Malam telah larut, tapi Jennie masih terjaga.
Di kamar yang hanya diterangi cahaya dari layar ponselnya, ia membaca ulang nama itu-Kim Jisoo. Nama yang seharusnya asing, tetapi terasa begitu akrab di lubuk hatinya.
Sementara keadaan saat ini:
Jennie dengan kemelut pikirannya, sementara Jisoo yang kini melayang-layang di apartemennya dengan sikap santai. Membuat Jennie melayangkan tatapan jengkel ke arahnya.
Namun kemudian tatapannya melunak, bercampur dengan pikirannya yang sibuk.
Sejak awal, ada sesuatu yang tidak beres. Jisoo tampak nyaman bercanda, tapi ada sesuatu di matanya-sekilat kesedihan yang selalu terselip di antara tawa.
Dan sekarang Jennie berpikir bahwa,
mereka mungkin memang pernah bertemu.
Mereka mungkin pernah dekat.
Dan mungkin ia telah melupakan semuanya.
~
Siang harinya, Jennie pergi ke rumah sakit dengan perasaan tidak menentu. Ia harus mencari tahu lebih dalam.
Begitu sampai, ia langsung menuju arsip medis lama. Sebagai dokter, ia punya akses ke catatan pasien, tetapi kali ini, ia mencari sesuatu yang lebih dari sekadar informasi biasa. Ia mencari potongan hidupnya yang hilang.
Saat akhirnya ia menemukan file medis Jisoo, tangannya sedikit gemetar. Ia membuka lembar demi lembar, membaca diagnosa, riwayat perawatan, hingga akhirnya ia menemukan sesuatu yang membuat jantungnya mencelos.
Dokter Penanggung Jawab: Dr. Jennie Kim
Tangannya semakin erat menggenggam kertas itu.
Ia yang menangani Jisoo.
Ia yang ada di sana saat Jisoo melewati hari-hari terakhirnya?
Kenapa ia tidak ingat?
Saat itulah ingatan-ingatan itu mulai kembali.
Seperti kepingan puzzle yang tercecer, satu per satu potongan kecil dari masa lalunya yang terlupakan mulai menyusun gambaran yang lebih jelas.
Ia ingat Jisoo.
Ia ingat senyumnya, tatapan matanya, caranya tertawa saat mereka mengobrol.
Ia ingat bagaimana hatinya selalu terasa hangat setiap kali ia memasuki kamar itu dan mendapati Jisoo menunggunya dengan mata berbinar.
Ia ingat perasaan yang dulu berusaha ia abaikan-perasaan yang tidak seharusnya ia miliki sebagai dokter.
Tapi ia tidak ingat bagaimana semua itu berakhir.
~~~
Dengan kepala penuh pertanyaan, Jennie kembali ke apartemennya. Begitu masuk, ia menemukan Jisoo tengah duduk di sofa, memainkan remote TV meskipun jelas tidak berfungsi di tangannya.
"Kim Jisoo." Suaranya terdengar lebih tegas dari biasanya.
Jisoo menoleh, mengangkat alis. "Ada apa? Kau terlihat seperti baru saja menemukan bahwa hantu bisa jadi model iklan sabun." Ia tidak menyadari Jennie memanggilnya dengan nama lengkap.
Jennie tidak menanggapi lelucon Jisoo. Ia berjalan mendekat, berdiri tepat di depan si hantu. "Aku ingat sesuatu."
Senyum Jisoo sedikit meredup. "Oh?"
KAMU SEDANG MEMBACA
♡𝐉𝐞𝐧𝐒𝐨𝐨 𝐬𝐡𝐨𝐫𝐭 𝐬𝐭𝐨𝐫𝐲 𝐜𝐨𝐥𝐥𝐞𝐜𝐭𝐢𝐨𝐧♡
Fanfiction[Jensoo's collection of short story lines] Indonesian language. Title List :
