3. Falling for His Younger Sister

525 99 74
                                        

Keheningan itu terlalu rapat, terlalu menekan, hingga Jennie merasa jika ia tak segera bergerak, ia akan kehilangan dirinya sendiri. Tanpa memberi jeda bagi logika, ia maju setengah langkah, tangannya terulur kasar, meraih garis rahang Jisoo. Sentuhannya tegas, hampir tergesa, lalu ia menarik wajah Jisoo ke arahnya dan menempelkan bibirnya.

Ciuman itu singkat, mengejutkan, nyaris brutal oleh keberanian yang meluap. Tapi yang lebih mengejutkan bagi Jennie—Jisoo tidak menolak. Ia tidak menghindar, tidak mendorong. Hanya diam menerima, bibirnya pasif namun tidak berusaha melepaskan.

Saat Jennie menarik diri, napasnya memburu. Ia menatap Jisoo dengan sorot penuh keyakinan. "Kau menyukaiku juga. Kau tidak bisa menyangkal itu."

Jisoo membalas tatapan itu seperkian detik. Ada pergolakan di matanya, sesuatu yang selama ini ia kubur dengan keras kepala. Tapi kini, dinding itu runtuh. Dengan tiba-tiba ia meraih tengkuk Jennie, membalik keadaan, lalu mencium balik dengan intensitas yang tak memberi ruang untuk ragu.

Bibir mereka bertaut keras, suara benturan kecil terdengar samar. Jennie sempat terkejut, tapi kemudian larut. Ciuman itu membara, penuh amarah sekaligus kerinduan yang akhirnya menemukan celah. Nafas mereka bercampur, sesak dan berisik, menimbulkan bunyi-bunyi basah yang memecah keheningan kamar.

Jisoo menekan lebih dalam, jemarinya merapat di belakang kepala Jennie agar tidak ada jarak yang tersisa. Jennie merespons dengan menggenggam erat bahu Jisoo, seakan takut terlepas. Bibir mereka bergerak saling menuntut, menggesek, menekan, melepas sebentar lalu kembali menyatu dengan suara lembap yang membuat udara di kamar semakin panas.

Setiap kali Jisoo mendesah di sela tarikan napasnya, Jennie merasakan getarannya menyalur langsung ke dadanya. Suara kecil itu, tertahan namun tak bisa sepenuhnya diredam. 

Jennie melenguh pelan, bibirnya masih menempel di bibir Jisoo. Ia mencicipi sisa keberanian dan kegamangan yang bercampur di sana. Sensasi hangat, lembut, sekaligus mengguncang.

Saat akhirnya Jisoo melepaskan tautan itu, suara basahnya terdengar jelas. Nafas mereka terengah, wajah mereka hanya berjarak satu helai rambut.

Jisoo menutup mata sebentar, lalu membuka kembali dengan sorot yang berbeda—bukan lagi sekadar dingin atau menolak, melainkan terbakar oleh sesuatu yang sama sekali tak bisa ia sembunyikan.

"Jennie..." suaranya serak, penuh emosi yang berdesakan. Ia tidak melanjutkan kata-kata itu, hanya menatap dalam, seolah ciuman tadi telah mengatakan segalanya.

Jennie, dengan dada naik turun, berbisik, "Kau bisa menolak dengan kata-kata, tapi tubuhmu... perasaanmu... semuanya sudah menjawab."

Ia menangkup wajah Jisoo dengan kedua tangannya, lalu menempelkan bibirnya lagi, kali ini lebih lembut, lebih dalam. Tidak ada lagi gerakan tergesa seperti tadi, melainkan sebuah penyerahan.

Jisoo merintih kecil, suaranya pecah di sela ciuman. Jemarinya menyusup ke rambut Jennie, menggenggam erat, menarik agar bibir mereka menyatu lebih lama. Ciuman itu makin menuntut, makin rakus, penuh dengan keinginan yang ditahan terlalu lama. Suara basah terdengar setiap kali mereka melepas lalu kembali menempel.

Jennie menempelkan tubuhnya ke dada Jisoo, merasakan detak yang sama kerasnya dengan miliknya. Tangannya beralih dari wajah ke bahu, lalu meraba sepanjang lengan Jisoo, mencari lebih banyak sentuhan. Jisoo bergidik, seakan setiap sentuhan itu membakar kulitnya.

"Aku tidak bisa..." gumam Jisoo di sela tarikan napas, bibirnya masih menyentuh bibir Jennie.

"Kau bisa," sahut Jennie cepat, menekan lagi bibirnya, membuat Jisoo tersedak oleh sensasi. "Kau sudah melakukannya."

Jisoo menutup matanya rapat, menyerah pada desakan itu. Ia mencium lebih dalam lagi, lidahnya akhirnya menembus pertahanan, membuat Jennie mengerang tertahan. Suara lembap semakin jelas, ritme napas mereka berantakan, ruangan temaram penuh oleh desah dan dentum jantung.

♡𝐉𝐞𝐧𝐒𝐨𝐨 𝐬𝐡𝐨𝐫𝐭 𝐬𝐭𝐨𝐫𝐲 𝐜𝐨𝐥𝐥𝐞𝐜𝐭𝐢𝐨𝐧♡Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang