Happy reading~
🙌🏻
—
—
••
Hujan baru saja reda ketika malam melukiskan kemurungannya di atas permukaan danau yang tenang. Kabut tipis masih menggantung di antara pepohonan, menambah kesan muram pada pemandangan yang sudah cukup memilukan. Derap sepatu seorang petugas patroli terdengar samar di atas tanah basah, langkahnya melambat ketika sorotan senter yang ia genggam menangkap sesuatu di kejauhan.
Sebuah tubuh.
Tergeletak di tepi danau, sebagian tubuhnya tenggelam dalam lumpur dan rerumputan liar yang basah oleh embun. Cahaya senter menyapu wajah itu—atau setidaknya, apa yang tersisa dari wajah itu. Luka lebam menghiasi hampir seluruh permukaannya, bercak darah yang mengering membentuk pola mengerikan di sepanjang pipi dan pelipis. Mata yang terbuka setengah tampak kosong, tanpa cahaya kehidupan.
Jennie Kim.
Begitulah mereka mengenalnya. Sosok yang pernah hidup dalam sorotan, kini menjadi tajuk utama dengan cara yang tragis.
Di bawah langit yang kelam dan ranting-ranting yang bergoyang tertiup angin, tubuh itu berbaring kaku, seolah telah lama berserah pada kematian.
Tombol radio di bahu petugas itu ditekan dengan tangan gemetar. "Saya membutuhkan unit forensik di titik koordinat saya. Kemungkinan kasus pembunuhan."
Dan dalam hitungan menit, suasana berubah. Sirene memecah kesunyian. Garis kuning dibentangkan di sekeliling area, dan para petugas berlalu-lalang, berusaha mengabadikan setiap detail yang mungkin menjadi bukti.
Mayat itu ditemukan dalam kondisi mengenaskan. Lehernya memperlihatkan bekas cekikan yang samar tetapi cukup dalam untuk membekas di kulit pucatnya. Pergelangan tangan dan kaki penuh goresan panjang, seolah ia sempat berjuang sebelum akhirnya takluk di tangan pelaku.
Pakaian yang dikenakannya—sebuah gaun tipis yang dulunya berwarna terang—kini telah ternoda tanah dan darah yang mengering. Aroma kematian bercampur dengan bau tanah basah, menyebar bersama angin malam, menciptakan suasana yang begitu pekat dengan kesedihan dan misteri.
Di sudut lain, seorang wanita berdiri kaku.
Wajahnya pucat, matanya dipenuhi ketakutan yang tak bisa disembunyikan. Ia menatap tubuh yang tergeletak di tanah itu seolah dunia runtuh tepat di hadapannya. Nafasnya pendek, tidak teratur, dan kedua tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya.
Jisoo.
Ia adalah orang terakhir yang terlihat bersama Jennie.
Dan kini, di bawah sorotan publik serta tekanan penyelidikan, ia dinyatakan sebagai tersangka utama.
~
PENGADILAN
Ruang sidang dipenuhi bisik-bisik. Suasana penuh ketegangan, atmosfer yang begitu kental dengan ketidakpercayaan dan amarah. Kursi-kursi dipenuhi oleh orang-orang yang ingin menyaksikan jalannya persidangan, sebagian besar adalah wartawan, keluarga korban, serta mereka yang hanya sekadar ingin melihat keadilan ditegakkan.
Di tengah ruang sidang, di antara tatapan yang menyorot tajam seperti belati yang siap mengiris, seorang wanita duduk di kursi terdakwa.
Kim Jisoo.
Ia tetap diam, punggungnya tegak dalam posisi yang nyaris sempurna, tetapi sorot matanya mengisyaratkan kelelahan yang tak terkatakan.
Berminggu-minggu menunggu di dalam jeruji besi telah mengajarkannya untuk tidak bereaksi terhadap pandangan penuh prasangka, tetapi hari ini, di bawah tatapan para hakim, jaksa, dan publik yang menginginkan kepalanya sebagai bentuk keadilan, ia tahu tidak ada pelajaran yang cukup untuk mempersiapkannya menghadapi momen ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
♡𝐉𝐞𝐧𝐒𝐨𝐨 𝐬𝐡𝐨𝐫𝐭 𝐬𝐭𝐨𝐫𝐲 𝐜𝐨𝐥𝐥𝐞𝐜𝐭𝐢𝐨𝐧♡
Fanfiction[Jensoo's collection of short story lines] Indonesian language. Title List :
