Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Happy reading ~ 😽
••
Lampu-lampu neon di klub itu berdebar seperti jantung yang kelewat riuh. Musik menghantam tanpa ampun, membuat siapa pun yang melangkah masuk kehilangan benang pikirannya dalam sekejap. Jisoo sudah muak sejak melangkah melewati pintu, tetapi ia tetap maju—lebih baik tenggelam dalam keramaian daripada duduk di rumah sambil mendengarkan ayah-ibunya membahas calon pasangan yang 'sudah sangat ideal.'
Ia mengambil tempat di meja bar, melepaskan helaan napas panjang, lalu meneguk minuman yang bahkan tidak ia ingat namanya. Kepalanya masih penuh, pikirannya seperti benang kusut. Ia hanya ingin diam, atau lupa, atau keduanya.
Saat ia hendak meminta gelas kedua, seseorang mendekat dengan langkah ragu-ragu. Seorang perempuan berambut cokelat gelap, postur ramping, dan sorot mata yang seakan tidak cocok dengan dunia klub—sorot mata yang terlalu jernih untuk tempat seramai ini.
Perempuan itu tersenyum tipis, senyum yang terasa dipaksakan dari ujung bibir.
"Permisi," ucapnya, suaranya pelan namun berusaha tegas. "Bolehkah aku duduk di sini?"
Jisoo menatapnya sebentar. Terlihat jelas bahwa perempuan itu bekerja di klub ini, cara ia berdiri, cara ia menunggu reaksi, dan cara ia menjaga jarak. Tapi ada sesuatu yang berbeda… sesuatu yang canggung.
"Kau bekerja di sini?" tanya Jisoo tanpa basa-basi.
Perempuan itu mengangguk singkat. "Ya."
"Nama?"
"Jennie."
Jisoo mengangguk pelan, lalu memandang wajah Jennie lebih lama daripada yang ia rencanakan. Perempuan itu tidak menampilkan persona menggoda seperti para pekerja lain di ruangan itu. Ia justru tampak kaku, seperti seseorang yang baru belajar menjalankan peran yang tidak ia inginkan.
"Duduklah," kata Jisoo akhirnya.
Jennie duduk perlahan, seakan takut melakukan kesalahan. Ia merapikan rambutnya yang sebenarnya tidak berantakan. Tangannya gugup, tetapi matanya tetap menatap langsung, meski hanya sebentar-sebentar.
Jisoo tidak tahan. "Kau tampak seperti orang yang tidak ingin berada di sini."
Jennie menghela napas—pendek, tapi cukup untuk memperlihatkan beban yang ia simpan. "Aku... tidak punya banyak pilihan."
"Banyak orang tidak punya pilihan," sahut Jisoo. "Tapi kau tampak seperti orang yang masih berusaha menolak kenyataan itu."
Jennie terdiam. Ia tidak menyangkal, namun juga tidak mengafirmasi.
"Kenapa kau bekerja di sini?" tanya Jisoo, suaranya lebih lembut, meski ia tidak bermaksud begitu.
Jennie menatap meja, lalu menjawab perlahan, "Aku punya tanggungan. Tidak ada pekerjaan lain yang bisa membayar secepat ini."