••
Tiga tahun berlalu sejak hari itu—hari ketika Jennie dan Jisoo mengikat janji tanpa gaun mewah, tanpa pesta, tanpa keluarga. Hanya teman-teman dekat yang menyaksikan mereka berpelukan di hadapan seorang petugas catatan sipil, dengan tangan saling menggenggam erat, dan mata yang basah tapi bersinar.
Mereka sudah lama berhenti menunggu restu dari keluarga Jennie. Sejak percakapan terakhir yang menyakitkan, Jennie menutup semua akses—mengganti nomor ponsel, memblokir surel, dan menghapus alamat rumah ibunya dari ingatannya. Sebuah keputusan yang berat, tapi baginya, cinta yang ia perjuangkan bersama Jisoo adalah rumah satu-satunya yang ia pilih dengan sadar.
Dan hari ini, keputusan baru mereka ambil—sebuah mimpi yang sejak lama dipendam dalam diam.
"Kau yakin ingin jadi yang mengandung?" tanya Jisoo malam itu, sambil memeluk Jennie dari belakang, jemarinya membelai perut rata yang belum berisi apa-apa.
"Aku yakin," jawab Jennie pelan. "Aku ingin tahu rasanya membawa kehidupan yang lahir dari cinta kita. Aku ingin merasakan sesuatu yang tak pernah aku dapatkan dari ibuku—rasa memiliki sepenuhnya, tanpa syarat."
Jisoo mencium tengkuk Jennie dengan lembut. Ia tahu, di balik senyum cerah yang sering Jennie tampilkan, masih ada luka masa lalu yang belum benar-benar pulih.
Mereka memilih prosedur medis yang memungkinkan Jennie mengandung dari hasil inseminasi, dengan donor sperma anonim yang melalui seleksi ketat. Semua dilakukan di bawah pengawasan tim medis yang mereka percaya.
Jisoo ikut hadir di setiap sesi konsultasi, menggenggam tangan Jennie sepanjang proses, dan tak pernah absen menyanyikan lagu pelan saat Jennie merasa cemas.
Waktu berjalan, dan bulan kedua kehamilan datang seperti keajaiban yang perlahan menjadi nyata. Jennie berubah—lebih mudah menangis, mudah lapar, dan sering kali merengek ingin es krim di tengah malam.
"Kau ini ibu hamil yang menyebalkan," goda Jisoo sambil menyuapkan potongan mangga dingin ke bibir Jennie.
"Karena calon anak kita pasti manja sepertiku," sahut Jennie sambil menyandarkan kepala di bahu Jisoo. "Tapi janji ya... kau akan tetap cinta kepadaku, meskipun aku gemuk, mudah marah, atau semakin clingy..."
"Jika cinta bisa diukur dengan bentuk tubuh atau emosi, aku pasti sudah lama berhenti," bisik Jisoo. "Tapi nyatanya aku masih di sini, bahkan waktu kau merajuk berhari-hari karena aku melupakan topping pizza kesukaanmu."
Jennie tertawa di antara air matanya yang tiba-tiba mengalir. Hormon kehamilan, katanya. Tapi sesungguhnya, itu rasa syukur yang tak pernah bisa ia ucapkan sempurna.
~
Di minggu ke-16, Jennie melakukan USG. Layar monitor menampilkan gambar kecil yang samar, tapi detak jantung itu jelas terdengar.
Dug dug dug dug...
"Itu... anak kita?" gumam Jennie, menatap layar seolah tak percaya.
"Itu cinta kita," bisik Jisoo, mencium tangan Jennie.
Beberapa menit kemudian, mereka keluar dari ruang pemeriksaan dengan hasil cetak hitam putih di tangan. Di tengah koridor rumah sakit, Jennie berhenti lalu berkata:
"Kau tahu apa yang paling aku sesali sekarang?"
"Apa?"
"Aku berharap aku bisa menunjukkan ini ke ibuku. Bahwa cinta kami bukan dosa, bukan aib. Bahwa cinta kami menciptakan kehidupan."
Jisoo menggenggam tangannya lebih erat.
"Kita akan buat rumah ini cukup hangat, Jennie. Bahkan tanpa restu siapa pun."
KAMU SEDANG MEMBACA
♡𝐉𝐞𝐧𝐒𝐨𝐨 𝐬𝐡𝐨𝐫𝐭 𝐬𝐭𝐨𝐫𝐲 𝐜𝐨𝐥𝐥𝐞𝐜𝐭𝐢𝐨𝐧♡
Fanfic[Jensoo's collection of short story lines] Indonesian language. Title List :
