Happy reading, lov 😗
🩷🩷🩷
~
Restoran mewah di tepian kota tampak begitu tenang meski interiornya memancarkan kemewahan. Aroma makanan Prancis memenuhi ruangan, namun bagi Jennie, ini hanyalah tempat lain untuk pertemuan yang membuang-buang waktu. Ia duduk di salah satu meja bundar dekat jendela, mengenakan gaun hitam elegan yang mempertegas karismanya sebagai model papan atas. Matanya tajam, menatap ke arah pintu masuk dengan sedikit rasa kesal.
Ia melirik jam tangan mahalnya, lalu menghela napas jengah. "Kenapa aku harus repot-repot datang untuk ini?" gumamnya pelan, tapi cukup keras untuk didengar seorang pramusaji yang sedang menuangkan air ke gelasnya.
Lima menit kemudian, seorang pria muncul di ambang pintu. Ia mengenakan kemeja putih yang sedikit kusut dengan blazer yang terlalu formal untuk kesan kasualnya. Wajahnya tampak polos, dengan rambut acak-acakan yang seperti baru saja ia rapikan seadanya.
Itu Jisoo. Langkahnya santai, nyaris tanpa beban, meskipun ia tahu bahwa pertemuan ini adalah keinginan mutlak orang tuanya.
Begitu Jisoo melihat Jennie, senyumnya mengembang lebar. Ia menghampiri dengan antusiasme berlebihan, bahkan hampir tersandung kaki meja di tengah perjalanan.
Jennie mendengus, jelas-jelas tidak terkesan.
"Jennie, ya?" sapa Jisoo dengan suara ceria. Ia menarik kursi dan duduk tanpa menunggu persetujuan.
"Aku tahu ini aneh, tapi... ya, sepertinya kita dijodohkan. Lucu, ya?"
Jennie menatapnya tajam. "Lucu? Tidak sama sekali." Suaranya dingin, seperti udara yang baru saja menampar wajah Jisoo.
Namun, Jisoo tampak tak terganggu. Ia mengambil menu di meja dan mulai membacanya dengan ekspresi berlebihan, seolah-olah ini adalah momen terpenting dalam hidupnya. "Wah, restoran ini cukup mahal, ya. Orang tuaku pasti benar-benar serius dengan ini. Oh, ingin memesan apa? Aku yang akan mentraktir. Eh, atau itu sudah pasti, ya? Hehe."
Si perempuan memutar bola matanya. "Apakah kamu selalu seperti ini? Berbicara tanpa berpikir terlebih dahulu?"
Jisoo menurunkan menu dan menatap Jennie dengan wajah bingung, tapi ada sedikit tawa di sudut bibirnya. "Selalu seperti apa? Ramah? Seru? Keren? Terima kasih, ya."
"Tidak," jawab Jennie cepat. "Bodoh."
Jisoo tertawa kecil, membuat Jennie semakin frustrasi. Ia tak mengerti bagaimana pria ini bisa begitu santai dalam situasi yang baginya begitu mengganggu.
Namun, saat hidangan mulai datang dan pembicaraan mereka perlahan-lahan mengalir, meskipun sebagian besar diisi oleh komentar tak berguna dari Jisoo—Jennie mulai menyadari sesuatu. Di balik sikap manja dan kekanakannya, ada sesuatu yang jujur dalam cara Jisoo berbicara. Tidak ada kepura-puraan, tidak ada kesan ingin mengesankan. Ia hanya menjadi dirinya sendiri.
Di sisi lain, Jisoo mulai memperhatikan hal-hal kecil tentang Jennie. Cara perempuan itu memegang gelas anggur dengan anggun, tatapan matanya yang tajam tapi memancarkan rasa penasaran tersembunyi, dan caranya membalas komentar-komentar konyolnya dengan sinis, tapi tidak sepenuhnya dingin.
Ketika makan malam berakhir. Jennie merasa lelah, bukan hanya karena energinya terkuras oleh kegiatannya sebelum menghadiri pertemuan ini, tapi karena menanggapi sikap Jisoo yang ada-ada saja.
Sementara Jisoo, seperti biasa, merasa senang. Sebelum pergi, ia menyelipkan kartu namanya ke tangan Jennie dengan senyum lebar.
"Kamu boleh bilang aku bodoh atau apa pun, tapi aku ini orang yang gigih. Sampai jumpa lagi, cantik."
KAMU SEDANG MEMBACA
♡𝐉𝐞𝐧𝐒𝐨𝐨 𝐬𝐡𝐨𝐫𝐭 𝐬𝐭𝐨𝐫𝐲 𝐜𝐨𝐥𝐥𝐞𝐜𝐭𝐢𝐨𝐧♡
Fanfiction[Jensoo's collection of short story lines] Indonesian language. Title List :
