarkannya menguap bersama uap teh yang tak lagi ada.

Dan dunia terus berputar, seperti tak pernah terjadi apa-apa.

Jiwoo tumbuh dalam kehangatan Irene. Jisoo tak pernah benar-benar menyelami luka yang tersisa, hanya menyibukkan diri dalam pekerjaan dan peran sebagai ayah. Foto Jennie tetap tergantung di ruang tengah, tersenyum membeku dalam bingkai perak.

Setiap malam, Irene meninabobokan Jiwoo dengan lagu lembut, seperti yang dulu Jennie lakukan. Ia mencium kening putrinya dan berkata pelan:

"Kau hanya butuh satu ibu... dan kini aku di sini."










TAMAT.


Sekian.. janlup VOTEunyaa~

♡𝐉𝐞𝐧𝐒𝐨𝐨 𝐬𝐡𝐨𝐫𝐭 𝐬𝐭𝐨𝐫𝐲 𝐜𝐨𝐥𝐥𝐞𝐜𝐭𝐢𝐨𝐧♡Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang